Hari Pelaksanaan Kelas Inspirasi Subang


1

“Keluar… keluar… takut mobilnya gak kuat!” Setengah berteriak, suami saya memburu kami untuk lekas bergegas keluar dari mobil. Perintah yang kemudian kami ikuti dengan segera turun dari mobil. Sedetik kemudian dua orang laki-laki dan dua perempuan berlari menuju mobil kami. Satu dari mereka sigap menempatkan batu sebesar kepala orang dewasa di ban mobil belakang kami. Yang lainnya mengerahkan tenaga besarnya membantu mendorong mobil dari belakang agar lajunya mampu melewati tanjakan terjal berbatu di jalan menuju Desa Cisalak, Subang, Jawa Barat.

Pagi itu, Sabtu 23 Januari 2016, mulut saya tidak berhenti merapal doa. Memohon kepada Yang Kuasa agar diberikan kemudahan, kelancaran, dan keselamatan sehingga perjalanan kami para relawan Kelas Inspirasi disampaikan di tempat tujuan dengan tanpa suatu kekurangan apapun. Jika medan jalan tidak seterjal itu, mungkin saya bisa duduk dengan tenang di kursi belakang mobil tanpa rapalan doa. Namun, kondisi jalan dengan bongkahan batu dan kerikil tak beraturan sungguh menguji nyali.

Empat buah mobil beriringan dari meeting point di Kota Subang menuju lokasi yang berjarak sekitar 30 km. Jika jalanan lurus dan lancar, maka bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun ternyata, akses menuju ke sana tidaklah mudah. Kondisi jalan naik turun, berkelok, ada yang sebagian di aspal, ada yang sebagian masih berbatu. Tanjakan jalan ada yang landai dan ada pula yang tajam.

Dorong mobil

Total ada sekitar empat tanjakan tajam dengan jalan berbatu yang harus kami lalui. Kondisi mobil kami yang kurang mendukung untuk petualangan offroad semakin menambah ketegangan. Coba bayangkan, mobil kami sempat berhenti di tengah tanjakan, sempat mundur beberapa meter karena tidak kuat menanjak. Untunglah suami lihai di belakang setir dan rekan-rekan sesama relawan sigap membantu.

Dua jam hampir berlalu. Kami bertanya-tanya, apakah lokasinya sejauh itu sampai harus menempuh perjalanan 2 jam. Bukit sudah kami lewati, tanjakan sudah didaki, tapi belum sampai juga.

Ketegangan kami berubah menjadi kelegaan begitu tulisan SDN Cisalak Subang terlihat di ujung jalan. Keriangan anak-anak menyambut begitu kami keluar dari mobil. Sambutan ramah dari para guru semakin menghangatkan suasana perkenalan.

DSC_0005

Beberapa waktu yang lalu, di blog ini saya sudah menyampaikan bahwa saya tergabung bersama 30 orang lainnya sebagai relawan Kelas Inspirasi Subang. Kami terbagi menjadi 2 kelompok berdasarkan lokasi SD yaitu kelompok SD Cisalak dan kelompok SD Sukamulya. Saya sendiri tergabung di kelompok SD Cisalak.

Baca: Mengenal Kelas Inspirasi Subang

SDN Cisalak, Subang menjadi tempat pertama kali saya mengajar. Untuk seorang yang tidak memiliki latar belakang mengajar seperti saya, berdiri di depan kelas adalah hal yang menegangkan. Bertatapan dengan mata anak-anak yang polos sambil menyampaikan bahan cerita. Berusaha menguasai kelas supaya semua siswa fokus dengan apa yang saya sampaikan. Menceritakan kegiatan sehari-hari dan profesi saya agar anak-anak lebih mengenal. Di SDN Cisalak, saya belajar dan mengajar. 

Di hari pelaksanaan Kelas Inspirasi Subang di SD Cisalak ini, saya kebagian mengajar di kelas 2 dan 3. Begitu saya masuk kelas, anak-anak sedikit heran yang terlihat di raut wajah mereka. Kira-kira apa ya yang akan disampaikan Ibu ini, barangkali seperti itu yang mereka pikirkan.

Melihat semburat ketegangan di wajah anak-anak, saya mengeluarkan jurus perkenalan. Tak kenal maka tak sayang. Saya, Ibu Mita, mengenalkan diri sebagai seorang konsultan nama. Namun karena anak-anak tidak memahami apa itu profesi konsultan, saya kemudian terpikir untuk menyederhanakannya sebagai “tempat cerita para orang tua”. Sepertinya istilah ini lebih mudah dan sederhana untuk mereka terima.

IMG_9478

Selesai mengenalkan diri, saya melihat mereka lebih lumer dan bisa melihat saya sebagai sosok baru yang dapat mereka terima. Supaya lebih hangat lagi, saya mengajak mereka untuk bermain-main. Ice breaking ceritanya. Yeay, mereka berbaris, bernyanyi, melompat, dan mengikuti petunjuk permainan yang saya perintahkan.

Memasuki sesi materi, saya melemparkan pertanyaan kepada anak-anak tentang profesi apa yang mereka cita-citakan ketika besar nanti. Ada tiga besar profesi yang menjadi idaman mereka: guru, polisi, dan dokter. Tidak ada satupun anak-anak kelas dua dan tiga yang ingin menjadi pengusaha. Padahal, (kata orang) pengusaha adalah profesi yang paling banyak uangnya.

Rupanya, gejala yang sama juga ditemui di kelas lain. Ketiga profesi tersebut masih menjadi idola. Sedikit beda dengan anak-anak di kelas enam. Profesi idaman anak-anak kelas enam ini lebih beragam. Ada yang ingin jadi pramugari, juru masak, dan sebagainya.

Ketika mengenalkan profesi saya sebagai konsultan nama atau “tempat cerita para orang tua” saya mencoba menanyai nama anak-anak. Tidak semua tanya. Ada sekitar lima anak yang mau menceritakan namanya. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengerti apa arti dari nama mereka. Nah di sinilah peran saya ambil. Saya mencoba mengartikan nama anak-anak. Ada yang bernama Asep Fikri yang berarti anak laki-laki yang berfikir. Ada yang bernama Adrian Maulana yang berarti laki-laki kaya dan pelindung. Ada yang bernama Atik berarti anak perempuan. Dan sebagainya.

6

Sehari berada di Kelas Inspirasi, kami mencoba memotivasi agar anak-anak terus bersemangat mewujudkan cita-cita mereka. Walaupun mereka tinggal di pucuk gunung, mereka harus tetap menuntaskan kewajiban sekolah mereka setidaknya sampai SMA. Syukur-syukur ada yang sampai jenjang universitas dan kembali ke desa untuk mengabdi.

Jika melihat daya juang anak-anak di SD Cisalak, saya termasuk salah satu yang bangga jika nanti mereka berhasil meraih cita-citanya. Jauhnya lokasi sekolah dari rumah mereka tidak menyurutkan langkah mereka untuk menuntut ilmu, meskipun harus berjalan 2 km menuju sekolah. Luar biasa. Bahkan mereka harus rela untuk libur sementara jika hujan deras menyapa. Pasalnya, kegiatan belajar mengajar harus dihentikan karena posisi sekolah mereka yang tepat berada di bawah bukit. Khawatir longsor menerjang.

Saya kecil mungkin tidak sanggup jika harus berjalan kaki 2 km ke sekolah dan 2 km lagi untuk pulang ke rumah. Mungkin saya menyerah. Tapi tidak dengan anak-anak ini. Mereka tetap gigih berjalan kaki beriringan dengan teman-temannya menuju sekolah. Mendengar cerita ini, saya kemudian malu karena di awal sempat mengeluh dengan terjalnya jalan menuju ke kampung ini.

IMG_9622

Siang sudah menjelang. Kegiatan Kelas Inspirasi sudah hampir usai. Sebelum kami pulang dan menyudahi kegiatan ini, kami meminta seluruh anak untuk menuliskan cita-cita dan impian mereka di kerta kecil. Kemudian menempelkannya di balon-balon impian yang sudah kami susun di ruang perpustakaan. Semoga dengan terabadikannya impian mereka ini menjadi penyemangat dalam mewujudkan cita-cita.

Sehari di Kelas Inspirasi ini semoga bisa selamanya menginspirasi. Kami pulang dengan riang, hati yang lebih lapang.

Salam,

Armita.

 

13 thoughts on “Hari Pelaksanaan Kelas Inspirasi Subang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s