MENGENAL PENYAKIT KAKI GAJAH, SEORANG BAYI BERCERITA

MENGENAL PENYAKIT KAKI GAJAH, SEORANG BAYI BERCERITA

Salam.

Perkenalkan, nama aku Akmal. Umurku sekarang 13 bulan. Aku baru belajar bicara dan aku sudah bisa jalan loh. Ibu selalu mengikuti aku kemana-mana karena Ibu menjaga aku kapanpun dan dimanapun. Bahkan Ibu bisa mengerti keinginan aku walaupun aku belum bisa bicara.

Uhmm.. aku mau cerita. Beberapa bulan yang lalu, aku diajak Ibu ke Posyandu didekat rumah. Ibu setiap bulan mengajak aku ke Posyandu untuk menimbang berat badan, mengukur tinggi, dan memeriksakan kondisi kesehatan aku.

Ternyata hari itu ada pengobatan gratis untuk menanggulangi penyakit fi-la-ri-a-sis. Adduuh… susah sekali ya ngomongnya. Ada gak ya nama yang lebih gampang sehingga kami para bayi bisa menyebutnya dengan mudah. Dari obrolan para tamu di posyandu, aku jadi tau kalau penyakit ini juga biasa disebut dengan nama Kaki Gajah.

kaki gajah

Hihihi, namanya aneh ya. Kok seperti nama hewan yang tinggi dan besar yang aku lihat di Kebun Binatang Bandung. Ibu cerita, kalau orang yang terkena penyakit ini, kakinya akan membengkak dan besar seperti Kaki Gajah. Oh begitu rupanya.

Keluargaku tinggal di sebuah daerah di Kabupaten Bandung. Tahun 2013 lalu adalah tahun terakhir pengobatan masal penyakit Kaki Gajah di sini. Pemerintah Kabupaten Bandung, selama lima tahun terakhir aktif menggalakkan pengobatan masal penyakit ini karena ada sekitar 30.000 1) warga Kabupaten Bandung yang darahnya mengandung mikrofilia yang bisa menjadi sumber penularan penyakit Kaki Gajah, sehingga diharapkan pengobatan masal ini dapat membebaskan masyarakat dari penyakit Kaki Gajah.

Di Posyandu, ada beberapa poster yang mengambarkan tentang cara penularan penyakit Kaki Gajah, gejalanya, siklus perkembangannya, dan bagaimana cara mencegahnya. Walaupun belum bisa baca, tapi aku bisa loh mengerti dari gambar-gambarnya.

Penyakit ini disebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti yang ditularkan melalui nyamuk. Jika nyamuk mengigit dan menghisap darah orang yang menderita penyakit kaki gajah, dan kemudian si nyamuk nakal ini menggigit orang lain, maka orang ini bisa tertular.

Ketika menggigit, si nyamuk akan memindahkan cacing dari tubuhnya ke tubuh orang yang sehat ini. Di dalam tubuh orang ini, si cacing akan tumbuh dan menginfeksi kelenjar getah beningnya. Cacing jahat ini bisa bertahan di dalam tubuh manusia selama 10 tahun loh, lama ya.. sehingga penyakit gajah ini sering dikatakan sebagai penyakit yang menahun.

Siapapun bisa terkena penyakit ini. Di salah satu poster di Posyandu, ada yang menggambarkan kondisi penyakit Kaki Gajah, yaitu:

  1. Tidak ada gejala, tidak merasa sakit, dan tidak merasa ada keluhan apa pun.
  2. Jika ada gejala infeksi akut akibat peradangan, ada demam mendadak, nyeri, dan bengkak. Tanda peradangan ada di kelenjar limfe.
  3. Bentuk infeksi kronisnya adalah penyumbatan limfe yang menyebabkan pembengkakan di kaki, tangan, atau payudara (pada wanita) dan buah zakar (pada pria).

Hmmm.. ternyata tidak ada gejalanya ya. Jika tidak ada gejalanya, kondisi yang pertama ini justru yang paling berbahaya karena orang-orang akan merasa aman dan tidak berobat, padahal pada saat ini orang yang sehat bisa tertular. Berbahaya sekali ya kawan.

Kalau begitu, bagaimana ya caranya bisa mengetahui apakah kita terinfeksi penyakit kaki gajah ini lebih awal. Kata Ibu, pengobatan dini itu lebih baik. Aku setuju sekali dengan pernyataan Ibu. Kebetulan, Ibu Bidan di Posyandu bersedia menjawab pertanyaan Ibu. Beliau menjelaskan bahwa kita bisa melakukan screening awal pemeriksaan darah melalui ujung jari untuk membasmi larva atau parasit pada tubuh penderita sehingga tidak menular ke orang lain dan angka kecacatan akibat penyakit ini bisa ditekan.

