Melahirkan Anak Kedua – Part 1


Melahirkan Anak Kedua

A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities. (Eda J. Le Shan)

Melahirkan Anak Kedua – Part 1. Hari ini umur Azril masuk 1,5 bulan. Berarti 1,5 bulan yang lalu saya berjuang mati-matian untuk melahirkannya. Well, sebenarnya bukan cuma saya yang berjuang sih, tapi si kecil Azril juga ikut berjuang untuk hadir ke dunia ini.

Melahirkan anak kedua banyak yang bilang lebih mudah dibandingkan dengan anak pertama. Yap, saya sedikit banyak setuju dengan pernyataan orang-orang kebanyakan ini. Saking mudahnya, saya sampai hampir telat pergi ke klinik bersalin karena saya gak terlalu merasakan adanya kontraksi-kontraksi seperti dulu pas melahirkan Akmal. Waktu jaman Akmal dulu, kontraksi itu rasanya seperti digilas, luarrr biasa, sampai-sampai saya gak bisa tidur.

Baca juga:

Menyambut Kelahiran Akmal (1)

Menyambut Kelahiran Akmal (2)

Meskipun melahirkan Azril sudah 1,5 bulan yang lalu, gak basi kan ya kalau saya cerita tentang bagaimana lahirnya anak kedua kami. Soalnya masih ada aja yang suka nanya bagaimana saya kemarin melahirkan Azril. Daripada bolak-balik cerita, mending ditulis aja di blog. Hihihi, tinggal kasih link, dan baca aja sendiri. Lagian saya juga baru punya waktu sekarang, sebulan kemarin masih asyik adaptasi dengan sang penghuni baru, memperhatikan siklus keseharian si kecil, membiasakan anak pertama akan kehadiran adiknya, dan saya yang juga jadi ketambahan job desc baru.. hihihi… apalagi di rumah juga gak punya ART, pokoknya harus pinter bagi-bagi waktu.

Ohya, siapa tau nanti kalau Azril udah gedhe, dia bisa baca sendiri tentang proses kelahirannya. Bisa flash back bagaimana kami dulu sama-sama berjuang untuk bisa saling bertemu.

Terus juga, siapa tau ada mama-mama yang sedang hamil dan sekarang sedang mencari kisah tentang melahirkan. Ya kali tulisan saya ini bisa digunakannya sebagai referensi dan sumber inspirasi, hihihi. Yah walaupun acak adut bahasanya, semoga bisa memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.

Ohya, saya juga punya hutang ke teman-teman saya untuk menuliskan kisah lahiran Azril ke blog. Jadi, sebelum ditagih-tagih lagi sama teman-teman, beginilah cerita melahirkan anak kedua kami, Azril Adhiatqa Hasan.

Sabtu, 9 Mei 2015.

Masih ikut kelas senam hamil di RS Hermina Arcamanik. Pas diperiksa sama Bu Bidan, janin sudah masuk ke panggul dan mapan. Bisa saja lahir dekat-dekat waktu ini. Di sini saya juga diajarin ngeden, hahahaa, saya salah donk caranya ngeden yang bener. Untung diajarin sama Bu Bidannya sampai betul. Ngedennya gak boleh keluar suara, tarik nafas yang panjang, keluarkan nafas, yak ngeden sambil pusatkan tenaga ke daerah sekitar perut. Ngedennya harus kuat seperti lama gak BAB. oke, siap, noted Bu Bidan. Semoga nanti saya gak lupa ilmu ngedennya. 🙂

Dua hari sebelum melahirkan anak kedua berfoto dulu di kelas senam hamil.
Dua hari sebelum melahirkan anak kedua berfoto dulu di kelas senam hamil.

Senin, 11 Mei 2015.

Suami pamit buat dinas ke Jakarta pagi-pagi. Saya sih setuju aja dia berangkat kerja ke Jakarta (rumah kami di Bandung) soalnya belum kerasa apa-apa. Paling kontraksi-kontraksi palsu aja. Masih bisa tertangani lah.

Ohya, HPL dari dokter beda-beda. Ada yang bilang 11 Mei, 15 Mei, sampai 18 Mei. Kenapa beda-beda? Soalnya haid saya gak teratur. Trus hari pertama haid terakhir (HPHT) juga gak terdeksi. Sayanya bener-bener lupa kapan haid terakhir. Kok bisa? Lah iya, kan haid saya gak teratur, kadang sebulan dua kali, kadang sebulan sekali, kadang malah dua bulan sekali. Kan saya masih nyusuin anak pertama, Akmal, jadi siklus haid saya gak teratur. Saya juga gak rajin nyatetin tanggal kapan haid. Bad me >,<, jangan ditiru ya.

Pegangan saya, pokoknya jadwal melahirkan saya antara 11-18 Mei itu. Saya sih berharap sekitar 15 Mei, hihi, soalnya pas tanggal tersebut banyak liburnya. Jadi nanti suami bisa nemenin saya tanpa harus banyak ambil jatah cuti kantor. Hihihihi… alasannya gak banget ya.. 😛 😛

Oke, karena tanggal 11 Mei pagi belum kerasa mules-mules, berangkatlah suami ke Jakarta. Dia berpesan, kalau ada apa-apa segera hubungi dia. HP sudah full batre, charger juga sudah dibawa, in case batrenya habis, dia bisa isi daya dimana aja. Nomor HP teman kantornya yang berangkat bareng ke Jakarta juga sudah dikirimkan ke saya. Kalau nanti HP dia mati dan gak bisa dihubungi, segera hubungi temannya, takutnya ada apa-apa.

Di rumah, saya masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, mengasuh Akmal, dan menyelesaikan proyek terjemahan. Alhamdulillah, untuk mengasuh Akmal saya dibantu oleh adik ipar yang memang sengaja diminta bantuannya untuk tinggal sementara di rumah. Kerjaan terjemahan sendiri sebenarnya deadline tanggal 18 Mei. Tapi saya dari awal nerima kerjaan terjemahan ini, saya sudah bertekad bahwa kerjaan harus selesai sebelum tanggal 18 Mei. Soalnya tanggal segitu saya diperkirakan sudah melahirkan. Pastinya nanti kalau adik bayi sudah lahir bakalan repot dan gak bisa pegang terjemahan. Makanya saya mau selesaiin sebelum DL. Adik bayi juga saya rayu-rayu supaya lahirnya nanti kalau saya sudah selesai nerjemahin dokumen ini.

Bayinya sudah siap lahir.
Bayinya sudah siap lahir.

Kriiinggg…. HP saya bunyi…Ada telpon, nomornya dari Jakarta.

Saya kira suami yang telpon. Ternyata tim kreatif dari Dahsyat RCTI. Saya mbatin, ini tim Dashyat nelpon saya apa mau manggil saya ke Jakarta buat cerita-cerita tentang nama bayi ya? Yap, dugaan saya ternyata betul. Tapi panggilan ke Jakarta ini terlalu mendadak. Saya dijadwalkan syuting hari Selasa 12 Mei. Aaah… dengan terpaksa saya tolak. Gimana lagi, di tanggal tersebut saya udah mau lahiran. Masa saya mau nekat tetap memenuhi undangan Dahsyat. Takutnya nanti bayinya brojol di jalan menuju Jakarta atau malah bisa-bisa lahiran di lokasi syuting. Tidaaakk. Mungkin belum rejeki saya untuk nongol di TV lagi. Seminggu sebelumnya juga nolak undangan dari ANTV. Waktu itu diundang buat ngisi acara Pesbukers lagi. Semoga ada rejekinya di lain kesempatan ya. Aamiin.

Bersambung dulu ya, nanti saya lanjutin lagi cerita tentang melahirkan anak kedua saya ini. Tungguin aja ceritanya, pokoknya dalam waktu tidak lama lagi, si baby tau-tau keluar. Untung gak lahir di mobil ya dek. Gimana ceritanya? Sabar yaa..

***

Kelanjutan ceritanya bisa di baca di Melahirkan Anak Kedua – Part 2.

19 thoughts on “Melahirkan Anak Kedua – Part 1

  1. Firasatku ini disuru dasyat kasi nama anaknya gigi ma rafi hehehheh…
    wahhh ayok mb dibikin lagi ceritanya dari awal, kayak pas tau hmil lagi, per semesternya pe melahirkan hihihiiiiii, biar ada pengetahuan nih…

    Like

  2. Seru juga yavmenuliskan kisah seputar kehamilan dan prosrs kelahiran anak keduanya.. Bisa dijadikan semacam album kenangan namun berupa tulisan yg abadi..bkelak si kecil ketika sdh tumbuh besar dan sukses akan membacanya .. Efeknya dia akan lebih menghargai orangtua dan mengaaihi dgn tulus ya Mbak..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s