Kerja dari Rumah
Lifestyle

Hindari Virus Corona, Kerja dan Belajar dari Rumah Saja

Tentang pengalaman kerja dari rumah atau work from home (WFH) ini seminggu ke belakang menjadi sangat hits atau naik daun. Ini karena di Indonesia (bahkan di dunia) sedang terkena wabah corona. Memang luar biasa efek dari si virus nakal corona ini ya. Sampai mampu melumpuhkan manusia dan juga sendi-sendi pekerjaan dan perekonomian negara.

Tapi di sini saya gak akan banyak bahas tentang virus corona. Sudah banyak berita online maupun offline yang menuliskan tentang virus yang awal berkembangnya dari daerah Wuhan, China. Cari aja sendiri beritanya ya.

Konsep WFH ini dijalani oleh suami saya. Sejak Senin 16 Maret 2020 sampai Jumat 27 Maret 2020 nanti dia bakalan terus kerja di rumah. Kantornya memang menetapkan kebijakan agar semua pegawainya kerja dari rumah. Mengingat kondisi penyebaran virus corona semakin meningkat.

Sebenarnya, ini pertama kalinya suami saya merasakan WFH. Pernah memang sebelumnya dia merasakan kerja dari rumah. Tapi hanya sebatas lemburan malam kalau ada tugas yang belum selesai. Atau pas lagi gak enak badan tapi ada kerjaan yang gak bisa ditinggal. Jadinya dia kerja dari rumah.

Kondisi sekarang seminggu ini benar-benar deh memprihatinkan banget. Acara-acara di kantornya seperti seminar, pelatihan, kunjungan ke luar kota semua dibatalkan. Mau ada tamu yang datang juga gak diizinkan. Semua demi mengurangi intensitas bertemu dengan orang yang bisa saja membawa/carrier corona.

Rasanya Kerja dari Rumah

SystemEver

Waktu saya tanyain gimana rasanya kerja dari rumah online, dia jawab enakeun. Kerjaan jadi lebih cepat selesai. Yang biasanya selesai dalam 1 hari kerja, kali ini dia bisa menyelesaikan kerjaan cuma dalam waktu 2 jam. Wow, jauh lebih cepat. Ini sih karena dia lebih fokus kalau kerja dari rumah dan less instruction juga.

Dia juga jadi bisa cuddling sama anak lebih banyak. Gak perlu kena macet tiap pagi dan sore. Dan gak perlu ada acara mandi pagi. Hahaha. Ups.

Tapi repotnya, dia harus kirim laporan tiap sore. Sebelum jam 17, semua pekerjaan dia sudah harus dilaporkan ke kepalanya. Bukan repot sih ya sebenarnya. Lebih ke kewajiban aja. Namanya juga kerja dari rumah. Bukan libur.

Saat WFH ini dia juga diwajibkan share location. Bagus juga sih shareloc ini untuk memantu keberadaan pegawai. Apakah ada di rumah atau malah keluyuran. Awas loh kalau gak #dirumahaja bisa ketauan dan kena tindak.

Oh ya, kata dia, selama WFH ini, absen kantor juga gak berlaku. Pernah ada satu hari, dia harus masuk kerja karena ada rapat penting. Dia udah datang pagi-pagi jam 07.30. Eh ternyata baru ada 3 orang di ruangan. Yang lainnya telat. Mungkin karena absen gak dihitung kali ya, jadi pada telat-telat aja tuh.

Sekolah Libur, Anak-Anak Study from Home

SD di Bandung

Lain lagi dengan pengalaman kedua anak saya. Sejak mewabahnya virus corona di Jawa Barat, terutama di wilayah Bandung, sekolah-sekolah diliburkan. Anak-anak diminta untuk belajar dari rumah.

Anak pertama saya, Akmal, yang saat ini duduk di kelas 1 SD dan anak kedua saya, Azril (kelas TKA), pun harus tinggal di rumah selama 2 minggu ini. Selama sekolah libur ini, anak-anak dapat PR. Lumayan banyak.

Untuk Akmal, ada jadwal harian yang harus dilakukan dari pagi sampai sore. Jadwalnya tidak beda dengan aktivitas harian selama di sekolah. Kata Bu Guru, ini supaya memudahkan anak dengan ritme yang sudah dibangun selama di sekolah. Biar gampang menatanya.

Jadi selama belajar di rumah, Akmal ya mengikuti jadwal yang sudah diberikan oleh wali kelas. Walas sudah memberikan jadwal selama 2 minggu ini.

Tugas wajib dikerjakan dan dikirimkan video atau fotonya. Ada juga tugas yang dikirimkan melalui worksheet. Anak-anak diminta belajar melalui video di YouTube dan jawab pertanyaan yang dikirimkan lewat Google Doc. Akmal jadi belajar sesuatu yang baru nih mengisi lembar jawab via Google Doc.

Selama belajar dari rumah ini, komunikasi antara wali murid dan wali kelas dilakukan via WhatsApp. Aktif sekali grup ini. Hampir selalu ada chat masuk. Gak ngecek WA sebentar aja, udah puluhan chat yang masuk.

Sedangkan Azril, yang masih duduk di bangku TK, tugasnya relatif lebih mudah. Hanya 1 lembar setiap harinya. Ada tugas menulis, mengambar, mewarnai, menghafal surat dan doa-doa, dan juga ada praktek science-nya. Laporan pun sama dengan cara kirim foto/video ke nomor WA Ibu Guru.

Pengalaman Work At Home

melunasi hutang KPR

Saya sendiri udah gak asing dengan konsep kerja dari rumah. Karena saya sudah terbiasa dengan kerja di rumah (work at home) sejak tahun 2011. Jadi sebenarnya dengan adanya gerakan #dirumahaja karena virus corona ini, saya udah terbiasa. Gak aneh lagi.

Sebenarnya cita-cita saya kerja kantoran sih. Dan cita-cita ini masih ada sampai sekarang, kangen kerja kantoran lagi. Semoga nanti ada kesempatan kerja kantoran lagi ya. Amin yang kenceng donk.

Baca: Awal Cerita Bisa Kerja di Rumah

Tapi karena keadaan dan tuntutan suami, saya harus kerja di rumah sambil mengasuh anak. Saya tetap bisa produktif tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu dari 3 anak. Tetap bisa dapat uang dari jasa konsultasi nama bayi dan usaha. Lumayan kerja dari rumah untuk ibu rumah tangga uangnya bisa buat bantu-bantu suami bayar tagihan listrik dan internet unlimited. 

Semua Kumpul di Rumah

work at home

Tetap ada hikmah yang bisa diambil dari adanya wabah virus corona ini. Keluarga kami jadi kumpul 24 jam selama 2 minggu ini. Jadi bisa lebih sering-sering sholat berjamaah juga.

Walau pengeluaran jadi lebih boros karena harus beli makanan, vitamin, sabun cuci tangan, dan lain-lain. Harga-harga kebutuhan juga pada naik.

Saya jadi lebih sering (dan lebih lama) di dapur karena anak-anak lapar terus. Minta dibikinin makanan dan cemilan. Seminggu ini, saya tambah skill bisa bikin bubur sumsum dan surabi gara-gara anak-anak pengen makan itu tapi gak bisa jajan. Mau gak mau saya harus bikin deh.

Kalau mereka sekolah, saya cukup bisa me time sambil kerja. Lah selama seminggu ini, mereka di rumah terus. Saya masak terus gak selesai-selesai. Sampai kadang kerjaan pesanan nama keteteran karena ngurusin anak makan mulu. Hahaha.

Biasanya, kalau di sekolah kan Akmal dapat catering. Jadi kerjaan masak saya lumayan ringan. Ini karena gak sekolah, otomatis catering berhenti donk. Jadilah saya dibantu suami uplek di dapur.

Anak-anak juga sedang dalam masa pertumbuhan juga sih. Yang sedang mamayu. Laper terus. Perut kayak karet.

Hihi, jadi ya begitulah teman-teman. Curcolan saya tentang apa yang saya alami seminggu ini. Udah lama ya gak menulis bebas seperti ini di blog. Kangen juga.

Buat teman-temanku, badai covid 19 ini pasti akan berlalu. Percayalah. Kita perlu bersatu untuk melawannya. Tetap jaga kesehatan dan stamina ya. Jangan keluar rumah kalau gak emergency banget.

Bye! Sampai ketemu di tulisan berikutnya. Semangat untuk kerja dari rumah Indonesia, ya!

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.