Ketika Harus Berjilbab di Amerika

KETIKA HARUS BERJILBAB DI AMERIKA

Amerika Serikat adalah negara multikultur dimana masyarakatnya beragam dari segala macam suku, negara, agama, dan warna kulit. Selain itu, masyarakat Amerika adalah masyarakat yang merdeka dan bebas dalam melakukan kegiatan di segala bidang. Apapun bisa dilakukan dinegara yang beribukota di Washington DC ini baik yang bersifat positif maupun negatif selama tidak ada paksaan.

Berkunjung ke negara adidaya semacam Amerika Serikat adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Apalagi ini adalah kunjungan pertama. Tahun 2007 saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah shortcourse di University of California at Davis selama tiga bulan.

Di keluarga saya, tidak ada yang punya pengalaman pergi ke luar negeri sama sekali sehingga mau tak mau saya pergi ke negeri yang memiki 50 negara bagian itu dengan modal nekad. Sempat khawatir juga sih dengar cerita-cerita mengenai perilaku warga AS terhadap umat muslim. Apalagi pasca kejadian 11 September yang menelan ribuan warga Amerika sehingga Amerika semakin waspada terhadap kedatangan umat muslim ke negaranya.

Maka dengan modal nekad dan setelah melewati penerbangan selama 20 jam saya tiba di Bandara Internasional San Fransisco. Saya sudah deg-degan bakal di cecar di bagian imigrasi, terlebih karena saya memutuskan untuk tetap berjilbab sementara teman-teman yang lain justru melepaskan jilbabnya demi untuk lolos masuk ke negeri yang memiliki empat musim ini. Ternyata kekhawatiran saya tidak menjadi kenyataan. Imigrasi Amerika sudah menyediakan karyawan perempuan yang memang khusus ditugaskan untuk memeriksa perempuan. Saya diperiksa dari ujung kaki sampai ujung rambut. Petugas perempuan itu menepuk-nepuk tubuh saya dan memastikan bahwa tidak ada barang terlarang yang saya bawa masuk ke Amerika. Sepatupun harus dilepas karena bisa saja jika saya iseng saya bisa memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Dari Bandara Internasional San Fransisco saya langsung menuju ke Davis, kota di sebelah timur laut San Fransisco berjarak kurang lebih 140 km. Saya di jemput oleh seorang muslimah juga yang berwarganegaraan Pakistan. Dia tidak berjilbab seperti kebanyakan muslimah di negaranya.

Sebulan pertama di UC Davis, saya mendapat banyak pertanyaan seputar jilbab. Apa itu jilbab, mengapa saya harus berjilbab, kapan saya berjilbab, apakah semua perempuan di negara Indonesia berjilbab, bagaimana caranya berjilbab, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang saya tidak mengira akan ditanyakan oleh mereka. Sungguh tinggi rasa ingin tahu dari mereka sehingga saya harus menjawabnya dengan benar. Apabila tidak di jawab dengan benar, saya takut menjerumuskan mereka ke dalam ketidakbenaran dan takut mencoreng nama baik agama Islam.

#MyHijabStory #MerdekaDenganHijab_Armita Fibriyanti - Copy

Sebagai turis yang berkedok mahasiswa, tentunya saya suka sekali berfoto-foto. Ajang narsis? Hmm.. tidak juga sih. Lebih tepatnya saya mengabadikan moment yang cuma sebentar ini, biar bisa saya gunakan sebagai bahan cerita kepada anak-cucu bahwa saya sudah pernah kuliah di UC Davis walaupun cuma sebentar. Saat berfoto, saya kaget saat teman saya menyentuh pundak saya. Saya yang tidak terbiasa di pegang, langsung bereaksi. Kemudian saya jelaskan bahwa di agama Islam tidak boleh bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Mungkin bagi mereka saling menyentuh adalah biasa, tapi tidak dengan saya. Ketika mereka tau bahwa jilbab melindungi kehormatan seorang wanita, teman-teman saya di UC Davis memperlakukan saya semakin baik. Tidak ada lagi sesi pegang – memegang saat berfoto dan tidak ada lagi tepukan di punggung. Alhamdulillah, jilbab melindungi saya dari tindakan asusila.

Suatu hari, saya pernah di ajak oleh rekan saya yang berwarga negara Meksiko untuk bermain ke pantai. Tentunya saya sangat senang ketika ada tawaran jalan-jalan meskipun hanya di pantai. Tiketnya pun gratis. Wow. Saya semakin senang. Gratisan? Kapan lagi. Blacks Beach, we are coming….

Saya tidak tahu dimana posisi Blacks Beach dan apa saja yang di tawarkan oleh pantai tersebut. Karena penasaran, saya cari informasinya melalui google. Oh Tuhan, betapa terkejutnya saya menemukan bahwa pengunjung di pantai tersebut banyak yang tidak mengenakan baju selehai benang pun. Kontan saya langsung menghubungi teman saya dan tanpa pikir panjang membatalkan liburan singkat ke pantai. Tidak mungkin saya yang mengenakan jilbab bermain di pantai yang notabene pengunjungnya justru tidak mengenakan baju. Alhamdulillah, jilbab sudah melindungi saya dari ketidakbaikan.

