Kain Tradisional Buton, Oleh-Oleh Khusus dari Suami Tercinta


Sore itu aku tengah duduk di depan layar komputer untuk mengerjakan tugas terjemahan yang sebentar lagi mencapai batas tenggat waktunya. Aktivitas ini biasa aku lakukan sambil menunggu kepulangan suami dari kantornya. Tepat pukul 17.00, seperti biasa suamiku sudah sampai rumah dan dengan muka yang tampak kelelahan dia langsung masuk ke rumah. Belumlah selesai aku membuatkan secangkir teh untuknya, dia menunjukkan selembar surat putih bertinta hitam kepadaku. Sontak aku kaget dan langsung bertanya apa maksud dari surat ini.

“Aku ditugaskan ke luar kota selama dua minggu” katanya.

“Berapa lama? dua minggu? Lama sekali. Kemana?” setengah kaget aku mendengarnya.

“Buton, Sulawesi Tenggara”

“Ooh..” sahutku singkat

Atas nama pengantin baru, suamiku pergi terbang ke Buton untuk urusan pekerjaannya. Aku tidak mungkin turut serta bersamanya. Maka, aku pun terpaksa merelakannya bertugas di lain pulau selama dua minggu dan aku menunggu kepulangannya dengan sabar di rumah saja.

Belumlah sebulan kami menikah, kami harus berpisah untuk jangka waktu yang cukup lama menurutku. Bagaimana tidak, bagi pengantin baru, berpisah sehari saja rasanya seperti seabad, apalagi ini kami harus berpisah selama dua minggu. Rasa rindu tentu saja membuncah. Hanya telepon dan pesan singkat yang menjadi obat pelepas rindu.

Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu datang juga. Suamiku akan pulang kembali ke rumah. Tidak banyak yang aku harapkan, apa lagi oleh-oleh. Yang penting suamiku bisa pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun dan kami bisa melanjutkan kehidupan bersama kembali.  Alhamdulillah benar saja, suamiku pulang sempurna, tidak sakit, dan kami siap berkumpul kembali. Bahagia.

dress kain tradisional ButonLebih bahagia lagi, rupa-rupanya suamiku membawakan oleh-oleh khas Buton. Apa itu? Adalah kain tradisional berbentuk sarung perpaduan warna hitam, merah muda dan merah muda yang khusus dia bawakan untuk istri tercintanya.

Aku tentu saja terkejut sekaligus senang menerima oleh-oleh ini karena tidak mengira bahwa dia tau apa yang aku suka. Pun aku tidak bilang minta dibelikan ini atau itu. Diam-diam suamiku curi informasi apa yang menjadi kesukaanku. Wajar saja dia belum tau apa yang aku sukai karena kami menikah baru hitungan hari. Sebelum menikah pun kami tidak berinteraksi banyak karena kami menikah tanpa proses pacaran yang lama. Selama di Buton, suamiku berburu kain khas sana di pusat oleh-oleh dan mendapatkan kain berbentuk sarung berwarna salur merah tersebut khusus untukku.

Kain tradisional daerah adalah kesukaanku dan suamiku semakin menggenapi koleksiku. Terimakasih ya, sudah membuat istrimu ini semakin bahagia. Kain tradisional dari Buton ini menjadi oleh-oleh yang paling berkesan buatku karena ini adalah oleh-oleh pertama yang dibawakan oleh suami ketika dia dinas luar. Bukti cinta tanpa perlu diminta. Warnanya aku suka banget. Merah muda dan merah bata merupakan warna favoritku. Kainnya juga adem jadi ketika di pakai tidak mudah panas. Bahannya pun tidak ngeplek/tidak membentuk badan.

Beberapa minggu setelah aku menerima oleh-oleh ini, aku bawa kain tersebut ke penjahit. Aku desain sendiri. Jadilah dress sederhana seperti yang aku pinta. Alhamdulillah.

banner-giveaway-missfenny-dan-kampoeng-semarang

9 thoughts on “Kain Tradisional Buton, Oleh-Oleh Khusus dari Suami Tercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s