Cara Mengobati dan Mencegah TB Resistan Obat


“Na, tampaknya kamu terlihat lebih segar sekarang. Sudah sembuhkah?”

“Alhamdulillah sekarang aku merasa lebih baik Mit.”

“Obatnya tetap kamu minum kan?”

“Gak Mit, aku kan sudah sembuh”

***
Begitulah kira-kira obrolan singkat saya dan Nana (bukan nama sebenarnya) siang itu. Nana dulu adalah teman satu kos saya yang malangnya sekarang dia menderita TB (Tuberkulosis) dan sudah menyerang parunya. Sejak didiagnosis menderita TB, Nana harus menjalani serangkaian pengobatan selama enam bulan.

Nana setiap hari harus meminum obat TB yang telah diresepkan oleh dokter, tak boleh terlewat satu hari pun. Otomatis, setiap pergi kemana-mana, Nana harus membawa serta obatnya. Merasa sudah sembuh dan kerepotan harus membawa obat terus-menerus, Nana pun memutuskan untuk berhenti minum obat. Padahal pengobatannya baru berjalan 3 bulan, separuh masa dari waktu pengobatan keseluruhannya.

Nana hanya satu contoh penderita TB yang tidak disiplin untuk menuntaskan pengobatan penyakit TBnya. Ada sekitar 1.947 penderita lain yang bernasib sama dengan Nana. Karena tidak menyelesaikan pengobatan penyakit TBnya, Nana berpotensi resistan terhadap obat anti TB (TB Resisten Obat). 

Apa sih TB Resisten Obat?

TB Resisten Obat adalah TB yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang telah mengalami kekebalan terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Jadi kalau sudah kena TB Resisten Obat, si kuman nakal ini tidak bisa lagi dibunuh dengan obat-obatan yang biasanya digunakan dalam pengobatan TB. Wah, berbahaya sekali ya.

Kenapa Kuman TB Bisa Jadi Resisten?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kuman TB menjadi resisten, misalnya:

Pasien

  • Pasien yang tidak teratur dalam mengkonsumsi obat dan yang tidak menyelesaikan pengobatan seperti yang telah diarahkan oleh petugas kesehatan, contohnya Nana, yang hanya meminum obat selama 3 bulan.
  • Pasien yang memiliki riwayat berulang menderita TB Resisten Obat.
  • Pasien yang terlambat didiagnosis menderita TB Resisten Obat.
  • Pasien yang tertular langsung dengan penderita TB Resisten Obat.
  • Pasien yang berada di lokasi dengan beban TB Resisten Obat yang tinggi.
  • Rendahnya pengetahuan pasien mengenai TB Resisten Obat

Petugas Kesehatan. Petugas kesehatan tidak memberikan pengobatan dengan tepat, misalnya: tidak tepat dosis, tidak tepat jangka waktu pengobatan, tidak memberikan panduan pengobatan yang tepat, dan tidak memastikan kualitas obat.

Suplai obat yang tidak lancar.

Lalu bagaimana cara penularan TB Resistan Obat ini? Apakah sama dengan penularan kuman TB pada umumnya?

Yap betul, kuman TB Resistan Obat ini menular dengan cara yang sama dengan kuman TB pada umumnya melalui kontak langsung dengan penderita TB misalkan melalui tetes ludah, dahak, batuk, dan luka di kulit.

Orang yang tertular kuman TB Resistan Obat ini dapat menderita TB dan berpotensi berkembang menjadi sakit TB MDR (Multi Drug Resistant Tuberculosis) karena di dalam tubuh orang tersebut terkandung kuman TB MDR. Nah bahayanya, penderita ini dapat menularkan kuman TB Resistan Obat kepada orang-orang yang ada disekitarnya.

Apakah semua orang beresiko terkena TB Resistan Obat?

Bisakah TB Resistant Obat di sembuhkan
Ilustrasi dibuat sendiri oleh penulis

Iya, semua orang memiliki peluang untuk terkena TB Resistan Obat. Tapi, biasanya, TB Resistan Obat ini lebih cenderung menyerang orang yang:

  • Tidak disiplin karena tidak menelan obat TB secara teratur atau seperti yang disarankan oleh petugas kesehatan. Misalnya seharusnya obat dikonsumsi setiap hari, namun pada kenyataannya obat hanya diminum 2 atau 3 hari sekali.
  • Tidak tuntas dalam pengobatan sebelumnya sehingga pasien harus menderita sakit TB berulang serta mempunyai riwayat mendapatkan pengobatan TB sebelumnya
  • Datang dari wilayah yang mempunyai beban TB Resistan obat yang tinggi misalnya dari daerah Indonesia bagian timur seperti Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. 
  • Melakukan kontak erat dengan seseorang yang sakit TB Resistan Obat.

Seandainya Nana menuntaskan pengobatan sakit TBnya, maka urusan tidak akan menjadi semakin runyam. Bayangkan, Nana berpotensi menderita TB resistan obat dan Nana harus mengulangi pengobatannya dari awal. Bukankah ini hal yang merepotkan karena menyita waktu dan juga biaya yang tidak sedikit.

Nasi sudah menjadi bubur. Bubur jangan dibuang, tambahkan kecap, bawang merah, kacang, dan kerupuk supaya enak. Nana sudah terlanjur memutuskan untuk berhenti meminum obat TBnya. Namun, bukan berarti Nana tidak bisa sembuh. Penderita TB Resistan Obat tidak perlu takut, karena ini bisa disembuhkan. Nana bisa sembuh dan kembali tersenyum. Dekati pasien-pasien seperti Nana dan ajak kembali untuk berobat.

Hmmm… memang bagaimana caranya mengobati pasien TB Resistan Obat?

Sehat mahal harganya. Menjadi sehat adalah impian. Nikmat sehat baru terasa bahagia apabila kita telah sakit. Mengobati pasien TB Resistan Obat memerlukan waktu yang lebih lama (18-24 bulan), biaya yang lebih mahal (100 kali lipat), pengobatan yang lebih sulit, obat yang lebih banyak, dan efek samping yang lebih berat.

Untuk mengobati pasien penderita TB Resistan Obat, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Uji laboratorium yang dimaksudkan untuk menganalisis apakah pasien positif mengidap TB Resistan Obat.
  2. Jika hasil laboratorium menunjukkan hasil yang positif maka pasien harus mendatangi petugas kesehatan untuk mengkonsultasikan kondisinya sehingga petugas kesehatan dapat melakukan pengobatan yang sesuai dengan standard. Pasien seharusnya mendapatkan obat yang tepat dosis, tepat jangka waktu pengobatan, panduan pengobatan yang tepat, dan kualitas obat yang baik.
  3. Disiplin menelan obat TB yang telah diresepkan petugas kesehatan secara teratur. Jika obat harus diminum setiap hari, maka pasien wajib mengkonsumsinya setiap hari dan tidak boleh bolong-bolong, misalnya sehari minum sehari tidak.
  4. Tuntas dalam pengobatan sehingga pasien dinyatakan benar-benar terbebas dari kuman TB. Jika petugas kesehatan meresepkan obat yang harus dituntaskan selama 24 bulan, maka turutilah petunjuk dokter dengan cara mengkonsumsi obat selama 24 bulan secara terus menerus.
  5. Melakukan uji laboratorium lagi untuk memastikan bahwa pasien telah sembuh dari TB Resistan Obat. Pengobatan baru bisa dihentikan jika hasil tes laboratorium telah menunjukkan bahwa pasien telah sembuh total dari penyakit TB Resistan Obat.

Dukungan KELUARGA adalah obat terbaik.

Dukungan Keluarga
Keluarga adalah tempat kita kembali

Secara emosional, energi, dan biaya, pengobatan pasien penderita TB Resistan Obat ini sangatlah besar. Pasien setiap hari harus mengkonsumsi obat, tidak boleh terlewat satupun. Kemana-mana pasien harus membawa obat. Jika takut tertinggal, pasien dapat menyimpan obatnya di tas kerja, laci kantor, dashboard mobil, atau tempat strategis lain yang biasa didatangi pasien, just in case pasien lupa membawa obatnya. Secara psikologis, ini sangat menguras emosi pasien. Belum lagi jika pasien malu karena terdiagnosis TB Resistan Obat. Jika ditambah dengan beban pikiran karena biaya pengobatan yang sangat besar (100 kali lipat), ini akan semakin menambah beban emosi pasien.

Jika hal tersebut di atas tidak termanage dengan baik, bisa jadi pasien penderita TB Resistan Obat ini menghentikan pengobatannya di tengah jalan. Sayang sekali. Hal ini tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, pasien membutuhkan dukungan keluarga misalnya anak, istri/suami, dan orang tua, sehingga pengobatannya dapat dilakukan secara tuntas. Peran keluarga disini misalnya:

  • Menyiapkan obat yang harus diminum setiap hari beserta makanan dan minuman pendampingnya. Sepertinya ini perhatian yang sederhana namun memberikan pengaruh luar biasa bagi kejiwaan pasien penderita TB Resistan Obat.
  • Mengingatkan agar tidak lupa meminum obat. Jika pasien penderita TB Resistan Obat harus bepergian keluar kota karena suatu urusan, maka keluarga dapat menyiapkan perbekalan obatnya.
  • Memberikan dukungan, keyakinan, dan menyemangati bahwa pasien penderita TB Resistan Obat dapat disembuhkan.
  • Membantu mencarikan dana tambahan apabila pasien penderita TB Resistan Obat kekurangan biaya dalam pengobatan.

Selain dukungan keluarga, pasien penderita TB Resistan Obat juga memerlukan dukungan dari teman, rekan kerja, tetangga, dan pihak terkait lain serta pendampingan dari petugas kesehatan. Apabila semua prosedur pengobatan telah dilakukan dengan baik dan benar, dukungan keluarga dan petugas kesehatan sudah maksimal, serta doa yang terus dilantunkan, maka tidak ada yang tidak mungkin, pasien penderita TB Resistan Obat pun bisa sembuh. Jika pasien penderita TB Resistan Obat pada akhirnya sembuh, semua orang akan merasa bahagia, tak terkecuali keluarga sebagai lingkungan terdekat.

Bisakah TB Resistan Obat di cegah?

Mencegah TB Resistan Obat
Ilustrasi dibuat sendiri oleh penulis

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka sebelum kita positif terkena TB Resistan Obat kita dapat melakukan beberapa cara untuk mencegah penyebaran TB Resistan Obat, yaitu:

  1. Diagnosis dini di setiap terduga TB Resistan Obat.
  2. Pasien TB harus menuntaskan pengobatannya sehingga mengurangi kemungkinan TB Resistan Obat
  3. Pasien TB dan TB Resistan Obat memakai masker, tidak meludah sembarangan, menutup mulut apabila batuk untuk mengurangi penyebaran kuman TB.
  4. Melancarkan ketersediaan obat TB.
  5. Memaksimalkan peran keluarga dan lingkungan agar senantiasa hidup bersih dan sehat
  6. Melakukan sosialisasi agar pengetahuan masyarakat mengenai TB Resistan Obat bertambah baik oleh pemerintah, swasta, masyarakat umum, sekolah, maupun melalui kampanye tulisan oleh para blogger.

Satu batang lidi tidak akan bisa digunakan untuk menyapu, tapi 100 batang lidi yang dikumpulkan jadi satu dan diikat erat dapat digunakan untuk membersihkan sampah dedaunan sehingga halaman menjadi lebih bersih.

Seperti itulah kita seharusnya dalam mengobati dan mencegah TB Resistan Obat. Bergandengan tangan dan bergerak bersama-sama untuk menemukan dan menyembuhkan pasien TB. Semoga kasus seperti Nana yang drop out dari pengobatan TB tidak akan kita temukan lagi di masa mendatang.

sumber tulisan: http://www.tbindonesia.or.id/tb-mdr/

9 thoughts on “Cara Mengobati dan Mencegah TB Resistan Obat

  1. Bagus sekali tulisannya saya sangat tertarik, sedikit klarifikasi saja pada bagian penularan bahwa TB reguler maupun TB MDR tidak menular melalui luka pada kulit, dan hasil penelitian kuman TB tidk berada dalam ludah atau liur tetapi berada dalam percikan dahak atau droplet, kerena ini penting jangan sampai maysyarakat salah persepsi dan pada ahirnya akan menimbulkan diskriminasi terhadap pasien TB Maupun TB MDR terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s