Produk Investasi Untuk Freelancer


Produk Investasi untuk Freelancer. Lima tahun lalu saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya di sebuah perusahaan konsultasi di bidang lingkungan yang baru saya rintis sekitar satu setengah tahun itu. Ya ampun, baru setengah tahun kerja aja belagu banget pakai resign segala.

Bukan tanpa sebab saya meninggalkan posisi saya sebagai penerjemah di kantor tersebut. Oktober 2010, saya diterima sebagai salah satu mahasiswa master di sebuah perguruan tinggi di Kota Bogor. Atas nama fokus kuliah, akhirnya saya memberanikan diri menghadap manager saya dan Alhamdulillah sang manager mengabulkan keinginan saya untuk fokus kuliah dan meninggalkan pekerjaan saya tersebut.

Belum sampai lulus kuliah, saya menikah. Tepatnya September 2011. Lulus kuliah akhir tahun 2012, setahun setelah menikah. Idealnya, setelah lulus kuliah, adalah bekerja (lagi) di perusahaan yang sudah saya incar sejak dulu. Kerja di ibukota negara dengan ritme yang lebih dinamis dan gaji yang cukup buat kipas-kipas.

Tapi itu ternyata cuma jadi bayangan yang tidak sempat menjadi nyata. Saya keburu hamil. Diamanahi anak adalah anugerah yang tidak bisa dikalahkan oleh keegoisan saya memburu karir di ibukota. Lagian, suami tidak meridhoi saya berkarir kantoran. Lagi, atas nama ketaatan kepada suami, saya menuruti sarannya untuk mulai usaha saja dari rumah.

Sejak itu, mulailah peran saya sebagai seorang ibu dan juga pekerja dengan virtual office.

Menjalani profesi sebagai freelancer di mata orang mungkin terlihat menyenangkan. Bisa bekerja dari rumah, bisa sambil nongkrong di cafe, bisa memanfaatkan kemacetan dengan bekerja dari dalam mobil, waktu yang lebih fleksible, bisa sambil mengasuh anak, tidak punya atasan, dan bekerja tanpa seragam adalah poin-poin positif dari enaknya bekerja paruh waktu.

Tapi, taukah bahwa bekerja tanpa ikatan kantoran kadang membuat saya merasa was-was. Dulu, saya biasa menerima gaji bulanan secara teratur. Setiap tanggal 15, sejumlah uang masuk ke rekening saya. Istilahnya, saya punya pendapatan tetap.

Lepas profesi karyawan, pendapatan saya Alhamdulillah. Kadang banyak, kadang banyak sekali. Kadang ada, kadang nol. LOL. Inilah yang bikin dada bergemuruh karena was-was. Yah, walaupun bukan kewajiban saya untuk mencari nafkah, tapi setidaknya saya tetap ingin berpendapatan, kalau bisa lebih besar dari gaji bulanan saat saya kerja kantoran dulu.

Sebenarnya, mau gaji kantoran atau freelancer, kalau hidupnya boros dan gak pintar kelola keuangan, bisa-bisa tabungannya jebol karena pasak lebih besar daripada tiang. Mau karyawan, profesional atau pengusaha kalau gak pintar-pintar investasi tetap aja miskin dan gak akan pernah kaya. Seorang karyawan, bisa saja dia lebih kaya daripada profesional ataupun pengusaha karena dia pandai mengatur pendapatannya dan memilih produk investasi yang tepat.

Saya bukan karyawan, tapi bukan pula pengusaha. Bisa dikatakan saya adalah pekerja profesional yang dibayar per jasa yang saya tawarkan. Klien baru bayar setelah saya menyelesaikan pekerjaan yang telah kami sepakati bersama.

Lima tahun lalu, ketika memutuskan untuk resign, saya sembari membuka usaha dengan menawarkan jasa sebagai pembuat nama bayi dan perusahaan. Saya juga tetap menjalin kerjasama dengan kantor saya yang lama dan bergabung sebagai research associate. Setiap uang yang saya peroleh dari menjual jasa tersebut, saya simpan dan diusahakan untuk dikelola dengan baik. Sebanyak 10% (minimal) dari pendapatan tersebut saya gunakan untuk investasi.

Saya minggu kemarin hadir disebuah acara bincang keuangan dimana salah satu pembicaranya adalah Safir Senduk. Menurut pakar perencana keuangan ini, yang membedakan kekayaan antara karyawan, profesional, dan pengusaha adalah level investasi mereka. Semakin banyak investasi, maka akan semakin kaya.

Sebagai seorang profesional, saya pun mau kaya. Salah satu jalan yang saya tempuh adalah investasi. Di tulisan saya kali ini, saya mau berbagi mengenai produk investasi sederhana yang bisa dilakukan oleh freelancer atau pekerja profesional seperti saya.

1. Emas

Sekarang, beli emas itu mudah. Mau beli yang bentuk perhiasan atau batangan, bisa beli secara online atau pun bisa ke toko fisiknya. Saya sendiri masih belum berani beli emas secara online, lebih memilih beli langsung ke toko emas karena alasan keamanan. Beli emas bisa nyicil, bisa juga tunai. Bahkan sekarang kita bisa beli di Pegadaian, dan saya pernah nyobain beli emas batangan di Pegadaian. Walaupun saya harus nunggu sebulan untuk dapetin emas fisiknya, saya tetap puas dengan jasa layanan penjualan emas dari Pegadaian ini.

Investasi emas ini sifatnya jangka menengah sampai panjang ya, yang artinya kita baru bisa menikmati hasilnya paling gak 5 tahun ke depan. Sabar. Tahun 2011, harga emas Rp 516.000/gram (99,9%). Sekarang sekitar Rp 577.000/gram untuk logak mulia. Lihat ya perbedaannya.

Baca juga: Belajar Investasi dengan Emas

2. Mata Uang

Nilai rupiah saat ini sedang melemah posisinya terhadap dollar. Di satu sisi, ini tidak baik bagi bangsa karena kita mengalami goncangan ekonomi. Namun di sisi lain, kalau kita punya dollar, inilah saat yang tepat untuk menukarkan dollar kita ke rupiah.

Saya dulu sempat beli US dollar waktu nilainya masih sekitar Rp 11.000 per dollarnya. Gak banyak sih, cuma buat bekal suami pergi ke Filipina selama 3 hari. Sampai sekarang belum di tukar lagi ke rupiah. Lumayan juga sebenarnya ya kalau ditukar, kan ada selisih. Tapi gak tau, lagi males aja ke money  changer. Hihihi.

3. Properti

Ini investasi yang sedang saya incar bersama suami. Pengennya sekarang beli tanah dan nanti bisa dijual lagi. Atau tanah tersebut dibangun rumah yang nantinya akan disewakan. Kepikiran juga untuk bangun kos-kosan. Jadi nanti kalau kami sudah tua, duduk manis aja tiap bulan sambil kipas-kipas dan terima uang sewa kos-kosan dari para penyewa.

Pengen juga beli rumah yang sudah jadi dan disewakan. Tapi rupanya setelah intip-intip tabungan, uang kami belum cukup untuk membeli rumah lagi. Ohya, bulan kemarin ada orang yang menawarkan kami sebuah rumah. Ceritanya dia mau jual rumah karena BU alias Butuh Uang. Kami sempat melihat rumahnya dan kami suka. Posisinya di kaki gunung, adem dan tentrem. Hiks, tapi ingat lagi kalau kami gak ada dana untuk beli rumah tersebut padahal kami suka. Ya sudahlah, mau gimana, daripada dipaksakan nanti malah repot. Doakan kami ya dapat rejeki yang banyak dan berkah supaya bisa beli tanah atau rumah untuk investasi ini.

4. Reksadana, Unit Link dan Saham

Menurut pakar ekonomi, reksadana, unit link dan saham adalah bentuk investasi yang paling oke saat ini. Tapi saya  belum pengalaman nih tentang ini. Masih berusaha mempelajarinya satu per satu. Mungkin ada pembaca blog saya yang lebih tau dan mau berbagi pengalamannya dengan saya, tentu saya sangat terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut.

5. Deposito

Saya belajar investasi dengan deposito kira-kira 5 tahun lalu di sebuah bank syariah nasional. Kenapa syariah? Ya sebagai seorang muslim saya ingin investasi saya dikelola dengan benar sesuai syariat Islam dan menghindari riba.

Saya memilih bank tersebut selain karena syariah, lokasinya dekat dengan kampus IPB. Jadi saya tidak perlu jauh-jauh jika saya ada perlu mencairkan deposito saya. Benar saja, deposito pertama saya gak bertahan lama. Baru setahun sudah dicairkan, hihihi, untuk biaya nikah. 😛

Dulu, kegiatan kuliah saya masih padat. Mana sempat survey ke tiap-tiap bank untuk membandingkan produk deposito yang mereka tawarkan. Repot banget.

Sekarang, jaman makin canggih. Kita gak perlu repot, takut kepanasan ataupun kehujanan atau malah kejebak macet di jalanan gara-gara kita survey dari satu bank ke bank lain untuk ngecek deposito. Cukup ke cermati.com saja, kita bisa langsung membandingkan produk deposito dari banyak bank sekaligus tanpa perlu ke luar rumah. Tinggal duduk manis di depan komputer dan Cermati akan bantu kita.

Caranya:

  1. Masuk ke web Cermati: https://www.cermati.com/. Pilih produk deposito. Saya pilih yang Deposito Syariah, sesuai dengan minat saya
  2. Muncul produk deposito yang ditawarkan sesuai kriteria oleh banyak bank dalam satu layar. Rekan-rekan bisa langsung membandingkannya. Ohya, bisa juga mengerucutkannya berdasarkan pilihan mata uang, jumlah uang yang akan didepositokan dan tenor waktunya.
  3. Klik info lengkap (tombol warna biru) untuk mengetahui produk deposito yang ditawarkan. Misalnya pilih produk deposito dari BCA Syariah.
  4. Klik ajukan sekarang (tombol warna orange) untuk proses pengajuan deposito. Isikan data pribadi dan kirimkan formulirnya. Selesai.
Klik untuk memperbesar
Klik untuk memperbesar

Di Cermati, selain produk deposito syariah, ada juga produk kredit motor loh. Ada juga kredit tanpa agunan, kredit multi guna, kredit kepemilikan rumah, dan masih banyak lagi. Sok lah di utak atik, di klak klik dulu webnya Cermati. Cari apa yang dibutuhkan dan nanti Cermati bisa bantu.

Sejauh ini, dari kelima produk investasi di atas, baru ada 3 yang berhasil saya coba (emas, mata uang dan deposito). Saya masih punya pe-er untuk mencoba berinvestasi di bidang properti dan reksadana-unit link-saham. Doakan saya berhasil ya!

Namanya juga freelancer ya. Pendapatannya kadang ada, kadang enggak. Kadang banyak, kadang banyak sekali seperti saya sebutkan di atas. Supaya freelancer tetap bisa berinvestasi, saran saya, langsung sisihkan minimal 10% dari setiap pendapatan yang diperoleh. Jika bisa lebih besar dari 10% maka lebih baik. Ingat sisihkan di awal ya, jangan nunggu di akhir ketika uangnya mau habis. Saya jamin gak ada yang teralokasi untuk investasi jika dana investasinya diletakkan di akhir. Taruhan. #eh taruhan gak boleh ya :p

Ohya, menurut teman-teman, selain kelima produk investasi yang saya sebutkan di atas masih adakah produk investasi yang belum saya sebutkan dan cocok untuk freelancer. Yuk berbagi, siapa tau kita bisa saling melengkapi. #tsah. Da aku mah masih pemula jadi freelancer, masih pula belajar investasi kok.

Yuk investasi!

30 thoughts on “Produk Investasi Untuk Freelancer

  1. Blog / Website jg bisa jd sarana investasi, tapi mungkin investasi jangka menengah.
    Bikin website, kalau bisa yg user generated content, kelola SEO, kelola traffic, begitu udah lumayan bisa dipasang adnetwork macem Google Adsense dll.
    Saat ini baru punya satu, pingin bikin lagi yg lain. tapi blm sempet2, malah bikinin punya orang terus. hahaaa…

    Like

  2. Kalo aku sekarang lagi ngembangin beberapa website untuk investasi juga, web yang menghasilkan lewat AdSense, gampang-gampang susah, semoga bisa segera mendapat hasil sesuai keinginan, hehe.

    Saling mendoakan ya mbak Armita.

    Btw, salam kenal 🙂

    Like

  3. Mbak, saya punya softcopy excel personal financial plan dari kakak kelas. Tapi masih berusaha mencerna perbagiannya untuk ngecek apakah kondisi finansial kita sudah sehat atau masih harus dikelola ulang. Tapi postingan ini memudahkan aku yang juga freelancer untuk mengira-ngira langkah konkrit buat nabung gimana. Hehe, makasih infonya mbak 🙂

    Like

  4. Mit, selain LM tabungan Dinar juga bagus. Lbh retail tapi harga jg oke. Klo dibank ada tabungan rencana yang bisa autodebet setiap bulan. Minimal setahhn, lumayan buat disiplin diri 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s