Budaya merdeka dan menjunjung tinggi kebebasan di Amerika Serikat yang negatif, salah satunya budaya tidak mengenakan pakaian di pantai, sepatutnya saya waspadai dan tidak saya lakukan. Hal ini bisa berakibat kepada free sex. Allah sudah menunjukkan saya melalui jilbab saya bahwa saya tidaklah pantas berada di pantai tersebut.

Dua bulan berikutnya, dengan identitas jilbab yang melekat di kepala saya, saya mudah dikenali sebagai seorang muslimah. Sehingga apabila ada muslimah dari negara lain, mereka pasti mengucapkan salam. Tidak banyak muslimah berjilbab yang menuntut ilmu di UC Davis. Mayoritas mahasiswa di sana adalah American dan warga negara Cina. Selama tiga bulan, saya menjalin pertemanan dengan muslimah dari Pakistan, Sri Lanka, Maroko, Irak, Aljazair, dan juga Malaysia. Alhamdulillah, jilbab memudahkan saya mencari teman yang memiliki latar belakang agama yang sama.

Mengenakan jilbab bukanlah sebuah halangan untuk pergi ke negara lain yang tidak berlatar Islam. Berdasarkan pengalaman saya, jilbab justru melindungi saya dari tindakan yang tidak baik dan mempermudah saya menjalin silaturahmi dengan rekan muslimah yang lain.

Merdeka dengan Jilbab? Mengapa tidak!

***

Oleh: Armita Fibriyanti

Tulisan ini diikut sertakan dalam sebuah lomba yang diselenggarakan oleh HijabographicΒ tahun 2013 lalu dan Alhamdulillahnya mendapatkan kepercayaan sebagai juara favorit dengan jurinya Asma Nadia.. wow banget ya tulisannya disukai sama penulis sekaliber Asma Nadia.. πŸ™‚

Hijabographic

Hijabographic-2

Comments

  1. Wah senangnya ya mbak, berada di lingkungan minoritas tapi yang mayoritasnya masih menghargai… πŸ™‚ semoga begitu seterusnya amiiin…

    1. iya, alhamdulilah,, itu pas dilingkungan kampus, untungnya pada ngerti ^^

  2. rodamemn says:

    huwa keren armita πŸ™‚ lanjutkan menulisnya

    1. hehee.. thx ka dame πŸ™‚

  3. Keren… ceritanya bagus. Nggak salah Asma Nadia menempatkan tulusan ini sebagai pemenang favorit ^^

    1. makasih budhe Ika πŸ™‚

  4. Kereeen banget mak! Congrats ya… Bisa buat nulis buku juga niiih, kayak bukunya Hanum Rais itu loh.

    1. duuu mau banget deh eyke nulis buku spt beliau ^^

  5. angki says:

    Wah Subhanallah saya ketembak jatuh mbak keren” bismillah dah semoga saya bisa memualinya dengan langkah baru…bukan berjilbabnya loh mbak hehe pizz, waaa ngiler mah bisa ke amerika juga…

    1. bismillah.. pasti bisa.. iya dulu ke US saya dapat kesempatan belajar ^^

  6. momtraveler says:

    Eh iya lho mbak bikin lah buku ttg pengalaman selama di US… seru pasti πŸ˜‰

    1. hehe…makasih semangatnya ya mak.. doakan y

  7. nophi says:

    Salam kenal mbak, baru kali ini berkunjung hehehe. Ceritanya bagus banget setuju deh kalau bikin buku πŸ™‚

    1. salam kenal juga.. makasih sudah mampir ya mak.. iya aamin, doakan yg semoga sy segera bertelur πŸ˜€

  8. Adi Pradana says:

    Tetaplah yakin bahwa Allah maha mengetahui…

  9. aira says:

    kunjungan pertama kaya’y nih mak :D,semakin yakin bahwa jilbab bisa melindungi pemakai’y dri ketidak baikan… πŸ™‚

    1. makasih udah mampi mba… iya bener, jilbab is the best lah yaa πŸ™‚

  10. eci says:

    mbak izin copy ya untuk materi rohis di sekola, trims

    1. boleh silahkan, cantumkan sumbernya ya.. nama saya dan alamat blog saya. Boleh loh nanti kalau sudah jadi fotoin ya dan kirim ke saya ^^ Trims πŸ™‚

  11. membaca tulisan mbak,saya jadi ingin tahu bagaimana pengalaman mbak berhijab selama beradi di negeri paman sam?? bagaimana gaya berhijab muslimah disana mbak??? di tunggu bgt sharing nya πŸ™‚ bisakah kita mengobrol via email mbak???

    1. Berjilbab di US alhamdulillah tidak seseram yg dibayangkan. Cuma kitanya aja yang harus lebih kencang memprotek diri kita sendiri. Boleh silahkan bisa email saya armitafibriyanti(at)yahoo(dot)com

  12. Martina says:

    ^_^ makasih banyak ya mbak
    saya sudah mengirim email πŸ™‚
    semoga kita bisa mengobrol banyak mbak
    dan ditunggu sharing serta balasan email dari mbak πŸ™‚

    1. Sudah di balas ya πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *