Cave Tubing di Goa Sinjang Lawang

Aku anak kampung. Terlahir dan besar di sebuah desa di pelosok Jawa Tengah. Semasa kecil, aku biasa bermain dengan teman sebayaku di alam ya di halaman, sawah, bahkan sungai. Gelak tawa dan canda ringan bersama anak-anak lain menghiasi ketika kami bermain kelereng, sudamanda, petak umpet, boneka atau sekedar masak-masakan dari bahan yang diambil di alam sekedarnya.

Waktu musim tandur (musim tanam padi) tiba, aku dan adikku suka ikut Bapak ke sawah, mengantarkan bekal makanan untuk para pekerja. Ketika Bapak sibuk bekerja di sawah, kami mencari belut di sela-sela pematang sawah. Bahagia tak terkira kalau ada belut yang berhasil tersangkut di pancingan sederhana yang kami buat secara manual. Jika Bapak sudah selesai dengan “tugas dinasnya” di sawah, kami ikut pulang dengan belut tergantung di sepeda tuanya dan kami berdua berdesakkan membonceng dibelakang mengulas senyum kemenangan. Yeay!

Read moreCave Tubing di Goa Sinjang Lawang

Lagi Ya, Bu..

Satu Cukup. Akmal baru lahir

“Sudah ah, satu aja anaknya. Aku kasihan lihat kamu tadi meregang nyawa” ungkap suami beberapa hari setelah aku melahirkan anak pertama kami, Akmal.

Kalimat tersebut masih segar terngiang di telingaku tatkala suami menyodorkan proposal untuk menambah anak lagi. Katanya anaknya cukup satu saja, eh ini kenapa tiba tiba beliau mau punya anak lagi saat Akmal masih belajar tengkurap. Ternyata keinginan punya satu anak cuma bertahan 4 bulan saja.

Kalau aku hamil lagi, apakah rasa sayangmu akan bertambah berkali-kali lipat?” Tanyaku iseng.

Read moreLagi Ya, Bu..

Rencana DIA Lebih Indah

Euforia pendaftaran CPNS begitu membahana selama 3 bulan terakhir ini. Dimulai dari pengumuman formasi, heboh cari SKCK, persiapan persyaratan, pendaftaran online, pengumuman lolos pemberkasan, sampai ujian tertulis. Milis rame, grup whatsapp ribut, timeline penuh, berita tivi berdenging, semua cerita tentang CPNS.

Tadinya saya gak diijinkan ikut tes CPNS satupun sama si suami. Apalagi kalau kerjanya di Jakarta, big no! harus ninggalin anak, suami gak keurus, capek bolak balik Bandung-Jakarta dan berbagai keribetan-keributan yang menyertainya. Pokoknya harus tinggal dirumah, kerja dari rumah, ngurusin anak & suami. Titik.

Kalau mau kerja diluar rumah, pilihannya cuma satu: Dosen.

Eh tapi kira-kira September akhir kemarin dia menawarkan kepada saya untuk coba ikutan daftar dosen UNPAD.

Read moreRencana DIA Lebih Indah