Karena dia tidak sempurna


sempurna

Sebuah kata yang mudah untuk dituliskan dan diucapkan tapi sulit untuk direalisasikan. Sama halnya seperti mencari sebuah kesempurnaan dalam mendapatkan pekerjaan maupun pendamping hidup. Kalau saat ini kita sudah bekerja dan ternyata tempat kita bekerja tidak cocok dan tidak sesempurna seperti apa yang kita bayangkan, maka bisa saja kita keluar/resign dari tempat kerja tersebut. cocok-cocokan. Tapi bagaimana dengan kasus pilihan pasangan hidup? Apa bisa kita seenaknya “keluar” dari tempat kerja (baca: rumah tangga) yang telah disepakati untuk dibina? Saya yakin jawabannya: TIDAK.

Lalu bagaimana?

Mencari sebuah kesempurnaan adalah hal sia-sia. Nihil. Percuma saja melakukan hal itu. Sampai kita tua dan renta pun kita tidak akan pernah menemukan sosok yang sempurna tersebut. Sampai umur sudah menjelang 65 dan belum punya pasangan? tapi mencari yang sempurna? Huhmm.. lupakan saja!

Waktu itu, umur saya sudah menjelang 25 tapi belum juga ada pria yang datang. Sudah ada sih, tapi semuanya masih di bawah kriteria. Kalau saya tetap bersikeras untuk mendapatkan seseorang yang sempurna, saya yakin saya sudah ketinggalan kereta. Saya kemudian sadar, bahwa kata sempurna tidak layak untuk dilekatkan pada manusia karena Kesempurnaan hanya milikNya.

Lantas?

Ya, kemudian saya memutuskan bahwa saya sepantasnya bermuhasabah. Kembali memantaskan diri bahwa jika saya hendak mendapatkan seseorang yang *mendekati* sempurna maka saya pun harus bersikap sama. Kali ini, saya menggunakan pendekatan kata *mendekati* sempurna sebagai ganti kata sempurna karena memang tidak ada manusia yang sempurna.

Umur menjelang 25. Di angka yang sama, Mama saya waktu itu sudah memutuskan untuk hidup berumah tangga. Saya sempat berkeinginan bahwa saya akan menikah di umur yang sama dengan ketika Mama saya menikah. Tapi waktu itu, tampaknya harapan akan sia-sia. Bukan manusia jika dia berhenti berusaha dan berharap. Tepat ketika saya memulai babak pendidikan sekolah lanjutan S2 saya, saya di kenalkan dengan dia. Tidak terjadi apa-apa, ya setidaknya dari perasaan saya bahwa waktu itu saya tidak merasa apa-apa. Chemistry dan setruman kecil pada pandangan pertama? Biasa saja tuh. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya tidak tau apa yang dia rasakan, mungkin berbeda. Nanti mari kita tanyakan langsung ke dia, mungkin saja dia nanti akan berbagi perasaannya ke kita sehingga kita pun jadi memahaminya.

Dua bulan dia menghilang dan tidak ada kabar. Saya juga sudah mulai sibuk dengan agenda kuliah saya. Masih ingat tentang dia? atau malah lupa? Ya kadang-kadang ingat kadang-kadang lupa. Tak apalah, toh saya juga sudah memutuskan untuk mengambil pilihan S2 yang harus saya selesaikan. Kuliah Senin-Jumat, Sabtu-Minggu saatnya main dan bersosialisasi serta aktualisasi diri. Malamnya kadang saya bekerja. Betapa aktifitas-aktifitas tersebut telah meleburkan ingatan saya pada si dia.

Allah ternyata punya rencana berbeda. Allah sentil saya dan mengingatkan saya bahwa sebentar lagi saya umur 25. Tidak seharusnya saya terus bersibuk-sibuk ria dengan kuliah dan pekerjaan. Ada sesuatu yang harus saya tunaikan. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan sendiri namun perlu kerjasama dari orang lain. Orang lain itulah yang telah saya sebut dengan kata “dia”.

Pendek cerita, dia akhirnya datang sebagai seorang pria di penghujung umur 24 saya, dan menanyakan apakah ada kemungkinan bahwa dia bisa bersama-sama dengan saya untuk menyatukan visi-misi kehidupan. Telusur sana telusur sini dalam waktu sekian lama, akhirnya saya jawab: “IYA”

Siapakah dia?

Kenalkan, namanya Pupung P. Hasan, saya memanggilnya Mas Pupung. Dialah makhluk yang tidak sempurna itu. Dialah yang telah memenuhi kriteria itu. Dialah yang pertama berani datang ke orang tua saya sebagai seorang pria dan meminta saya. Dan dialah dia, yang tidak akan saya minta kesempurnaanya karena tidak ada ruang bagi saya jika dia sempurna. Dia yang akan menjadikan umur 25 saya *mendekati* sempurna. Semoga saya bisa bersama dia dengan cara yang *mendekati* sempurna.

Armita Pupung
Pupung Armita

salam,

-armita

8 thoughts on “Karena dia tidak sempurna

    1. ih pemiiiiii.. duh jadi malu :’> hihihi
      pengen mengabadikan dan membagi dengan yang lain pem, siapa tau bisa bermanfaat buat yang lain.. ^^
      dimana kamu sekarang pem?

      Like

  1. Betul, mbak..
    Nobody’s perfect, itulah sebabnya pasangan pria dan wanita yg sudah berkomitmen slg melengkapi, mengasihi, mengasuh, dan mengasah..

    Seperti kalimat yg pernah saya baca di buku (lupa judulnya, hehe..) :
    “Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria agar menjadi penopang yg sepadan dengannya. Bukan diambil dari tulang kepala untuk menguasainya. Namun juga bukan dari tulang kakinya untuk diinjak-injak”.

    Tak ada yg sempurna..karna memang diciptakan utk saling menopang dan melengkapi 🙂

    Like

  2. Kata katanyaa indah banget.. Jadi terharu.. Padahal simpel tp maknanya dalam.. Ikut berbahagia ya bwt mas pupung ma arminta 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s