(Pernah) Frustasi


Jika kamu berpikir aku baik-baik saja selama 3 tahun terakhir ini, bisa jadi kamu salah.

Kesehatan fisikku memang tidak ada masalah. Aku tampak sehat dan bugar dari luar. Aku masih bisa beraktivitas dengan lancar dan lincah setiap harinya. Alhamdulillah Allah sudah menganugerahkan kesehatan yang luar biasa kepadaku belakangan ini.

Tapi taukah kamu bahwa aku menyimpan nestapa yang selama ini aku sembunyikan. Selama ini aku tidak berani menceritakannya kepada publik, hanya teman-teman dan kerabat dekat saja yang mengetahuinya. Maka hari ini aku beranikan menceritakannya kepada teman-teman berharap bahwa aku bisa menjadi lebih legowo dan ikhlas menjalani kehidupanku sekarang dan di masa yang akan datang.

Aku pada dasarnya adalah wanita sang pemilik jiwa petualang. Aku senang sekali berada di area terbuka, bertemu banyak orang, menghadapi pengalaman baru, jalan-jalan menyusuri tempat baru, mencoba berbagai kuliner nusantara, main ke sana ke mari, mengunjungi lokasi wisata, dan sejumlah aktivitas lain di luar rumah.

Pencilatan Main Paintball Sama Teman-Teman Kampus
Pencilatan Main Paintball Sama Teman-Teman Kampus

Kehidupan pernikahanku sudah berlangsung hampir 4 tahun. Setahun pertama pernikahan aku masih disibukkan dengan aktivitas kuliah dan menyelesaikan tesis. Aku tinggal di Bandung sementara tempat kuliahku ada di Bogor. Nyaris hampir tiap minggu aku pasti menempuh perjalanan Bandung-Bogor bolak-balik. Aktivitas yang sibuk namun aku sungguh menikmatinya.

Semakin kita sibuk, semakin pintarlah kita mengatur waktu. Aku mendengar quote ini dari suamiku sendiri. Dan memang benar, jika kita sibuk, maka kita akan terhindar dari santai-santai, menunda-nunda pekerjaan, melamun, ngrumpi gak jelas, dan lain sebagainya.

Tahun 2012, aku di wisuda. Selesai juga tugasku jadi mahasiswa pasca sarjana. Tepat tiga bulan sebelum aku wisuda, aku melahirkan seorang anak laki-laki. Episode kehidupan berganti dari kegiatan mahasiswa yang biasa sibuk di kampus menjadi kehidupan ibu rumah tangga dengan segambreng urusan domestik.

Mengurus rumah, suami, dan anak pertama-tama memang menyenangkan. Tapi lama-lama aku bosan seharian di rumah terus. Kegiatannya itu-itu aja, di ulang-ulangi terus setiap hari. Rasanya aku pengen jambak-jambak rambut sendiri kalau sudah berada pada titik bosan yang akut.

Kembalikan kesibukanku seperti dulu. Mana? Kemana sajakah mereka?

Manyun Mulu
Manyun Mulu

Beberapa kali proposal bekerja di luar rumah aku tawarkan kepada suamiku. Dan berkali-kali pula dia tidak mengijinkan. Alasannya anak. Mau dikemanakan dia, siapa yang mau ngasuh, masa tega ninggalin dia sendiri di rumah dengan pembantu dan alasan lain yang tentunya atas nama anak.

Oke sip, aku bisa menerima alasannya. Tapi pedulikah dia kalau aku juga perlu berkegiatan di luar rumah. Aku mau ketemu orang, aku butuh mengembalikan jiwa petualangku. Desperate housewife, begitulah aku.

Aku sering mengutuk diriku sendiri. Menangisi nasib kenapa aku harus menjadi ibu rumah tangga tanpa aktivitas jelas. Omongan orang-orang yang sering mengatakan untuk apa sekolah tinggi-tinggi sampai S2 kalau cuma tinggal di rumah? Mending kerja aja diluar, lebih enak. Begitu kata mereka.