Kata Ibu, penyakit Kaki Gajah ini tidak mematikan. Tapi penyakit ini bisa membuat malu, karena kakinya bengkak, besar sekali. Infeksi bisa terjadi ketika masih kecil. Wah berarti anak kecil seperti aku berpotensi tertular juga ya. Hiks, aku jadi sedih. Ketika besar, baru terlihat ada pembengkakan di kaki yang bisa menyebabkan cacat sementara atau permanen.

Kok bisa begitu ya, ayuk ah kita baca lagi poster lainnya, kali ini tentang siklus perkembangannya.

Seperti aku ceritakan, penyakit ini disebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti. Bagi cacing Wuchereria bancrofti, tubuh manusia itu dianggap seperti rumahnya sendiri. Ketika nyamuk yang terinfeksi oleh cacing ini menggigit manusia, parasit yang ada akan menempel di kulit manusia dan masuk ke tubuh manusia melalui kulit. Kemudian larva berpindah ke jaringan limfatik dan berkembang menjadi cacing dalam waktu 6-12 bulan.

Filaria dewasa akan hidup selama bertahun-tahun dalam tubuh manusia. Mereka memproduksi jutaan mikrofilaria yang belum dewasa dan beredar dalam aliran darah. Jika ada nyamuk yang menggigit, mikrofilaria ini bisa terhisap oleh sang nyamuk. Larva ini selanjutnya berkembang dalam tubuh nyamuk sebelum menginfeksi manusia. Yuk kita lihat gambarnya supaya lebih jelas.

kaki gajah 2

Sekarang kita sudah tahu cara penyebarannya, gejalanya, dan siklus hidupnya. Lalu, bagaimana caranya agar kita terhindar dari penyakit ini (2)?

  1. Pengobatan Masal

Pengobatan masal dilakukan di daerah endemis (mikrofilia rate > 1%). Seperti di Kabupaten Bandung, nilai mikrofilia rate 1.7% sehingga selama 5 tahun berturut-turut, pemerintah Kabupaten Bandung mengadakan pengobatan gratis untuk penyakit kaki gajah ini. Pemerintah memberikan obat DEC (Diethyl Carbamazine Citrate) yang dikombinasikan dengan Albendazole sekali setahun.

Pengobatan masal diikuti oleh seluruh penduduk yang berusia lebih dari dua tahun, dan ditunda untuk Ibu menyusui, Ibu hamil, dan yang menderita penyakit berat.

  1. Pengobatan Selektif

Pengobatan ini dilakukan kepada orang yang mengidap mikrofilia dan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dan yang berdekatan di daerah dengan hasil survey mikrofilia rate <1% (non endemis).

  1. Pengobatan Individual (Penderita Kronis)

Pengobatan ini dilakukan kepada penderita kronis dengan obat DEC 100mg, 3 kali sehari, selama 10 hari dan perawatan pada organ tubuh yang bengkak.

Sepulang dari sosialisasi di Posyandu, Ibu Bidan membekali Ibu dengan obat. Kata Ibu Bidan, obat DEC ini harus di minum oleh Ayah sedangkan Ibu dan aku tidak wajib untuk meminumnya karena Ibu sedang menyusui aku dan aku pun masih di bawah dua tahun.

Terimakasih ya Ibu sudah mengajakku ke Posyandu, sekarang aku jadi tau apa itu penyakit Kaki Gajah dan aku pun bisa menceritakannya kepada kawanku, semoga mereka mengerti dan menjadi lebih hati-hati dalam menjaga kebersihan rumah, menerapkan pola hidup sehat, mengikuti anjuran pemerintah, dan Kabupaten Bandung terbebas dari penyakit Kaki Gajah, begitu juga daerah lain yang endemis. Aamiin.

***

NB: Sekian cerita dari Akmal, terimakasih sudah membaca.

Sumber:

Tulisan diatas pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Ilmiah Populer Hari Kesehatan Dunia tahun 2014 yang diselenggarakan oleh Litbang Depkes. Sayang, tulisan ini tidak masuk sebagai pemenang. Dengan sedikit modifikasi, saya upload saja di blog ini siapa tau ada yang membutuhkan.

Comments

  1. […] di blog ini, hmm.. sebentar saya cek dulu. Postingan terakhir ternyata tanggal 11 September 2014 (Mengenal Penyakit Kaki Gajah, Seorang Bayi Bercerita) yang berarti 1.5 bulan yang lalu. Postingan itu pun hanya memindahkan tulisan saya dari stok […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *