Menyambut Kelahiran Akmal (1)

Menyambut Kelahiran
37 Minggu

Dulu saya selalu membayangkan bahwa proses melahirkan itu menyakitkan. Membayangkan kepala bayi yang besar keluar dari lubang super kecil itu sepertinya mustahil.

Ternyata saya berhasil membuktikan bahwa melahirkan itu tidaklah menyakitkan seperti orang luar sana katakan. Saya juga berhasil membuktikan bahwa lubang kecil itu berhasil di lewati oleh bayi mungil saya.

Proses itu dimulai ketika Mei 2011 saya dinyatakan positif oleh testpack. Garis dua berjajar tanda ada kehidupan di dalam rahim saya. Bahagia? tentu iya. Apalagi ini adalah yang pertama untuk keluarga saya. Kehamilan pertama, anak pertama, cucu pertama dan tentu saja pengalaman pertama.

Bulan-bulan berikutnya kami isi dengan pemberdayaan diri mensiasati kehamilan yang menyenangkan, mempersiapkan proses melahirkan yang nikmat, dan bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak kelak.

Karena kami orang rantau yang harus tinggal jauh dari orang tua, maka internet dan tetangga adalah kerabat terdekat kami pengganti orang tua. Jika ada masalah terkait dengan kehamilan, rujukan pertama adalah internet dan setelah itu tetangga. Baru kalau ada masalah yang agak berat atau mau curhat, saya baru telpon orang tua.

Sampai entah bagaimana caranya *saya lupa* saya menemukan sebuah komunitas bernama GBUS di Facebook. Di grup ini banyak sekali informasi mengenai kehamilan dan proses melahirkan. Dari grup ini, saya belajar menjalani kehamilan dengan energi positif, tetap tenang dan tidak panik. Begitupun proses melahirkan yang seharusnya berlangsung dengan perasaan senang dan proses yang lembut tanpa banyak intervensi yang tidak perlu.

pemberdayaan diri
Suami ikut baca buku Hypno-birthingnya Bu Lanny Kuswandi

Maka dengan bermodal ilmu dari GBUS, buku gentlebirth, konsultasi rutin dengan dokter, dukungan suami dan keluarga, dan keyakinan diri atas fitrah wanita, saya bertekad untuk melahirkan normal.

Sejak kehamilan menginjak 4 bulan, saya dan suami sudah mondar-mandir cari referensi tempat melahirkan yang cocok dengan kami. Tentunya tempat tersebut harus:

  • Feels like home. Tempatnya harus tenang, tidak berisik.
  • Tenaga kesehatan yang handal, lincah, dan berpengalaman. Tidak harus dokter, bidan pun boleh.
  • Jangkauan dekat dari rumah. Kalau sudah ada tanda-tanda melahirkan bisa langsung menuju TKP tanpa banyak waktu terbuang di jalan. Apalagi Bandung sering macet tanpat terduga sebelumnya.
  • Harga sesuai dompet dan bisa reimburse ke ASKES.

Sampai umur kehamilan 37 minggu, sudah banyak tempat melahirkan yang kami kunjungi. Tapi cuma beberapa yang nyantol di hati yaitu RSIA Hermina Arcamanik (tempat kontrol bulanan), RB Ummi Daliyah (klinik pribadinya dr. Lina Karlina, SpOg), RS Al Islam (karena kerjasama dengan ASKES), dan BPS Cinta Bunda (dekat dari rumah).

Pengen sih bersalin di RSIA Hermina Arcamanik, tempatnya bagus, baru, pelayanan juga sip. Puas deh dengan pemeriksaan bulanan yang selama ini dilakukan. Tapiii.. harganya kok mahal ya, jaraknya juga lumayan jauh dari rumah. Uhm.. gak jadi deh.

Kami juga sempat terpikir untuk bersalin di RB Ummi Daliyah. Tempatnya hommy, sesuai dengan keinginan kami. Tenaga kesehatannya juga mendukung untuk gentlebirth. Saya dan suami sudah sempat menyampaikan birth plan kami ke mereka. Tapi sepertinya kami belum berjodoh karena lokasinya juga masih tergolong jauh.

RS Al Islam Bandung. Boleh.. Apalagi ada ASKES. Suami adalah seorang PNS, dimana ASKES selalu jadi andalan apabila ada masalah dengan kesehatan. Lokasinya ada di Jalan Soekarno Hatta, masih friendly lah untuk dijangkau. Masalah harga? Tidak terlalu mahal. Tapi kok ya crowded banget ya. Berisik. Mungkin karena ini RS umum yang banyak melayani pasien dan bukan khusus untuk melahirkan saja, jadinya rame banyak orang hilir mudik.

Di umur kehamilan 35 minggu, teman suami cerita bahwa ada sebuah klinik bersalin di dekat rumahnya yang lumayan bagus. Tempatnya tenang, tenaga medisnya cukup handal, harganya tidak mahal, bisa waterbirth, melahirkan di selingi alunan ayat suci Al Quran, dan dekat dari rumah. Cocok dengan harapan kami. Namanya BPS Cinta Bunda dengan bidan praktek adalah Bidan Siti dibantu oleh beberapa asisten bidan.

Dan di BPS Cinta Bunda kami kemudian memantapkan segenap hati dan kekuatan untuk bertemu sang buah hati. Di sinilah perjalanan itu dimulai.

[Bersambung]

Comments

  1. […] tulisan saya sebelumnya mengenai proses kelahiran […]

  2. putimanira says:

    mba rb ummi daliyah dimana ya? boleh minta infonya gak, thanks

    1. RB Ummi Daliyah ada di Cisaranten, Bandung..

      1. Yogi permadi says:

        Maaf mba kalau biaya usg nya berapa disitu mba

        1. Sekitar 100rb kalau gak salah

  3. […] jelas dalam ingatan saya, bagaimana proses melahirkan anak pertama saya, Akmal Albyaksa Hasan (baca Menyambut Kelahiran Akmal 1 dan Menyambut Kelahiran Akmal 2). Saya sempat mengalami pendarahan sehingga saya kehilangan banyak […]

  4. […] Menyambut Kelahiran Akmal (1) […]

  5. […] pengalaman melahirkan anak pertama dulu dan proses pemberdayaan diri yang saya pelajari untuk bisa melahirkan dengan lembut (gentle […]

  6. […] uang ini sama dengan pas melahirkan Akmal kemarin. Biaya lahirannya dikurangi Rp 600.000. Bedanya, kalau pas melahirkan Akmal, kami harus full […]

  7. […] Baca: Menyambut Kelahiran Anak Pertama […]

  8. […] jelas dalam ingatan saya, bagaimana proses melahirkan anak pertama saya, Akmal Albyaksa Hasan (baca Menyambut Kelahiran Akmal 1 dan Menyambut Kelahiran Akmal 2). Saya sempat mengalami pendarahan sehingga saya kehilangan banyak […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *