Mudik Bersama Balita? Bisa! Ini Caranya


MudikMudik dalam rangka lebaran tahun 2015 kemarin adalah mudik pertama bagi kami dengan membawa duo krucil. Si kakak yang berusia 2.5 tahun dan adiknya yang baru berusia 2 bulan. Tahun ini adalah giliran kami mudik ke rumah orang tua saya di Purworejo, Jawa Tengah yang berjarak sekitar 350 km dari Bandung, tempat tinggal kami saat ini.

Tahun-tahun sebelumnya, kami biasanya menggunakan kereta untuk mudik. Namun tahun ini, moda transportasi yang dipilih untuk mengantarkan keluarga kecil kami adalah mobil. Mobil terpaksa kami pilih karena kami sudah kehabisan tiket kereta. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana kami sudah memesan tiket kereta 3 bulan sebelum keberangkatan, tahun ini kami sengaja tidak memesan tiket kereta. Apa pasal? Karena kami tidak berencana untuk mudik. Lebaran akan kami rayakan di Bandung saja karena saya baru saja melahirkan anak kedua kami, Azril, di bulan Mei lalu. Sepertinya terlalu riskan jika membawa bayi yang masih merah untuk melakukan perjalanan jauh yang bakalan menyita waktu minimal 8 jam perjalanan. Selain itu, keluarga besar kami juga baru saja berkumpul di Bandung dalam rangka aqiqah si adik. Makanya kami mantap berlebaran di Bandung saja.

Sampai kemudian suami saya mengambil jatah juti tahunan untuk lebaran. Pertamanya, bingung mau digunakan kemana jatah cuti tersebut la wong kami orang rantau dan gak punya saudara di Bandung. Lebaran tanpa saudara itu gak seru. Mau jalan-jalan di Bandung juga pasti macet. Baiklah, gunakan saja untuk mudik. Iya, mudik. Walaupun sebelumnya sudah diputuskan untuk tidak mudik tapi dari pada gak ngapa-ngapain, mending mudik saja. Menyambung silaturahim dengan saudara dan tetangga di kampung.

Mudik dengan membawa dua anak yang masih kecil-kecil sudah kebayang donk repotnya seperti apa. Beberapa kekhawatiran menyergap kami seperti ketakutan nanti anak-anak akan bosan, kecapekan dan lalu jatuh sakit. Tentunya, kami gak menginginkan hal tersebut terjadi.

Supaya mudik terhindar dari kekhawatiran itu, kami melakukan beberapa hal menjelang dan saat mudik berlangsung. Apa sajakah itu?

  1. Hipnotis

Hihihihi, ini bukan hipnotis yang kayak gimana ya, tapi ini semacam memberikan pengertian berulang-ulang kepada anak-anak supaya apa yang kita katakan itu dimengerti oleh mereka dan masuk ke alam bawah sadarnya. Caranya, sejak beberapa hari sebelum keberangkatan mudik, kami selalu bilang ke anak-anak bahwa nanti hari apa, tanggal sekian, kira-kira jam segini, kita akan pergi dari rumah. Naik mobil menuju rumah Mbah di Jawa. Kalian yang sehat ya supaya perjalanan nanti jadi tenang dan menyenangkan. Begitu terus, diulang-ulang beberapa kali dalam sehari sampai saat mudik itu tiba. Alhamdulillah, hipnotis ini berpengaruh ke anak-anak saya, mereka jadi tidak rewel selama dalam perjalanan.

Libatkan juga si kecil dalam urusan packing baju dan perlengkapan yang mau dibawa mudik. Dengan begitu, dia menjadi lebih bersemangat dan merasa dilibatkan.

Yang mau dibawa segini banyak, padahal mobilnya kecil dan mudiknya cuma sebentar.
Yang mau dibawa segini banyak, padahal mobilnya kecil dan mudiknya cuma sebentar.
  1. Berangkat awal, pulang awal.

Kami pulang mudik H-7 dan balik ke Bandung H+2. Tujuannya tidak lain tidak bukan supaya terhindar dari macet. Kalau sudah terjebak macet, jangankan anak-anak, orang dewasa juga yang tadinya kalem bisa berubah jadi suntuk dan capek.

Kalau lagi macet, wefie aja. Ini foto diambil pas lagi berhenti nungguin Ayahnya sholat.
Kalau lagi macet, wefie aja. Ini foto diambil pas lagi berhenti nungguin Ayahnya sholat.
  1. Makan cukup dan bawa perbekalan.

Dari kami berempat, hanya Ayahnya saja yang puasa selama mudik kemarin. Saya masih menyusui duo krucil jadi saya tidak puasa. Saat makan sahur pada hari H kami mudik, saya pastikan suami makan yang cukup dan minum yang banyak supaya terhidrasi dengan baik dan tidak lemas ketika nyetir. Pun begitu dengan anak pertama, saya suapi dia banyak-banyak sebelum berangkat. Malamnya, saya siapkan bekal makan dan camilan yang akan dibawa. Minuman jangan lupa ya, biar anak-anak (dan Ibunya) gak kehausan. Anak saya dua-duanya masih ASI, jadi saya gak boleh kehausan.

Suami gogoleran (istirahat). Saya dan si sulung makan di salah satu rumah makan lesehan di Ciamis.
Suami gogoleran (istirahat). Saya dan si sulung makan di salah satu rumah makan lesehan di Ciamis.
  1. Mainan dan berbagai hiburan

Saya bawa beberapa ‘senjata’ untuk meredam jikalau nanti anak mulai suntuk di perjalanan. Sebenarnya ‘senjata-senjata’ ini hanya saya gunakan untuk anak yang besar saja. Soalnya yang kecil kan masih 2 bulan dan belum terlalu bisa apa-apa, jadi yang kecil ini Insha Allah aman di jalan. Kalau haus, tinggal mimi’in. Kalau rewel sedikit, gendong-gendong, elus-elus sebentar, mimi ASI, dia bobo lagi. Bawa bayi umur 2 bulan justru lebih mudah. Kalau masih ASI Ekslusif (sampai umur 6 bulan), bepergian dengan membawa bayi terasa lebih mudah karena ia masih banyak tidur dan belum makan. Jadi orang tua tidak perlu repot bawa bekal makanan.

Untuk anak saya yang besar, saya bawakan ia buku bacaan, mainan favorit dia, bantal, dan mp3 lagu anak-anak. Bahkan mobil sampai penuh dengan perlengkapan anak-anak padahal mudiknya cuma sekitar 10 hari tapi rasanya mobil kok sesak seperti mau minggat. Hehehe.

70% isi mobil adalah perlengkapan anak-anak. heuheu..
70% isi mobil adalah perlengkapan anak-anak. heuheu..

Beberapa kali si sulung terlihat bosan dalam perjalanan. Semua bekal mainan sudah saya keluarkan. Buku sudah dibaca berkali-kali. Saya ajak dia ngobrol dan mengomentari apa aja yang kami lihat di jalan. Nyanyi juga sudah gonta-ganti sampai suara saya sumbang, tapi dia tetep rewel. Well, kalau sudah begini, saatnya berhenti dan turun dari mobil. Picnic time!

Istirahat lagi sambil lihat-lihat ikan di salah satu pom bensin di Purwokerto.
Istirahat lagi sambil lihat-lihat ikan di salah satu pom bensin di Purwokerto. Picnic murah meriah.
  1. Santai dan nikmati perjalanan.

Namanya juga mudik jauh ya, antar kota antar provinsi. Apalagi bawa krucil. Perjalanan harus di bawa santai, tidak terburu-buru dan nikmati setiap meter perjalanannya. Kalau normal, perjalanan Bandung – Purworejo bisa ditempuh selama 8 jam. Tapi kemarin kami membutuhkan waktu 12 jam di jalan. Gak kena macet sih karena jalan masih sepi, belum terlalu banyak pemudik. Ya iyalah masih H-7. Suami nyetirnya santai banget, jalan 50-70 km/jam. Beberapa kali berhenti cukup lama untuk menenangkan anak-anak yang agak rewel, sholat dan berbuka puasa.

Alhamdulillah, malam harinya kami sampai di kampung halaman dalam keadaan sehat dan selamat. Anak-anak pun tidak ada yang sakit. Disambut dengan senyum merekah orang tua dan saudara-saudara yang sudah sampai duluan. Capek, penat, dan suntuk hilang semua. See? Mudik bersama balita bisa kan? Bisa dong!

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga kita semua disampaikan lagi ke Ramadhan tahun depan ya.. Salam hangat dari kami ^^
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga kita semua disampaikan lagi ke Ramadhan tahun depan ya.. Salam hangat dari kami ^^

Semoga tips mudik bersama balita ini berguna ya buat rekan-rekan. Mungkin tipsnya bisa dipakai untuk lebaran tahun depan. Atau mungkin pas mudik akhir tahun nanti. Eh lebaran haji juga udah dekat loh, sebulan lagi. Ada lagi yang paling dekat yaitu libur panjang 3 hari pas hari raya kemerdekaan 17 Agustus minggu depan. Wah-wah, banyak libur panjang. Ayo mudik, ajak balitanya juga ya!

24 thoughts on “Mudik Bersama Balita? Bisa! Ini Caranya

  1. Mudik sm balita, heuheu… Seriing bgt dulu, naik angkutan umum lg. Pernah jg naik motor. 😀 untung gk terlalu jauh, cuma dr cilegon ke lampung. Tp ttp sih, banyaak yg hrs diperhatikan. Thanks tips nya mba, buat pengingat lg nih, bntar lg punya baby aku

    Like

    1. Aku pernah juga mak ngalamin mudik naik bus yang penuh sesak pas lagi hamil anak pertama.. hoho,, seru. pernah juga naik motor, pegel punggung euy.. sip sip.. semoga nih berguna buat nanti kalau perjalanan mudik sama si baby yaa mak noe ^^

      Like

    1. Betul-betul. Sebenarnya lebih enak bawa perjalanan malam kalau bawa anak-anak/balita karena mereka akan tidur dan tidak rewel. Tapi, kemarin kami putuskan perjalanan siang supaya ayahnya yang nyetir gak ngantuk. Hehehe..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s