Perempuan Malu Mengungkapkan Perasaan


Perempuan yang direpresentasikan dalam judul itu adalah saya! 😛

Hitungan hari menjelang hari H pernikahan, memantapkan saya bahwa saya harus berlatih untuk mengungkapkan perasaan, terutama kepada suami saya kelak. Saya yang selama ini cenderung malu  dan lebih memilih untuk berlindung di balik sisi keperempuan saya, harus lebih memaksakan diri untuk menyatakan yang sebenarnya.

Jujur, saya masih malu. Sepertinya masih belum terbiasa. Haha. Dan selama ini saya memang pelit membagi perasaan saya ke dia. Saya lebih senang menyimpannya untuk saya sendiri dan berencana menceritakannya kepada dia setelah hari pernikahan itu tiba. Cerita bahwa saya ternyata bahagia karena dia memilih saya untuk di jadikan calon istrinya. Padahal dia 100% tau bahwa saya sosok yang galak, suka tidur, cuek dan tidak peduli. Eh ternyata dia pantang mundur dan terus berusaha mewujudkan visi misinya untuk hidup bersama saya…

Tapi akhirnya tulisan ini muncul juga. Saya menulisnya disini sebenarnya supaya dia tau bahwa saya tidak membenamkan dia, tapi saya hanya menundanya untuk sementara sampai suatu saat nanti saya akan bersama dia. Tulisan ini juga sebagai bentuk pelarian saya bahwa sampai tulisan ini dibuat, ternyata saya belum berani menyatakan perasaan ke dia.

Sepertinya tidak hanya saya yang menyembunyikan perasaan. Most women do hide their feelings when fall in love with men. Not only a happy feeling but women also hide their feelings from men when they are upset or hurt. Perempuan kadang berpura-pura bahwa sepertinya tidak terjadi apa-apa.

Why?

Berdasarkan survei kecil-kecilan atas diri pribadi saya, jawabannya karena perempuan punya perasaan like a rollercoaster. Perasaan yang cepat sekali berubah, sekarang senang dan bisa saja 5 menit kemudian langsung berubah jadi sedih tersedu-sedu. Perasaan ini tidak selalu berkaitan dengan orang lain/pasangannya. Kadang  cenderung berkaitan dengan sesuatu yang sebenarnya belum di ketahui oleh si perempuan itu sendiri. Tidak jelas perasaan itu tertuju siapa, misalnya: marah/kesal karena faktor A, justru melampiaskannya ke B. Masih ada pula sisi kekanak-kanakan dari perempuan yang harus lebih didalami dan dilihat dari berbagai sisi. Nanti akan terlihat cahaya berbeda itu.

Perempuan juga berharap bahwa pria sebaiknya mengerti perasaan perempuan, tanpa perlu mengatakannya. This is what we called with women ego. No sense, but it works sometimes. To me, it is personally bothering. Perasaan ini memang rentan dan menganggu kedua belah pihak.

Fitrah wanita, begitulah.. Keistimewaan wanita dengan 9 perasaan dan 1 logikanya. Perasaan yang harus saya maintain sehingga bisa menimbulkan kepositifan bagi kedua belah pihak. Tidak menghindari konflik namun hanya meminimalisir probability-nya. Jika ada perselisihan sekarang, itu merupakan latihan-latihan kecil dari kedua belah pihak bagaimana nanti mengatasi persoalan rumah tangga yang pasti lebih beragam. Semoga mulai hari ini, saya lebih berusaha untuk menata perasaan, hati, dan tingkah laku saya dalam bertatabahasa dan berkomunikasi dengan dia. Mohon doanya, semoga lancar sampai hari itu tiba dengan sedikit perselisihan dan kelak juga bahagia sampai tua! 🙂

Rekan (terutama yang wanita), kalian pasti pernah menyembunyikan perasaan kan? kenapa sih? share yuk..

Salam, 🙂

– Armita

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

pesan sponsor:

Sebulan lagi!!

Untuk rekan-rekan semua, terutama yang cowok-cowok nih,, maaf ya, I’m not single and I’m not available. Buat kalian yang dulu ngefans sama saya, pintu sudah ditutup oleh Pupung P. Hasan. Kalian semua sudah telat dan ternyata hanya Mas Pupung yang berani maju secara jantan ke hadapan Bapak saya ( –pede bener sih aku-)

🙂 🙂 🙂

8 thoughts on “Perempuan Malu Mengungkapkan Perasaan

  1. wakakakakakakakakakak….. hebat,, hebat… hebat… gara2 labil kemaren jadi bkin tulisan di blog dah….. like this lah….

    Like

  2. suka dg tulisan…”wanita dg fitrahnya”…hehehehe..pembelaan diri dari seorang wanita (baca:saya) yg juga sering menyembunyikan perasaannya saat marah, senang atau bahagia. Cenderung menghindari konflik, salah satu penyebabnya. Personally, lebih terlihat dari body languange, terutama bagi kita yg ekstrovert, terlihat sekali dari raut muka atau gerak tubuh yang menyiratkan ketidaksukaan. Aih, jadi ingat masa-masa dimana suami juga sedang pedekate…. 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s