Sedikit banyak, nyinyiran mereka masuk kepikiranku. Bantal pun sering menjadi saksi tangisanku. Beberapa kali aku menangis di malam hari. Membalikkan badan dan memunggungi suami, aku terseguk menahan suara agar suamiku tidak mendengar suara tangisanku.

Mengomel gak jelas dan marah-marah tanpa sebab mengisi hari-hariku. Tak jarang anakku sering aku jadikan sasaran kemarahan. Rewel dikit aku cubit atau aku bentak dia. Berhentikah tangisannya? Tentu saja tidak. Anakku malah semakin menangis. Kemudian kami berdua sama-sama menangis.

Aku frustasi.

Kami tinggal sebagai perantauan di Bandung. Orang tua dan mertua semuanya tinggal di kota yang berbeda. Kerabat dekat tidak ada. Nyaris gak punya tempat untuk sekali-kali nitipin anak. Kadang bisa sih nitip sebentar ke tetangga, tapi kan gak enak kalau kelamaan, siapa tau mereka juga punya keperluan.

Aku suka iri melihat ibu yang bisa ‘me time’ sama dirinya sendiri. Ke salon, jalan-jalan, atau plesiran tanpa digendoli sama anak. Anak tinggal dititipkan ke orang tua. Aku? Boro-boro ‘me time’, kerjaan rumah aja sering direcokin sama anak.

Aku juga mungkin tak seberuntung teman-teman seangkatanku yang sekarang sudah mencapai level manager di kantor tempatnya berkerja dengan berpuluh-puluh bawahan siap menerima pekerjaan. Mereka sebentar-sebentar terbang ke luar negeri. Check in-out di hotel yang berganti-ganti tiap minggunya. Unggah foto icip-icip makanan nusantara di lokasi yang berbeda-beda. Aku? sambil nyuapin anak dirumah cuma bisa nyengir.

Rumah Berantakan Semakin Membuat Kepala Mau Pecah
Rumah Berantakan Semakin Membuat Kepala Mau Pecah

Sampai suatu ketika aku membaca sebuah quote, entah dimana, aku lupa.


Berhentilah mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin untuk penerangan. 


Aku mulai memikirkan quote tersebut siang dan malam. Ada benarnya, bahwa ternyata selama ini aku terlalu fokus memikirkan takdirku harus menjadi ibu rumah tangga yang begini-begini saja. Aku justru tidak memikirkan bagaimana caranya merubah kehidupan di rumah menjadi lebih istimewa.

Suamiku memang tidak mengijinkan aku bekerja di luar rumah, terutama pekerjaan yang terikat waktu. Maka jalan tengahnya adalah mencari kesibukan usaha yang bisa dilakukan dari dalam rumah sembari mengasuh anak.

Kemudian aku jadi terpikir untuk mengaktifkan kembali usaha yang dulu pernah aku rintis namun menjadi vakum. Tahun 2010, aku pernah merintis sebuah usaha jasa konsultasi pembuatan nama bayi secara online. Namun karena kesibukanku menjadi mahasiswa, usaha tersebut sempat mati suri.

Suamiku menyediakan modal dengan membelikanku sebuah modem beserta kartu internet dan paket datanya di tahun 2012. Tiap bulan, dia juga rajin top up mengisi pulsanya jika paket datanya habis. Ketika HPku rusak mati total dan gak bisa dipakai sama sekali, dia rela menggelontorkan uang gajiannya untuk membelikanku sebuah smartphone seri terbaru. Semuanya dia berikan untuk modal usaha onlineku. Diharapkan, aku bisa lebih betah di rumah karena ada kesibukan baru di rumah tanpa meninggalkan tugas utama menjadi istri dan ibu.

Suamiku juga menawariku jasa seorang pembantu untuk sekedar bantu-bantu di rumah. Biar aku gak capek katanya. Suamiku juga yang sering mengajakku jalan-jalan di hari Sabtu dan Minggu, biar aku gak bosan dirumah. Kalau aku sedang malas memasak, maka dia gak segan turun langsung ke dapur atau keluar rumah membelikan sayur dan lauk untuk makan. Suamiku juga yang sering pijitin kakiku malam-malam, kalau aku sering mengeluh kecapekan seharian ngurus rumah dan anak.

IMG_20140719_132929
Suami dan anak memasak di dapur

Sebenarnya, kurang baik apa coba suamiku, sudah menyediakan ini itu di rumah biar aku betah. Kerja keluar rumah siang malam mencari nafkah dan tidak merelakan aku cape-cape terkena panas dan hujan. Disuruh tinggal di rumah ngurusin rumah tangga aja malah kebanyakan protes.

Sepertinya, masalah memang ada padaku. Kurang bersyukur dengan nikmat yang sudah Allah beri. Suami dan orangtua sering menasehati bahwa banyak wanita diluar sana yang mengincar posisiku. Ingin jadi seperti aku. Enak tinggal dirumah yang gak perlu naik turun kereta atau berdesak-desakan di bis, kehujanan-kepanasan naik motor, kena asap, jerawatan, polusi, dan sebagainya. Gak perlu grasa-grasu di pagi hari, gak perlu takut pulang kemalaman. Cukup tinggal dirumah, terima uang dan suami sudah menjamin kesejahteraan.

Hmmm.. benar juga. Aku terlalu melihat apa yang aku tidak punya, padahal terlalu banyak yang sudah aku punyai tapi lagi-lagi aku kurang bersyukur. Suami yang baik, keluarga yang mendukung untuk tetap fokus mengasuh anak, kesehatan yang berlimpah, anak yang sehat, rejeki yang lancar.

Seorang teman kuliah, yang juga sekarang full time di rumah, lagi-lagi menasehati aku. Dia katakan, ridhonya istri itu ada di tangan suami. Kalau suami mengijinkan, maka lakukan. Kalau tidak mengijinkan, turuti saja. In Sha Allah nanti akan lebih banyak hikmaknya. Intinya, jadi istri kudu nurut sama suami.

Nasehat dan peringatan tersebut adalah tamparan halus tapi cukup menyakitkan. Perlahan-lahan, aku mulai menerima kenyataan ini dan membangun kesibukan yang bisa dikerjakan dari dalam rumah dengan menjadi seorang konsultan nama, aku bisa membenahi kehidupanku menjadi lebih tenang dan tidak kemrungsung. Yah meskipun aku kadang masih juga marah-marah sama anak, tapi frekuensinya gak sesering dulu. Aku mulai bisa berdamai dengan diriku sendiri.

Ini ada beberapa aktivitas yang aku lakukan untuk mengatasi kebosanan menjadi ibu rumah tangga.

  1. Buat blog. Awalnya, blog ini aku buat hanya untuk menyebar undangan pernikahan online. Berhubung temanku dan suami tersebar dimana-mana, jadi kami sepakat untuk menyebar undangan pernikahan via online, lumayan ngirit $$$ hihihi. Lama-kelamaan, aku mulai sering update perkembangan pernikahan kami lewat blog ini. Tulisannya juga masih geje. Kemudian aku mulai merasakan manfaat dari blog ini seperti menambah pertemanan, berbagi pengalaman, sampai juga bisa menghasilkan pendapatan. Tulisanku juga sekarang jadi lebih beragam.
  2. Bergabung dengan komunitas blogger. Ada banyak komunitas blogger di dunia maya, tapi yang paling sering aku pantengin adalah Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Warung Blogger (WB). Dari KEB dan WB aku bisa tau blogger-blogger hebat di luar sana.
  3. Membuat bisnis online. Aku kembali mengaktifkan usaha jasa pembuatan nama yang sempat vakum. Awalnya aku hanya membuka jasa untuk pembuatan nama bayi saja. Tapi kemudian, atas ijin Allah SWT, aku jadi bisa membuka konsultasi untuk pembuatan nama perusahaan, brand, produk, dan toko. Aku juga mulai terbuka ke khalayak bahwa aku juga adalah seorang penerjemah dokumen untuk pasangan Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. Awal cerita menjadi penerjemah, pernah aku ceritakan di blog ini juga.
Berdamai dengan keadaan dengan membuka usaha dari rumah
Berdamai dengan keadaan dengan membuka usaha dari rumah
Armita Jessica Oscar Live Pesbuker ANTV Nama Anak JOKOWI 27 Okt 2014 - Copy
Perlahan mulai merasakan hasil dari kerja di rumah. Tahun 2014 lalu, PESBUKERS ANTV mengundang saya untuk berdiskusi mengenai arti nama anak Presiden Jokowi
Diundang oleh INBOX SCTV untuk mengisi acara mengenai nama bayi
Diundang oleh INBOX SCTV untuk mengisi acara mengenai nama bayi

Semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ada yang atur, kita tinggal menjalani dengan penuh keihklasan. Jika kurang sabar, kurang ikhlas, tambah lagi kadar kesabaran dan keikhlasannya. Tuhan punya rencana terbaik yang kadang tidak dimengerti oleh manusia. Begitulah aku, pernah terpuruk dalam sebuah kefrustasian menjadi ibu rumah tangga dan kini sedang pelan-pelan memperbaiki keadaan dan terus mencoba berdamai dengan diri sendiri. Menyalakan lilin sebagai sumber cahaya memang lebih baik daripada terus-terusan mengutuk kegelapan. Bersyukurlah, maka Allah akan menambahkan nikmatNya.

Postingan Ini untuk Mengikuti Giveaway Echaimutenan

Alhamdulillah dipilih sebagai Tulisan Terfavorit Kedua. Terimakasih.

56 thoughts on “(Pernah) Frustasi

  1. Mak, keren banget tulisannya, daaalaaam dan pastinya memang dari hati, aku mpe nangis.
    Kenapa? aku pernah seperti dirimu, aku pernah berada di titik yang seharusnya anak ada yang handle ketika aku terpuruk, untuk menjaga jangan sampai kita frustasi. Aku merantau, jauh dari siapa-siapa juga, dulu.

    Hm…bersyukurlah untuk apa yang mampu kita nikmati saat ini, apalagi dunia online juga bisa melipur kesepianmu beraktivitas Mak.

    Like

    1. Iya, tulisan ini emang semi curhat mak. hehe. Sudah lama ingin nulis fakta ini di blog, tapi gak berani. Sampai akhirnya aku berani ngungkap rahasia ini. Memang berat melewati masa kelam itu ya Mak. Tapi untungnya sekarang udah lewat ya.

      Kuncinya memang bersyukur sih Mak, untuk keadaan apapun itu. Banyak yang tidak seberuntung kita di luar sana 🙂

      Like

  2. Sepertinya ini memang masalah yg biasa dihadapi wanita berpendidikan tinggi tapi memilih di rumah demi anak, Mak. Aku juga kadang2 masih mengalami stres2 begini, walaupun udah enak nulis dari rumah. tetep aja kepikiran pengin ngantor. Tapi trus aku baca2 buku parenting islami, kalau sebagai ibu, kita harus ikhlas mendidik anak. Dan sebenarnya kita beruntung punya suami yang mendukung kita di rumah, sehingga kita bisa mengerjakan tugas utama mengurus rumah dan anak. Alhamdulillah banget ya mak, suami kita sangat mendukung. Suamiku juga beliin modem, laptop, sampe motor supaya aku betah di rumah hehehehe… motornya buat jalan2, maksudnya. Ih, aku jadi mau nangis karena sering gak bersyukur jg sama suami, hiks…..

    Like

    1. Suami kita memang hebat-hebat lah ya. Apapun mereka lakukan supaya istrinya pada betah dirumah. Iya Mba Ella, sama bangeeet…aku sampai pernah ditawarin kredit motor (tentu suami yang bayarin), biar bisa dipakai jalan-jalan beli keperluan..

      Like

  3. Subhanallah mak, memang setiap orang pasti pernah merasa depresi. Tapi keinginan untuk maju itu kan bukan bisa atau nggak ya mak, tapi mau atau nggak. Ah, inspired banget deh ini ceritanya. Terima kasih ya mak, semoga bisnisnya sukses 🙂

    Like

  4. Aku senyum2 baca tulisan ini mak. Bukan karena ngeledek tapi karena aku juga pernah begitu. Dari megang jabatan manager dengan sejumlah anak buah dan punya kartu nama sendiri plus 3 pembantu tiba2 jadi stay at home mom di luar negeri tanpa pembantu. Stress sampe pendarahan selama 3 bulan! Hehehe… Gak bisa liat rumah berantakan dikit, dan juga jadi cepet marah. Mana gak punya temen. Hadeeeh…tapi akhirnya dinikmati aja…abis itu bikin blog dan jadi enjoy 🙂
    I believe everything will be beautiful in time.

    Like

  5. Aku senyum2 baca tulisan ini mak. Bukan karena ngeledek tapi karena aku juga pernah begitu. Dari megang jabatan manager dengan sejumlah anak buah dan punya kartu nama sendiri plus 3 pembantu tiba2 jadi stay at home mom di luar negeri tanpa pembantu. Stress sampe pendarahan selama 3 bulan! Hehehe… Gak bisa liat rumah berantakan dikit, dan juga jadi cepet marah. Mana gak punya temen. Hadeeeh…tapi akhirnya dinikmati aja…abis itu bikin blog dan jadi enjoy 🙂
    I believe everything will be beautiful in time.

    Like

  6. wow keren banget mak. meski di rumah tetap bisa menghasilkan ya.. kalau saya memang karena alasan kesehatan jadi ga bisa kerja diluar rumah. tapi kerja di rumah juga not bad kok semangat ya

    Like

  7. Kayaknya ya mak, perempuan yang rata-rata bisa bangkit pasti awalnya frustasi dulu wkwkwk.
    Saya juga gitu, sempat becandaan ama temen. Gila yah kita jadi IRT aja kualifikasinya tinggi boow S2 pake acara nyuci piring lagi di rumah wkwkwk. Kadang dibawa becandaan ajah.

    Akhirnya bisa menemukan jalan ya mba 🙂
    sukses yaa

    Like

  8. wah mbak, mirip sedikit…..memang jadi ibu rumah tangga bisa bikin frustasi, tapi alhamdulilah sama kayak mbak, suami juga baik hati membantu urusan domestik, saya juga punya usaha kecil di rumah, alhamdulilah pada akhirnya sangat menyenangkan……sukses terus mbak…

    Like

  9. alhamdulillah selalu ada suami yang mendukung ya 🙂 memang betul menjadi istri sekaligus jadi ibu bukan perkara yang mudah, tapi setidaknya kita para ibu berusaha sekuat dan semampu kita dalam menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Jika bukan karena rasa syukur juga wujud ketakwaan kepada Allah pastilah sulit menjalaninya dengan hati yang bahagia dan ikhlas. Makasih sudah berbagi, sedih, sakit, pahit, stres adalah manusiawi, aku pun begitu. Yuk tetap semangat dan jadikan ini jalan menuju surgaNYA Allah 🙂 peluuuuuk

    Like

  10. I feel that now
    Gimana gak desperate
    Anakku sekarang berubah jam biologisnya
    Bangun siang, tidur siang sorenya, tidur malam jam 11
    Jadi wis gak isoh ngapa-ngapain

    Like

  11. aduh mak tulisannya bagus bingit. Sesuai sm apa yg aku rasain. Karena “keberatan” titel akhirnya jadi ga ikhlas dan ga sabar jadi ibu dan istri di rumah. Padahal kalau kita ikhlas, gak akan ada yg sia-sia di mata-Nya.

    Makasih Mak, tulisannya nendang bgt. Btw salam kenal Mak. Sy jg lg kuliah (rumah di bogor kuliah di Bandung). Kebayang bgt yg Mak rasain waktu itu.

    trims ya Mak 🙂

    Like

    1. Bener mak, apapun profesinya kudu ikhlasss… lass.. lass.. lass… deketin lagi ke Yang Maha Kuasa kalau kitanya kurang ikhlas..

      Wah ini terbalik ya sama aku, aku rumah Bandung kuliah di Bogor. Hihihi. Sukses terus ah Mak buat kita semua. See you on top 🙂

      Like

  12. pernah merasakan hal yg sama..bahkan sekarang juga. akhirnya bekerja “normal” kembali setelah 2 tahun vakum. Eh baru sebulan kerja udah diminta resign…hahahahaa, miris juga rasanya. alasannya karena kasihan sama anak dan jadi merepotkan mertua.
    Baiklah… demi kebaikan bersama, untuk kesekian kalinya kutangkupkan kembali sayap-sayap ini. semoga suatu saat nanti sayap ini akan lebih kuat dan lebar untuk terbang mengarungi dunia…amiin. 🙂
    Semangat ya bune Akmal… you’re not alone….

    Like

  13. kebalikan bgt ma aku, aku malah pengene di rumah aja. Ngurus rumah n punya bisnis ndiri dari rumah…kpn ya itu kejadian…huhuhuuu, mdh2n bisa cepet dikasi rejeki biar bisa mengikuti jejak mb mita…..#curcol edisi udah bosen kerja karena capek

    Like

  14. Pengen mb resign, tapi br resign dari reporter n pindah ke riset swa…hahahhah sama ajah…sebenere pingin mb…tapi ne nunggu punya bebi dulu kayae, doakan ya mb biar cepet dikasi…huhuhuuu udah maleskerjajauhdari rumah alias kemrungsung kayak yg mb sebutin di atas. Nek dah punya anak kayae mantep resign, pengen bisnis dewe,…

    Like

  15. Kalau aku jadi juri lomba lagi, aku pilih sebagai pemenang utama deh. Huaaaa.. keren banget ceritanya.

    Btw, akhirnya kamu bersyukur juga ya dengan keadaan sekarang. Punya suami yang ganteng (eh suwer suamimu ganteng! Kok kamu gak pernah menyebut ganteng ya? hahaha), anak yg lucu dan ganteng jugaaa, Dan perlahan2 karena bersyukur, Tuhan malah memudahkan hidupmu menjadi lebih hepi, lebih menarik rejeki..

    Tuh khan, legowo, bersyukur, memang bermanfaat sekali yaaaa…

    Like

    1. Hehehe, makasih. Ini cerita semi curhat gitu deh…

      oh iya ya, aku lupa nyebutin point ke gantengan suamiku. Eh tapi kalau suamiku terlalu ganteng nanti banyak yg naksir. Gimana donk?

      Yaap! Kudu legowo, kalau Allah punya rencana terbaruaik buat umatNya

      Like

  16. Mak Armitaa, salam kenal, sama banget, saya juga kayaknya udah sebulan terakhir ini mengalami kejenuhan yang samaaa, padahal saya udah niatin mau nulis blog lagi, dan udah gabung KEB kemarin, demi membuat semangat nulis blog. Saya lagi hamil muda Mak, pas mual muntah mulai sedih dan kerasa desperate, mana tinggal jauh sama ibu saya :'(, di rumah nunggu suami pulang. Dan iya banget Mak, saya jadi sedih sendiri, kenapa seringnya gak bersyukur padahal suami udah baik banget ke saya Mak, demi saya betah di rumah. Mak, thank you buat posting ini yaa :’), semoga sukses selalu ya Mak! Curcol banget ya sayaa >.<, tapi postingan Mak menyadarkan saya banget jadinya, terima kasih banyak Mak! :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s