Bandung Sekarang Macet

Banjir dan Macet di Bandung

Beberapa hari belakangan ini, hujan deras mengguyur di wilayah Bandung dan sekitarnya. Jika biasanya hujan turun di sore hari dan berhenti menjelang malam, sudah semingguan ini hujannya turun sejak pagi sampai pagi lagi alias hujan terus menerus. Hujannya itu hujan yang deras sampai deras banget, sampai banjir di mana-mana.

Masih inget kejadian seminggu kemarin pas ada banjir besar yang mirip tsunami di daerah Pasteur Bandung? Iya, kejadian ini sempat bikin heboh di Twitter, Facebook, grup WhatsApp dan bahkan sampai masuk ke TV. Beredar video-video yang menayangkan motor dan mobil terseret arus, persis kejadian tsunami di Aceh 12 tahun lalu.

Saya sendiri ngeri ngeliatnya. Banjir ini gedhe banget. Bahkan sampai ada korban satu orang yang katanya waktu itu dia mau nolongin temannya yang hampir terseret arus, eh malah dia yang terpeleset dan jadi terbawa banjir sampai akhirnya meninggal. Saya di sini gak mau nyalahin siapa-siapa ya. Ridwan Kamil sebagai walikota Bandung aja sampai minta maaf atas kejadian ini. (lebih…)

Klinik kecantikan di Bandung

Cara Mudah Menjadi Ibu Cerdas dari Rumah

Adv. Sejak memulai karir sebagai ibu bekerja dari rumah, saya bisa bilang bahwa menjadi ibu yang bekerja sekaligus mengasuh anak itu perkara susah-susah gampang.

Di satu sisi, saya harus memenuhi pesanan order untuk pembuatan nama bayi dan perusahaan maupun kerjaan terjemahan, namun di sisi lain ada anak-anak yang merengek-rengek minta diajakin main. Dua hal ini terus saya jaga agar bisa berjalan beriringan, pekerjaan tetap jalan dan anak tetap terurus.

Ohya, ada kalanya saya juga mengurusi dan berinteraksi dengan lingkungan dan tetangga, tidak melulu soal kerjaan dan keluarga.

Misalnya berkebun sederhana di pekarangan rumah. Merawat bumi dan alam dengan cara yang saya bisa. Walaupun caranya sederhana, tapi semoga ada dampak baik bagi bumi kita yang semakin hari semakin tua.

Pernah denger istilah Ecomom sebelumnya? Kalau misalnya belum, saya jelasin bentar ya. Ini ada kaitannya dengan bumi, kita, dan masa depan.

Ecomom adalah istilah untuk seorang ibu cerdas yang tidak hanya berpikir untuk kepentingan saat ini tetapi juga berpikir untuk kepentingan jangka panjang atau untuk masa depan.

Cerdas di sini adalah tentang bagaimana kita merawat keluarga, mengurus rumah dan isinya, mengelola keuangan rumah tangga, serta pastinya merawat diri kita sendiri.

Pertanyaannya, apakah semua orang harus jadi ecomom? Menurut saya, iya.

Sangat baik jika semua ibu di Indonesia ini jadi seorang ecomom, dengan begitu kita bisa bersama-sama meningkatkan kualitas hidup keluarga kita agar menjadi lebih baik.

Untuk lebih jelasnya, saya akan jelaskan beberapa contoh tindakan yang bisa mendukung kita jadi ecomom. (lebih…)

Begini Caranya Menghemat Listrik Ala Ibu Rumah Tangga

Adv. Hai ibu-ibu, ada yang nyadar gak sih kalau harga listrik makin naik. Padahal kayaknya kebutuhan listrik rumah tangga kita gak pernah berkurang ya. Oleh sebab itu, kita sebagai pengelola keuangan rumah tangga wajib cermat atur-atur biaya kebutuhan listrik supaya hemat dan tagihannya gak membludak.

Sebenarnya menghemat listrik bukanlah hal yang sulit. Kalau bisa konsisten melakukan hal-hal berikut ini, niscaya penggunaan listrik di rumah akan menjadi semakin hemat. Berikut saya bagi tipsnya ya biar tetap hemat listrik: (lebih…)

Review Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold

Agar Anak Selalu Ceria Selama Perjalanan Liburan

Si bungsu tiba-tiba demam dan hari itu adalah dua hari menjelang keberangkatan kami pulang ke kampung halaman. Suami masih dinas di luar kota dan baru akan pulang esok harinya.

Terus terang saat itu saya panik. Di rumah sendirian, maksudnya sedang tidak ada orang dewasa selain saya di rumah. Sulung menemani, tapi ia pun masih balita yang sedang dalam masa aktifnya.

Saya belum terlalu bisa mengandalkan sulung karena ia juga belum mandiri dan masih butuh bantuan dari saya. Sedangkan bungsu yang masih berumur 16 bulan sedang rewel karena demam. Maunya nempel minta ASI terus dan kemana-mana digendong. Saya packing sambil gendong, makan sambil gendong, bahkan ke kamar mandi pun harus gendong si bungsu.

Bagaimana ini si bungsu masih demam, padahal kami sebentar lagi mau mudik ke kampung suami di Subang yang berjarak sekitar 150 km dari tempat tinggal kami saat ini. Perjalanan rencana akan menggunakan mobil dan waktu tempuhnya sekitar 3 – 4 jam.

Mudik kali ini memang bukan mudik tahunan seperti lebaran tapi mudik bulanan yang biasa kami lakukan untuk menengok orang tua di kampung. Kami usahakan setiap bulan bisa pulang ke rumah mertua sambil silaturahmi sekaligus liburan keluarga.

Beberapa pesan lengkap dengan foto-foto saya kirimkan ke suami melalui WhatsApp mengabarkan bahwa si bungsu panas. Saya tidak bermaksud membuat suami ikut panik juga dan mengganggu konsentrasi bekerjanya. Tapi berharap dengan berbagi informasi tentang keadaan anak bungsu kami saat itu bisa sedikit mengurangi beban dan kepanikan saya.

Ditunggu beberapa menit, belum ada respon dari suami. Bahkan pesannya belum dibaca, tapi sudah sampai. Mungkin dia masih sibuk, pikir saya. Saya balik lagi menyusui dan mengelus-elus punggung si kecil, menciumi keningnya, dan berdoa agar ia cepat sembuh.

Dalam kondisi sendirian seperti ini, saya tau sebenarnya saya gak boleh panik. Akal sehat harus tetap bekerja dan berusaha semuanya ada dalam kendali. Tapi mungkin namanya anak lagi sakit, perasaan panik itu wajar.

Demam Jadi Mukanya Kuyu

Saya tarik nafas dalam-dalam, melepaskannya pelan-pelan dan berusaha menenangkan pikiran. Mengambil alih pikiran negatif, membuangnya jauh-jauh and turns it into positive thought. 

(lebih…)