Jatuh Cinta Pada Buah Lokal Sejak Kecapan Pertama

Kawan, perkenalkan. Namaku Akmal. Sekarang umurku 25 bulan. Aku adalah anak pertama dari Ayah Ibuku. Kali ini aku mau berbagi cerita dengan kawan semua mengenai makanan kesukaanku. Apa itu? Nanti aku kasih tau ya.

19 Juli 2013 adalah hari yang sangat berharga bagiku. Ini adalah hari pertama dimana aku mulai bisa mengkonsumsi makanan dan minuman selain ASI karena umurku sudah 6 bulan. Ibuku hari ini mulai memperkenalkan MPASI (Makanan Pendamping ASI) kepadaku. Wah aku sangat penasaran sekali dengan bagaimana rasa makanan dan minuman yang ada di luar sana. Selama ini, aku cuma bisa menonton orang lain mengecap makanan dan minuman yang nampaknya sangat lezat. Ibu belum memberikanku kesempatan untuk mencoba makanan dan minuman selain ASI sampai umurku cukup 6 bulan. Kata Ibu, 6 bulan pertama adalah masa ASI ekslusif, jadi hanya ASI yang boleh masuk ke tubuhku.

Taukah kau kawan, makanan pertama apa yang pertama kali masuk ke tubuhku?

Adalah melon (Cucumis melo), salah satu buah lokal yang kaya dengan nutrisi. Ibuku tidak langsung memberikan potongan buah melon yang besar tapi mengolahnya terlebih dahulu menjadi jus sehingga teksturnya lembut dan encer menyerupai ASI. Ibuku sengaja memilihkan melon sebagai makanan pertama yang aku cicipi karena rasanya segar dan manis.

Pertama kali mengecap buah melon, aku langsung suka dan jatuh cinta. Oh rupanya begini ya rasanya MPASI, enak ya. Aku suka, aku suka. Aku jatuh cinta pada buah lokal sejak kecapan pertama.

Sambil menyuapiku, Ibuku bercerita bahwa buah melon tersebut dibeli di toko buah didekat rumah. Selain karena kesegarannya, harganya juga murah. Selain melon, Ibuku juga membeli beberapa buah lokal lainnya untuk stok makananku selama seminggu seperti buah pisang, pepaya, alpukat, dan mangga. Kata Ibuku, dengan membeli buah lokal, berarti kita bisa membantu perekonomian petani Indonesia. Istilahnya, berbagi rejeki dengan sesama. Ibu suka kasihan kalau melihat Indonesia kurang sejahtera, makanya salah satu cara untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka adalah dengan membeli produk dagangannya.

Kawan, lihatlah ekspresi bagaimana aku mencicipi melon sebagai MPASI awalku. Segar-segaaar 🙂

Melon MPASI Perdanaku di usia 6 bulan

Selama 2 minggu pertama MPASI, Ibuku terus memperkenalkan berbagai rasa buah lokal. Selama 2 minggu ini, Ibuku hanya memberikan jus buah kepadaku dan belum memperkenalkan sumber makanan lain kepadaku. Ibu sengaja hanya memberikan jus buah karena buah mudah dicerna dan rasanya manis. Teksturnya juga cair mirip dengan ASI jadi aku enggak kaget. Kata Ibu, masa-masa awal MPASI adalah masa transisi jadi sebisa mungkin makanan yang masuk ke tubuhku harus mirip ASI.

Buah-buahan yang sudah di stok Ibuku seperti pisang, pepaya, alpukat, dan mangga ludes aku makan semua. Hehehe, tidak semua deh. Karena aku makannya baru porsi kecil, jadi aku berbagi juga dengan Ibu dan Ayahku yang juga fans fanatik buah-buahan lokal. Porsi makanku baru 10-15 suap sendok bayi. Sedikit ya kawan? Iya, karena lambungku masih kecil sehingga kapasitas tampungnya juga masih sedikit.

Aku tumbuh semakin besar. Porsi makanku sudah bertambah dan semakin beragam. Selain buah, aku juga sudah mulai dikenalkan dengan sumber makanan lain seperti karbohidrat, protein, sayur-sayuran, dan lain-lain. Buah masih aku konsumsi sebagai camilan diantara dua makan besar. Biasanya, Ibu memberiku buah sebagai camilan pukul 10 pagi dan pukul 14 siang.

Konsumsi Buah Lokal Sedari Dini

Setiap hari, Ibu pasti memberikan buah kepadaku sebagai camilan. Kadang sehari sekali atau dua kali dalam sehari. Aku tak pernah ketinggalan mengkonsumsi buah.

Selain membeli, Ibu juga sekarang mulai merintis menanam buah-buahan lokal di halaman rumah kami. Berhubung halaman kami sempit, jadi Ibu menanam buah-buahan tersebut di dalam pot (Tabulampot). Kekurangan lahan tidak menyurutkan semangat Ibuku untuk menanam buah-buahan. Yuk lihat koleksi buah-buahan Ibuku, kawan.

Tabulampot (Tanaman Buah dalam Pot) yang ada di halaman rumahku

Tabulampot milik Ibuku masih kecil-kecil dan belum bisa di panen. Jadi sementara, Ibuku membeli dulu buah-buahan di pasar atau toko buah yang ada di dekat rumah sambil menunggu tabulampot di halaman kami berbuah. Mungkin 2 atau 3 tahun lagi baru bisa dipanen buahnya.

Terkadang, ada tetangga dan saudara yang baik hati yang memberi kami buah-buahan. Ada yang mereka petik dari kebun sendiri ataupun oleh-oleh dari bepergian ke suatu wilayah. Ada buah pisang, pepaya, rambutan, buah naga, durian, jeruk, nangka, nanas, sukun dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, Ibu jadi bisa menghemat pengeluaran keluarga. Seperti hari ini, Ibu mendapat kiriman buah durian dari Mbah dan juga buah sukun dari tetangga.

Buah durian dan sukun sebagai persediaan pangan buah lokal di rumah hari ini

Sekarang, umurku sudah 2 tahun lebih. Aku masih suka loh makan buah-buahan, terutama buah mangga, rambutan, dan pisang. Sekali makan buah, aku bisa habis banyak loh. Misalnya, aku bisa makan mangga arumanis (Mangifera indica) sebanyak 250 gram dalam satu kali makan. Pisang ambon (Musa paradisiaca) 2 atau 3 buah ukuran sedang juga aku lahap dengan nikmat. Kalau makan rambutan (Nephellium lappacium), aku bisa habis sampai 10 buah rambutan sampai-sampai Ibu tidak mau mengupaskan rambutan untukku karena tangannya pegal dan khawatir aku kekenyangan makan buah rambutan.

Teman-teman sebayaku sampai terheran-heran loh kawan melihatku bisa lahap sekali makan buah. Mereka sering bertanya, apa rahasianya kok aku bisa sampai cinta banget dengan buah lokal. Tidak hanya dengan teman-teman sebayaku saja, tapi aku juga akan berbagi rahasia denganmu kawan melalui tulisan disini. Tapi nanti ya, pokoknya simak terus curahan hati aku di tulisan ini ya.

Sampai umurku yang masih 2 tahun ini, aku masih cinta makan buah lokal loh

Ohya, dari semua buah lokal yang sudah aku cicipi, ada satu jenis buah lokal yang belum aku cicipi. Selama ini aku sering bertanya-tanya kepada Ibuku, mengapa Ibuku belum juga membelikanku buah berkulit hijau ini kepadaku. Aku penasaran sekali dengan rasa buahnya. Padahal ya, kami punya loh pohonnya di halaman depan rumah kami. Nih fotonya.

Tanaman Jambu Kristal di Halaman Rumah. Kapan Ya Berbuahnya?

Yap, nama buahnya adalah Jambu Kristal (Psidium guajava) Buah ini konon sangat melegenda. Rasa buahnya lembut, manis, tapi krispi dan daging buahnya nyaris tanpa biji. Ibuku dulu membeli bibitnya di kebun buah Jambu Kristal yang ada di Cikarawang, Bogor seharga Rp 25.000. Ibuku beli 3 buah bibit. Satu bibit dihadiahkan kepada Mbah Kakung, satu bibit buat teman ayahku, dan satu lagi di tanam di pot di depan rumah.

Ibuku sering bercerita bahwa dulu Ibuku sering sekali membeli buah Jambu Kristal ketika Ibu masih kuliah di Bogor. Di sekitar Kampus IPB tempat Ibuku kuliah, banyak pedagang yang menjual buah Jambu Kristal ini. Tidak heran, karena di sekitar kampus ada kelompok tani yang memang dibimbing oleh IPB bekerja sama dengan Misi Teknik Taiwan dengan membentuk Indonesia International Cooperation and Development Fund (ICDF) untuk membuat Agribusiness Development Center (Pusat Pengembangan Agribisnis) University Farm di Desa Cikarawang, Bogor.

Ketika Ibu pindah ke Bandung, Ibu menjadi jarang membeli buah Jambu Kristal ini. Padahal aku ingin sekali loh mencoba bagaimana rasanya menikmati buah yang juga dikenal dengan nama Guava Crystal ini. Aku sungguh iri dengan Ibuku, karena Ibu sudah pernah mencicip legit krispinya buah Jambu Kristal ini. Selama ini, aku hanya mendengar cerita dari Ibu saja. Andai Ibu tau, setiap Ibu bercerita enaknya buah Jambu Kristal ini, liurku hampir menetes membasahi sudut mulut kecilku. Jika harus menunggu pohon Jambu Kristal di rumah kami berbuah, rasanya aku tak sabar.

Sebenarnya Ibu tidak perlu jauh-jauh harus ke Bogor jika ingin membelikanku buah Jambu Kristal. Ibu bisa mampir ke supermarket dan membelikannya untukku karena kini Jambu Kristal ini bisa diperoleh dengan mudah. Sunpride sebagai perusahaan yang berkomitmen menyediakan buah-buahan segar berkualitas tinggi dan sekitar 80% produknya adalah produk lokal, salah satunya adalah Jambu Kristal. Di Bandung, toko-toko buah yang menjual produk buah dari Sunpride bisa dilihat di lokasi ini.

Kandungan buah Jambu Kristal

Aku kemarin mengintip di websitenya Sunpride, disitu dijelaskan bahwa Jambu Kristal mengandung lycopene atau antioksidan yang sangat baik untuk peremajaan kulit dan melawan kanker. Selain itu juga kaya akan serat dan mudah dicerna di dalam perut sehingga melancarkan pencernaan. Kalium dalam Jambu Kristal mampu mengatur tekanan darah. Tak hanya itu, vitamin C yang ada pada Guava Crystal sekitar 280% dari nilai harian vitamin C yang direkomendasikan. Jambu juga mengandung 30 kalori lebih besar namun memiliki 3 kali protein dan 4 kali serat yang lebih banyak. Buah jambu juga mengandung vitamin A yang penting bagus sebagai nutrisi harian tubuh. Selain itu, jambu juga memiliki kandungan flavonoid yang berfungsi melindungi kulit terhadap sinar UV dan membantu kanker prostat – Semua kandungan yang terdapat pada jambu sangat bermanfaat bagi tubuh. Tuh kan, aku jadi semakin bersemangat ingin segera mencicipi buah Jambu Kristal ini.

Buah Jambu Kristal ini sebenarnya cocok banget buat anak-anak seperti aku. Kan bijinya sedikit sekali, jadi aku tidak takut tersedak. Kulitnya juga aman untuk dimakan loh kawan. Paling aman dikonsumsi dalam bentuk jus. Bisa diminum langsung dari gelas atau menggunakan bantuan sedotan.

Semoga dalam waktu dekat Tuhan mendengar bisikan doaku agar Ibuku terketuk hatinya dan berbaik hati mau membelikan buah Jambu Kristal untukku. Tolong aminkan ya kawan.

Oke kawan, sesuai dengan janjiku tadi, aku sekarang mau bongkar rahasia mengapa aku lebih suka buah lokal.

1. Mudah didapat

Berhubung aku masih kecil, mobilitasku masih tergantung bantuan orang lain, terutama Ibuku. Termasuk untuk urusan penyediaan buah di rumah. Makanya aku gak mau merepotkan Ibu jika harus pergi jauh hanya sekedar belanja buah untuk kebutuhanku. Paling mudah, biasanya Ibu akan membeli buah segar dari tukang sayur yang lewat di depan rumah. Jauh sedikit, ada minimarket, toko buah dan supermarket yang juga menyediakan buah lokal. Tinggal pakai motor, ngeeeengg.. sampai deh.

Paling enak kalau pas lagi pulang kampung ke rumah Mbah di Jawa. Buah-buahan tinggal petik dari kebun. Lokasi kebunnya juga ada di samping rumah Mbah. Benar-benar mudah didapat ya.

2. Harga bersahabat

Sudah bukan rahasia lagi kalau buah-buahan dari dalam negeri harganya lebih murah dari buah-buahan import. Hal ini dikarenakan jalur distribusinya pendek dan langsung diperoleh dari petani lokal sehingga waktu tempuhnya jadi sebentar. Pajaknya juga kecil loh kawan jadi harganya lebih bisa ditekan. Makanya Ibuku suka banget beli buah lokal.

3. Segar dan aman

Rata-rata, buah-buahan lokal Indonesia tidak memakai pengawet sehingga buahnya lebih segar dan aman untuk dikonsumsi terutama untuk anak-anak seperti aku. Kebun-kebun buah juga terletak dekat dengan kita seperti kebun buah Sunpride yang ada di Lampung. Lokasinya dekat dengan konsumen jadi sudah pasti buahnya lebih segar daripada buah yang harus dikirim dari luar negeri.

4. Kebiasaan keluarga

Makanan pertama yang aku kenal adalah buah. Hari-hari makanku setelah itu juga selalu mengkonsumsi buah lokal. Ibuku adalah orang yang berjasa mengenalkanku pada buah-buahan lokal. Karena sudah menjadi kebiasaan, makanya aku jadi suka banget makan buah lokal. Bahkan kalau sedang pergi jalan-jalan, Ibu selalu membawa bekal berupa buah. Paling gampang adalah buah pisang dan jeruk.

5. Membantu petani lokal

Walaupun masih kecil, aku juga tau loh tentang MEA. Kalau ada kawan yang belum tau MEA, aku cerita sedikit ya. MEA adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN. Setiap negara anggota ASEAN nanti bebas melakukan perdagangan. Nah, jangan sampai nanti negara kita tercinta hanya menjadi target dari perdagangan bebas negara ASEAN lainnya. Cara mudahnya, demi membantu negara kita sendiri, kita bisa membeli buah-buahan yang dihasilkan oleh keringat petani kita sendiri. Dengan begitu kita bisa membantu petani dan lebih jauh bisa membantu negara kita dalam menghadapi MEA ini.

Ssst… itulah rahasia kenapa buah lokal adalah makanan favoritku dan beberapa alasan aku cinta pada buah lokal. Cintaku pada kecapan pertama terus berlanjut sampai sekarang loh. Bahkan aku juga menularkan kebiasaanku mengkonsumsi buah lokal kepada adik sepupuku, Zhafran loh. Dia juga salah satu penggemar berat buah-buahan lokal. Nih lihat ya ekspresinya. Gemesin banget ya. Kecil-kecil begini Adik Zhafran juga cinta buah lokal, sama seperti aku.

Zhafran, adik sepupuku juga lahap makan buah lokal loh.

Kawan, meskipun ini rahasia, tapi kawan boleh kok menerapkan rahasia pribadiku ini di kehidupan kawan semua. Kalau kita bareng-bareng bisa mengkonsumsi buah lokal, pasti kita semua juga bisa sehat bersama-sama kan? Atau kawan juga punya rahasia yang bisa dibagi ke aku tentang kecintaan kawan terhadap buah lokal? Yuk bagi-bagi ke aku.

Salam cinta buah lokal dari aku yang lucu,

Akmal (25 bulan)

NB: Terimakasih Ibu sudah bersedia menuliskan curahan hati aku.

Comments

  1. pungky says:

    Akmal… pinter banget kamu sayaaang. doyan makan buah 😀

    Tapi petenya jangan ya sayang.. buat tante aja xD

    1. Akmal pete doyan, jengkol pun doyan. Hehehe. Ayuk sini Tante Pungky, berbagi pete dengan Akmal..

  2. MS says:

    pinternya Akmal suka buah ya..,
    makannya yang banyak ya

    1. Iya, Akmal suka buah Mak

  3. Inda Chakim says:

    Akmal…baku daku doonnkkk…lg absurd nih, bawak annya laper muluk…
    Sip dahhh..kenalkan buah lokal sejak dini…sebab tak kenal maka tak sayang..
    Hidupp buah lokaaallll !!!!!
    Hiduuupppp 😀

    1. Iya betul, lebih cepat lebih baik yaa

  4. Lengkap banget cerita Akmal. Good luck buat lombanya ya Mak 🙂

    1. Aamiin. Terimakasih doanya Mak. 🙂

  5. Heni Puspita says:

    Pinter ya Mam buahnya. Slaah kenal dari Rayyaan ^_^

    1. Salam kenal kembali utk Rayyaan yaa Mom Heni 🙂

  6. Elora Cahya Vinentya says:

    wow Akmal masih suka makan buah,,,, tapi masih belepotan. hahaha… 😀

    1. Iya teh.. apa aja dimakan sama Akmal

  7. Astin Astanti says:

    mamak, akmal suka pete? heheee

    1. Iya Mba Astin, Akmal suka sama pete. Jengkol juga suka loh dia

  8. echaimutenan says:

    Sini petenya. BUat aku aja akmal xixixi…
    Tapi emang bener mak buah lokal harga bersahabat dan makan buah juga bikin sehat ^^
    Sehat2 yo akmal *toel pipinya

    1. Harga pete lagi naik sekiarang Mak Echa, 3000 Rupiah untuk pete yang ukuran kecil disini…

      1. Harga pete ada yang mpe 4 ribuannn mb mit

        1. Wah lebih mahal lagi ya Gus disana?

  9. Huaaa lucuw bingit, itubyg foto akmal bawa pete, whnitu ga dimam kn? ama dedek zafranyaah juga unyuuukk

    1. Benaran dimakan Gus. Waktu itu aku sayur pakai tahu. Dan Akmal doyan banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *