Kepak Memori Bersama Garuda

Sore-sore dua hari yang lalu, ketika saya membuka surat elektronik, saya mendapatkan sebuah tawaran dari Garuda Indonesia terpampang di paling atas daftar surat saya. Sedikit mengulik memori, rasanya sudah beberapa tahun terlewati bepergian tanpa pesawat. Kondisi saya 2 tahun belakangan ini menuntut saya untuk tinggal di rumah saja karena fokus mengurus si kecil yang masih batita.

Tiga tahun lalu, saat saya masih aktif di sebuah lembaga, saya sering ditugaskan ke luar daerah. Baik itu daerah yang masih ada di Pulau Jawa maupun yang di luar Pulau Jawa. Saat itu, burung besi seperti menjadi teman akrab bagi saya. Bagaimana tidak, hampir tiap minggu saya si burung mengantarkan saya menuju ke tempat tujuan dan mengembalikan saya lagi ke tempat asal. Lantaran cekak dana, kantor pun hanya menyediakan layanan untuk terbang bersama maskapai non Garuda Indonesia. Oke lah, tak mengapa, yang penting sampai dan tugas selesai, pikir saya singkat waktu itu.

surat dari garuda
Tawaran dari Garuda Indonesia (kotak merah) yang masuk ke kotak surat elektronik saya

Tawaran surat elektronik dari Maskapai Terbaik Indonesia untuk “Mau Wujudkan Liburan Impianmu” itu masih menggelayuti pikiran saya. Membawa kenangan ke tahun 2007 dan 2008. Kala itu, umur saya masih 21 tahun dan saya dipercaya oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Washington DC untuk mendapatkan beasiswa kursus singkat di University of California at Davis, USA selama 3 bulan. Awalnya senang bahagia tak terkira karena saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk belajar di negera maju sekaliber Amerika. Tapi kemudian saya ragu, apakah saya bisa. Saya belum pernah bepergian ke luar negeri dan ini akan menjadi perjalanan pertama bagi saya. Agak horor dan menyeramkan. Nanti kalau saya tersesat bagaimana. Nanti kalau saya kehabisan uang bagaimana. Sementara saya tidak punya kerabat atau kenalan satu pun di negeri dengan 4 musim itu. Mendengar Amerika saja, rasanya itu sudah jauh sekali. Mengelilingi setengah bumi. Saat kita di Indonesia baru bangun pagi, orang-orang disana malah justru baru mau memejamkan mata. Eh giliran kita tutup mata, mereka baru mau mulai aktivitas paginya.

Bermodalkan keyakinan, sedikit nekat, restu orang tua, doa dosen dan kawan-kawan, jadilah saya berangkat ke Amerika. Solo traveler. Iya, saya berangkat sendiri tanpa ada keluarga dan teman yang saya kenal. Keluarga pun hanya mengantar sampai terminal keberangkatan internasional di Bandara Soekarno Hatta.

Adik dan Mama hanya mengantar sampai terminal keberangkatan
Adik dan Mama hanya mengantar sampai terminal keberangkatan

Pasport dan jadwal penerbangan sudah siap ditangan. Akhir bulan Agustus 2007, pesawat berlabel Garuda Indonesia menerbangkan saya dini hari dari Jakarta ke San Fransisco dengan rute Jakarta-Singapura-Hongkong-San Fransisco. Penerbangan dari Jakarta-Singapura-Hongkong saya percayakan ke Garuda Indonesia dan dari Hongkong ke San Fransisco dengan maskapai lain yang bermarkas di Hongkong.

Saya pilih Garuda Indonesia untuk membawa saya sampai ke Hongkong karena waktu itu Garuda Indonesia-lah yang menyediakan  layanan Tiket Pesawat MurahMaklumlah, sebagai mahasiswa yang masih menggantungkan hidup pada orang tua, saya tidak sampai hati jika harus membeli tiket yang mahal-mahal. Apalagi dana beasiswa waktu itu belum turun jadilah saya berhutang dulu ke orang tua. Ingin sih beli yang kelas bisnis ya, hehe, sekali-kali mencoba yang lebih baik gak pa pa toh. Tapi saya ingat lagi, kalau saya harus berhemat, maka kelas ekonomi sudah cukup memenuhi kebutuhan saya. Mungkin lain kali saya ada rejeki untuk bisa mencoba yang kelas bisnis.

Sebelum Keberangkatan

Segala sesuatu pasti ada yang untuk pertama kalinya dan yang pertama selalu meninggalkan kesan tak terlupakan. Sebelumnya saya memang sudah beberapa kali naik pesawat, tapi hanya rute di dalam negeri saja. Namun, penerbangan yang ini beda. Membayangkan terbang sendiri ke tanah orang tanpa teman dan sanak saudara menyisakan sedikit perasaan was-was.

Setelah berpamitan dengan Mama dan Adik, saya langsung menuju ke tempat check-in. Saya waktu itu masih menggunakan sistem check-in manual dengan cara menunjukkan tiket bukti pembelian pesawat kepada petugas di counter dan kemudian akan mendapatkan boarding pass. Beda ya sama sekarang, konsumen Garuda Indonesia pasti sudah familiar dengan web check-in, mobile check-in, dan phone check-in yang memang sengaja disediakan oleh Garuda Indonesia untuk memudahkan konsumennya.

Beberapa counter Garuda Indonesia dibuka untuk melayani penumpang yang akan check-in dan hebatnya tidak ada antrian panjang dan berdesakan seperti yang sekarang sering saya lihat di antrian maskapai penerbangan lain. Mungkin karena penerbangannya internasional dan dini hari, jadi tidak terlalu banyak orang yang mengantri, pikir saya waktu itu. Saya coba tanya ke suami yang sering bepergian, memang seperti inilah layanan dari Garuda Indonesia, tidak banyak antrian dan terasa eklusivismenya. Oh pantesan saja suami lebih senang naik Garuda Indonesia.

Di dalam pesawat

photo-salamgaruda
Salam Hangat Ramah dari Pramugari (sumber: Garuda Indonesia)

Masuk ke dalam pesawat saya disambut oleh pramugari-pramugari yang cantik, bersih, dan wangi. Mereka berdiri berderet di dekat pintu masuk, menebar senyuman kepada setiap penumpang yang masuk sembari menakupkan kedua telapak tangan di depan dada. Pramugari pun tak sungkan membantu apabila ada penumpang yang kesulitan mencari nomor tempat duduknya. Mereka dengan senang hati akan menunjukkan dimana penumpang harus duduk sesuai dengan nomor kursinya. Para pramugari ini juga pasti akan membantu kita untuk menata bagasi dan kadang mau loh mereka angkat-angkat tas kita yang berat untuk dimasukkan ke dalam kabin. Luar biasa ya! Sudah cantik, ramah, bertenaga pula. Bajunya juga menawan loh. Seingat saya, mereka mengenakan baju biru dengan sentuhan batik khas Indonesia. Mengingat-ingat baju yang dikenakan pramugari ini pasti sudah disesuaikan dengan konsep Garuda Indonesia Experience yang didasarkan pada lima panca indra yaitu sight. Kesan pertama pada pandangan awak kabin yang menawan, menampilkan pelayanan menyeluruh dari Garuda Indonesia.

Perjalanan hampir 2 jam menuju Bandara Changi di Singapura berlalu begitu cepatnya. Tidak terasa lama karena di dalam pesawat saya disuguhi makanan dan minuman enak. Sudah selesai icip-icip, saya coba-coba pencet monitor kecil yang ada di depan saya. Lihat-lihat daftar film disana. Saking banyaknya film yang bagus dan sibuk pencet-pencet, saya malah tidak jadi menonton film satu pun karena pesawat sudah bersiap mendarat. Hahaha.

Turun dari pesawat pertama, saya cukup membawa tas kecil saja. Koper besar yang ada di bagasi biarlah pihak maskapai yang mengurusi. Tidak perlu ragu akan hilang atau rusak. Pasti maskapai sebesar Garuda Indonesia memiliki manajemen yang baik yang tidak akan mengecewakan konsumennya.

Saya dan tas kecil yang berisi dompet, hp, pasport, catatan kecil, ballpoint, dan buku bacaan keluar dari pesawat untuk pindah ke gate lain karena saya mengejar penerbangan berikutnya ke Hongkong. Di Bandara Changi, banyak tulisan petunjuk bagaimana menuju gate yang kita tuju dengan jelas. Kalau takut nyasar, tanya saja pada petugasnya. Mereka akan dengan ramah menunjukkan jalannya. Yang penting kita bisa ngomong dan tidak malu untuk bertanya.

Hiburan di dalam pesawat Garuda Indonesia (sumber: Garuda Indonesia)
Hiburan di dalam pesawat Garuda Indonesia (sumber: Garuda Indonesia)

Penerbangan ke Hongkong dengan Garuda Indonesia masih menawarkan layanan istimewa khas Garuda Indonesia. Di penerbangan sebelumnya dari Jakarta – Singapura, saya tidak sempat mencicipi legitnya film di dalam kabin Garuda Indonesia, maka tidak saya sia-siakan kesempatan penerbangan Singapura-Hongkong ini dengan menonton ekslusif film Ratatouille. Film animasi ini sukses membuat saya terkikik-kikik sendiri di dalam pesawat, bagaimana tidak, tingkah si tikus Remi yang ngotot ingin jadi koki di sebuah restoran di Perancis. Remi punya karakter yang lucu, ngeyelan, cool, dan cuek. Film dipenuhi dengan gambar masakan yang enak-enak dan pada akhirnya si Remi sukses menjadikan restoran tersebut punya menu masakan andalan yang disukai para konsumen. Yeay!

Namanya juga di pesawat ya, kita tidak bisa melihat pemandangan seperti kita naik mobil atau kereta. Paling banter yang dilihat lautan, daratan dari kejauhan atau kumpulan awan. Kalau perjalanan jauh dan berjam-jam pasti bosan banget. Untungnya di dalam pesawat ada audio sang pembunuh jenuh. Saya sih begitu naik pesawat langsung otak atik perangkat yang disediakan Garuda Indonesia. Biasanya yang saya lihat adalah daftar filmnya dan selanjutnya adalah daftar lagu-lagu. Film dan lagu-lagu ada banyak dan bagus-bagus, sampai bingung mau pilih yang mana, hehe. Memang ya, sound yang disediakan oleh Garuda Indonesia ini maksimal banget, pasti karena Garuda Indonesia tidak mau menganggurkan dan mengecewakan konsumennya. Sesuai banget deh dengan konsep Garuda Indonesia Experience.

Sembari menonton lezatnya masakan si Remi, kru Garuda Indonesia datang membawakan baki berisi makanan lengkap dengan minumannya. Minumnya saya pilih jus jeruk. Enak-enak. Segar sampai ke kerongkongan. Memang sengaja saya pilih jus jerus, soalnya kapan lagi minum sari buah tropika yang nanti tidak akan saya nikmati setahun ke depan di California. Apalagi Indonesia juaranya buah-buahan tropika. Naik Garuda Indonesia, taste-nya Indonesia banget deh.

Kebetulan memang waktu itu saya lagi lapar akut, saya sikat saja makanannya. Langsung ludes tak bersisa. Minuman pun habis sampai tetes terakhirnya. Haha. Sudah selesai makan, mbak-mbak pramugari dengan senang hati akan mengambil dan membereskan bekas makan kita. Sambil bersih-bersih meja makan kita, mbak pramugari masih saja menebarkan senyumnya yang merekah. Aduh, manisnya. Benar-benar dilayani ya kalau naik Garuda. Kesan touch ini begitu terasa dari sapaan dan senyuman para pramugari sebagai ujung tombak Garuda Indonesia. Pantas saja mereka siap turun tangan apabila kita menemukan masalah di dalam pesawat dan selalu menawarkan bantuannya dengan tangan terbuka.

Sudah makan dan minum rasanya kenyang. Tidur sebentar ah. Eh tapi kok rasanya saya ingin ke kamar kecil, sepertinya ada yang harus dibuang. Hehe. Berjalanlah saya ke bagian belakang pesawat menuju toilet. Ada antrian satu orang. Tak mengapa, tunggu sebentar juga beres. Benarlah, tak seberapa lama saya menunggu, orang di depan saya sudah beres dengan urusannya dan kini giliran saya. Masuk ke toilet, saya kira bakalan mencium aroma tak sedap, ternyata dugaan saya salah. Justru aroma wangi semerbak lah yang menggoda syaraf-syaraf hidung. Kalau begini, penumpang betah berlama-lama di toilet. Sambil ngaca-ngaca sebentar merapihkan kerudung, saya nikmati aroma wewangian ini. Aromanya saja begitu romantis meninggalkan kesan scent yang menenangkan dan menyegarkan.

Sekitar 5 jam di awan, burung besi biru putih siap mendarat di Bandara Internasional Hongkong. Artinya, saya harus siap-siap berkemas mengambil tas kecil saya di kabin dan turun dari pesawat. Mematikan monitor kecil yang di depan saya dan mengembalikan posisi meja kecil ke posisi semula supaya tidak menganggu ketika pesawat menapak tanah. Baiklah, sedih sih, harus berpisah dengan Garuda. Tapi apa daya, perjalanan selanjutnya ke San Fransisco sudah menunggu.

image
Gagahnya Garuda Indonesia Mengangkasa Menembus Cakrawala (sumber: Garuda Indonesia)

Penawaran Spesial Garuda Indonesia

Dua kali terbang bersama Garuda Indonesia menyisakan memori indah membuat saya kembali memikirkan tawaran Garuda Indonesia yang datang ke surat elektronik saya itu. Pelayanan istimewa (excellent service) dari Garuda Indonesia berhasil membius dan merayu saya kembali. Saya sih mau banget mewujudkan impian liburan bersama Garuda Indonesia. Terus terang, keluarga saya termasuk keluarga yang jarang pergi berwisata dengan destinasi jauh yang harus menggunakan pesawat. Waktu itu pernah sekali, habis menikah, saya dan suami pergi berdua naik pesawat, itupun pesawat non Garuda Indonesia tujuan Jogyakarta-Jakarta.

Penasaran dengan tawaran spesial Garuda Indonesia, saya coba klik dan mencari rute penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan. Mengapa Balikpapan, karena kota ini merupakan salah satu kota di Kalimantan yang belum pernah kami kunjungi. Selama ini saya sering dengar kota Balikpapan adalah kota minyak dengan perekonomian utama di topang oleh sektor minyak dan gas. Apakah hanya minyak dan gas saja? Penelusuran saya di Portal Balikpapan menunjukkan bahwa ternyata Balikpapan punya pesona wisata yang tak kalah menarik seperti wisata hewan, alam, pantai, kota, dan situs bersejarah. Salah satu incaran saya adalah Pantai Melawai yang diyakini sebagai spot terbaik untuk menikmati senja sore-sore menyaksikan matahari terbenam bersama keluarga tercinta.

Citarasa kuliner juga menggoda untuk dicicip. Yang paling saya inginkan adalah seafood, apalagi kepiting. Liur menetes membayangkan sedapnya kepiting rebus, kepiting saos padang dan kepiting saos tiram dimakan bersama nasi hangat dan ditemani semilir angin laut yang menyapa lembut.

 

Hangatnya Matahari Terbenam di Pantai Melawai (sumber: Portal Balikpapan)
Hangatnya Matahari Terbenam di Pantai Melawai (sumber: Portal Balikpapan)
Kepiting Balikpapan nan Menggoda
Kepiting Balikpapan nan Menggoda (sumber: Portal Balikpapan)

Tertarik dengan Pantai Melawai dan masakan olahan berbahan dasar kepiting, saya langsung menuju web Garuda Indonesia. Pesan tiket untuk 2 orang dewasa dan 1 bayi. Mumpung anak saya umurnya masih di bawah 2 tahun, biaya bepergian bisa lebih murah karena dia tidak memerlukan satu tiket penuh. Cukup bayar sekitar Rp 200.000 dia sudah bisa ikut bepergian.

Pemesanan hari ini 30 November 2014 untuk keberangkatan tahun depan yaitu 28 Juni 2015 dan kembali 30 Juni 2015 menghabiskan dana sekitar 2,9 juta rupiah untuk 3 orang. Cukup murah bukan untuk pesawat sekelas Garuda. Bolehlah naik Garuda Balikpapan untuk berwisata bersama keluarga karena kepak sayap Garuda bisa membantu kami mengukir memori akan eloknya Kalimantan. Masa sih cuma saya dan suami saja yang pernah merasakan istimewanya layanan Garuda, kami juga mau ajak anak turut merasakan excellent service oleh Garuda. Saya mau mengulang kembali terbang istimewa bersama Garuda Indonesia. Setelah Garuda Indonesia berhasil mengukirkan memori indah di masa lalu saya, kini saatnya bersama keluarga mencicip indah nusantara dengan kepak Garuda.

Tiket Jakarta - Balikpapan

Pemesanan tiket Jakarta-Balikpapan (PP) untuk 2 Dewasa dan 1 Bayi
Pemesanan tiket Jakarta-Balikpapan (PP) untuk 2 Dewasa dan 1 Bayi

Waktu terlalu sempit untuk ditinggal menyepi, dunia terlalu legit untuk tidak dicicip. Tanah luas tak berbatas, kepak sayap kita jawab kepenasaran. Ijinkan kami Tuhan, menikmati setitik surga dunia dan mencipta memori surgawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *