Merencanakan Keberangkatan ke Tanah Suci

membuat paspor umroh

Merencanakan Keberangkatan ke Tanah Suci. Tepat satu bulan kemarin, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha yang juga dikenal dengan istilah Hari Raya Haji. Di hari yang istimewa ini, umat Islam berkumpul di pagi hari dan melaksanakan Sholat Ied bersama-sama. Setelah sholat Ied selesai, penyembelihan hewan kurban akan dilaksanakan. Ritual ini akan berulang lagi setiap tahunnya.

Hari raya Idul Adha adalah puncak dari ibadah haji. Haji adalah rukun islam yang kelima setelah sahadat, sholat, zakat, dan puasa. Saya sendiri belum pernah melaksanakan ibadah haji ini. Kendala utamanya ada pada masalah biaya. Bukan rahasia lagi jika menunaikan ibadah haji butuh biaya yang sangat besar. Betul, sangat besar terutama bagi saya yang berasal dari keluarga sederhana.

Bapak Ibu saya, keduanya adalah abdi negara di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah. Berapalah gaji mereka, yang penting cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan cukup untuk biaya kami sekolah. Bahkan, untuk menutupi kekurangannya, Bapak saya juga sambil bertani, mengolah sawah warisan yang luasnya tidak seberapa. Ibu saya? jangan tanya, beliau juga sambil membuka warung kelontong di depan rumah dan sempat juga menerima order jahitan.

Read moreMerencanakan Keberangkatan ke Tanah Suci

Produk Investasi Untuk Freelancer

Produk Investasi untuk Freelancer. Lima tahun lalu saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya di sebuah perusahaan konsultasi di bidang lingkungan yang baru saya rintis sekitar satu setengah tahun itu. Ya ampun, baru setengah tahun kerja aja belagu banget pakai resign segala.

Bukan tanpa sebab saya meninggalkan posisi saya sebagai penerjemah di kantor tersebut. Oktober 2010, saya diterima sebagai salah satu mahasiswa master di sebuah perguruan tinggi di Kota Bogor. Atas nama fokus kuliah, akhirnya saya memberanikan diri menghadap manager saya dan Alhamdulillah sang manager mengabulkan keinginan saya untuk fokus kuliah dan meninggalkan pekerjaan saya tersebut.

Belum sampai lulus kuliah, saya menikah. Tepatnya September 2011. Lulus kuliah akhir tahun 2012, setahun setelah menikah. Idealnya, setelah lulus kuliah, adalah bekerja (lagi) di perusahaan yang sudah saya incar sejak dulu. Kerja di ibukota negara dengan ritme yang lebih dinamis dan gaji yang cukup buat kipas-kipas.

Tapi itu ternyata cuma jadi bayangan yang tidak sempat menjadi nyata. Saya keburu hamil. Diamanahi anak adalah anugerah yang tidak bisa dikalahkan oleh keegoisan saya memburu karir di ibukota. Lagian, suami tidak meridhoi saya berkarir kantoran. Lagi, atas nama ketaatan kepada suami, saya menuruti sarannya untuk mulai usaha saja dari rumah.

Sejak itu, mulailah peran saya sebagai seorang ibu dan juga pekerja dengan virtual office.

Read moreProduk Investasi Untuk Freelancer