Masjid Agung An Nur, “Taj Mahal”-nya Provinsi Riau

Tak perlu jauh-jauh melancong ke India, jika kita hendak menikmati indahnya Taj Mahal.

Tak usah keluar banyak uang, cukup beberapa lembar saja

Yap.. Yap.. karena Taj Mahal kini dekat dengan kita, Provinsi Riau yang punya

Burung besi berwarna putih merah menerbangkan saya dari Jakarta ke Pekanbaru di salah satu pagi di tahun 2012, mengantarkan saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menjadi bagian dari tugas akhir studi saya. Tiba di bandara Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, saya kembali membuka catatan kecil saya, memastikan tujuan saya hari itu akan kemana saja. Universitas Riau menjadi tujuan pertama saya diikuti dengan beberapa kunjungan ke kediaman orang tua mahasiswa yang kuliah di universitas dengan lambang lancang kuning tersebut.

Kegiatan pengambilan data di Universitas Riau dan di kediaman orang tua mahasiswa UNRI berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Selesai dengan lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Dua hari beres. Yeay! Pesawat yang akan membawa saya kembali ke Jakarta baru akan terbang sore harinya. Sementara siang itu, saya sudah menyelesaikan tugas saya. Kemana ya saya akan menghabiskan waktu selamat 5 jam ini?

Saya pun membuka smartphone saya, sembari mencari-cari informasi tempat menarik di seputaran Pekanbaru. Dalam pikiran saya, mungkin saya akan menemukan tempat wisata atau tempat belanja oleh-oleh khas Riau yang bisa saya datangi. Belum selesai Om Google menunjukkan lokasi yang saya inginkan, terdengar sayup-sayup suara merdu di kejauhan. Subhanallah… rupanya suara adzan dhuzur memanggil dengan indahnya.

Tanpa pikir panjang, saya meminta bantuan supir yang mengendarai mobil sewaan saya untuk langsung menuju masjid tersebut. Rupanya saya sedang tidak jauh dari masjid kebanggaan warga Riau, Masjid Agung An Nur.

Begitu memasuki halaman utama masjid saya langsung terkesima dan Allahu Akbar, masjid ini besar sekali dilengkapi dengan lahan parkir yang begitu luas. Kubah besarnya berwarna biru kehijauan nampak harmonis dengan menara yang kecil nan menjulang. Taman-taman yang tertata rapi dan bersih menghaluskan bangunan masjid yang kokoh dan kuat berdiri.

Sekilas, saya seperti mengenali bangunan ini. Nampak familiar diingatan saya. Rasanya sering melihat di buku-buku sejarah dan beberapa kali muncul di lini masa media sosial saya.

Hm.. putar otak dan iya! Ini Taj Mahal! Lonjak saya seketika. Pak supir sampai heran melihat saya kegirangan 😀

IMAG0246
Masjid An Nur Pekanbaru yang di desain mirip dengan Taj Mahal
IMAG0289
Lahan parkir yang luas
IMAG0253
Taman samping masjid
IMAG0288
Salah satu menara yang menjulang tinggi

 

Masjid yang dibangun tahun 1963 ini ternyata merupakan salah satu masjid yang termegah di Indonesia. Dari segi arsitekturnya bisa dilihat bahwa masjid ini kental dengan nuansa Melayu, Turki, Arab dan India. Tahun 2000, masjid ini mengalami renovasi total hingga seperti yang sekarang ini. Sayangnya saya tidak memiliki dokumentasi masjid sebelum mengalami pemugaran. Luas lahan masjid meningkat 3 kali lipat dari 4 hektar menjadi 12.6 hektar sudah termasuk dengan lahan parkir dan taman jadi tidak heran apabila masjid mampu menampung 4.500 orang jamaah dan ratusan kendaraan roda empat dan banyak kendaraan roda dua.

Jika kita lihat lagi, memang tidak salah apabila Masjid Agung An Nur ini disebut-sebut sebagai Taj Mahalnya Provinsi Riau karena arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal yang asli di India. Mungkin saja sang arsitek masjid terinpirasi dari kemegahan Taj Mahal sebagai salah satu bangunan keajaiban dunia. Jika India bisa punya Taj Mahal, pasti Indonesia juga bisa! mungkin begitu pikirnya. Hehehe.

Masjid ini memiliki tiga lantai dimana tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan. Ohya, tangganya juga ada tiga loh, 1 tangga di bagian muka dan 2 tangga di bagian samping. Bahkan ada fasilitas eskalator untuk memudahkan mobilitas jamaah.

Adzan dhuzur sudah berkumandang, begitu sampai masjid dan sekilas menikmati indahnya masjid dari sisi luar, kemudian saya mengayunkan langkah kaki memasuki masjid dan langsung menuju tempat wudhu wanita. Seperti kebanyakan masjid di tempat lain, tempat wudhu antara pria dan wanita memang dipisahkan untuk menjaga privasi masing-masing. Ketika saya sudah ada diruang wudhu, kebetulan sedang tidak banyak jamaah muslimahnya, seingat saya hanya ada saya dan dua orang wanita lainnya. Tempat wudhu ini lumayan besar dengan banyak kran air.

IMAG0268
Tempat wudhu yang besar
IMAG0282
Seseorang yang mengabdi untuk menjaga kebersihan masjid

Dari ruang wudhu, saya menyusuri lorong untuk menuju ruang sholat. Di tengah lorong, saya menemukan seekor kucing imut lucu yang tengah bersantai menikmati sejuknya angin sepoi sepoi menyapa masjid ditengah teriknya matahari di bumi Pekanbaru. Tidak seperti di tempat lain dimana kucing mengacak-acak tempat sampah dan meninggalkan ceceran makanan dimana-mana, kucing ini justru terlihat ‘rapi’ karena saya lihat lorong masjid bersih.

Di samping ruang wudhu saya juga sempat melihat ada sebuah ruang khusus yang saya yakini sebagai ruang untuk anak-anak mengaji atau TPA/Taman Pendidikan Al Quran. Dengar-dengar, Islamic Center di masjid ini juga berkembang dengan sangat baik. Ada juga taman di kecil disampingnya untuk memberikan nuansa kedamaian, ketenangan dan kesejukan. Ada tanaman Sansiviera atau lidah mertua yang tumbuh sehat dan subur. Delapan tahun lalu, saya pernah sangat akrab dengan tanaman yang diyakini bisa digunakan untuk menyerap polutan ini. Pasalnya, tanaman lidah mertua saya ubek-ubek untuk bahan skripsi dan yang meloloskan saya jadi salah satu Sarjana Pertanian dari sebuah universitas di Bogor.

IMAG0267
Kucing manis di lorong masjid
IMAG0261
Tanaman lidah mertua menghiasi sudut taman dalam masjid

 

Memasuki ruang sholat, terlihat banyak tiang-tiang penyangga masjid yang besar sebagai penopang kekokohan masjid dan melambangkan keagungan-Nya. Jendela besar dan kecil di pinggir-pinggir masjid dan kaligrafi indah menghiasi. Di bagian atas, terlihat kubah masjid yang besar dengan kaligrafi menawan dan sebuah lampu kristal mewah menggantung. Ada beberapa jamaah yang tengah khusyuk menjalankan ibadah sholat secara berjamaah.

Sekilas menikmati indahnya interior dalam masjid, saya segera membuka tas mukena kecil saya dan segera melaksanakan ibadah sholat dhuhur dan diakhiri dengan doa semoga Allah memberikan kelancaran bagi selesainya tesis saya ini. Sebelum turun, saya menyempatkan sejenak mengambil gambar suasana di dalam masjid sebagai kenang-kenangan.

IMAG0273 - Copy (2)
Jamaah yang sedang berdoa
IMAG0275
Jamaah bersantai sejenak selepas sholat
IMAG0274
Ruang sholat wanita
Kubah masjid dan kaligrafi menawannya
Kubah masjid dan kaligrafi menawannya
IMAG0255
Bedug di dalam Masjid An Nur

Untuk pelancong macam saya yang kemarin sedikit beruntung, menuju Masjid Agung An Nur ini tidaklah sulit. Ada Pak Supir yang siap mengantarkan saya menuju destinasi yang saya mau, termasuk menuju masjid yang terletak di pusat kota Pekanbaru tepatnya di Jalan Hang Tuah. Koordinat geografinya : 0° 31′ 34.00″ N  101° 27′ 7.00″ E. Saya yakin banyak moda transportasi lain yang bisa digunakan untuk menuju masjid ini, ada ojek sepeda motor, ada angkutan kota, taksi, atau mobil pribadi maupun sewaan.

Kalau mau beribadah beberapa hari di Masjid An Nur sambil menikmati kota Pekanbaru, ada beberapa hotel yang ada di sekitaran masjid. Ada Hotel Amaris Pekanbaru, Grand Jatra Hotel Pekanbaru, Grand Zuri Pekanbaru, dan Aryaduta Hotel Pekanbaru. Waktu itu saya berkesempatan menginap di Hotel Amaris Pekanbaru. Hotelnya cukup nyaman dan dekat dengan pusat kota.

Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 14.00. Dua jam lagi saya terjadwal akan kembali ke Jakarta. Mau tak mau, saya harus meninggalkan masjid dan kota pekanbaru ini. Sedih rasanya karena belum sempat berkeliling Pekanbaru dan mencicipi citarasa kuliner khas Pekanbaru di sekitar masjid. Terbayang gulai ikan patin, roti jala, lempuk, dan pancake durian yang menggiurkan dan membuat liur ini menetes deras. Saya juga belum main ke Pasar Bawah yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan barang-barang antik, aksesories rumah tangga dari dalam dan luar negeri. Katanya sih murah, meriah dan lengkap. Benar gak ya?

IMAG0247
saya 😉

Jika lain kali berkesempatan melakukan perjalanan kembali ke Pekanbaru, saya mau lagi menyempatkan sholat di ‘Taj Mahal’-nya Provinsi Riau ini, mengambil lebih banyak foto dari berbagai sisi. Mencoba masakan lokal dan tentunya lebih berbaur dengan masyarakat melayu yang terkenal religius itu. Ohya, saya juga masih mau buktikan kalau Pasar Bawah itu punya barang antik yang murah, meriah, dan lengkap. Kesempatan itu pasti selalu ada bukan? Doakan saya ya teman!

give away perjalananku dan masjid

‘Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Perjalananku dan masjid HijrahMenujuIslamKaaffah

Comments

  1. kaprilyanto says:

    Pernah kesana, tapi ramai cuma buat olahraga aja 🙁

    1. oh iya kalau pagi hari biasanya ramai ya

  2. Ummi Fathin says:

    Tulisan yang sangat bermanfaat buat para musafir yang melewati Riau yaaa mbak Armita….:)
    Smg menjadi amal catatan pahala di yaumul hisabNya, aamiin

    Jazakillah, sudah berpartisipasi di GA Perjalananku dan Masjid

    1. iya Mba, semoga membantu mereka yang sedang mampir ke Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *