Kerja dari Rumah

Kerja dari Rumah

Waktu kuliah dulu, aku pernah punya cita-cita untuk kerja di perusahaan internasional atau multinasional gitu. Simpel aja sih, karena figur yang aku lihat yang kerja di perusahaan-perusahaan internasional itu keren, bolak-balik ke luar negeri, sering nginep di hotel, makan enak, pakaian mentereng.

Lulus kuliah, aku kirim lamaran ke beberapa perusahaan. Keterima. Tapi gak terlalu berkaitan dengan pelajaran yang aku dapatkan saat kuliah. Aku keterima kerja jadi penerjemah di sebuah konsultan lingkungan. Untungnya aku punya kemampuan penerjemahan yang bisa aku pakai modal buat kerja. Meskipun pekerjaan ini gak membuatku jalan-jalan ke luar negeri, gak menginap di hotel, gak sering makan enak, tapi ya lumayan lah. Pekerjaan ini kemudian membawaku ke tahap pekerjaan yang justru aku tekuni sekarang.



Di tengah keasyikanku bekerja sebagai penerjemah di perusahaan ini, aku ditawari oleh seorang pemilik perusahaan di Amerika Serikat sana. Dia mau mensponsoriku untuk mau kerja sama dia. Tentu aku mau donk ditawari pekerjaan yang berkaitan dengan hortikultura, ilmu yang aku pelajari saat kuliah dulu.

Dokumen pendukung sudah diproses. Bahkan kami menyewa tenaga konsultan khusus dari Washington untuk membantu melengkapi dokumen kerjaku nanti.

Rupanya Allah berkehendak lain. Menjelang keberangkatanku, ada seseorang yang coba mendekati. Tak tanggung-tanggung, ia langsung melamarku walau kami baru hanya sekali bertemu.

Di sini aku jadi bimbang. Mau meneruskan ambil pekerjaan di US sana atau menerima lamaran orang ini. Hm.. tanya sana-sini, konsul sama mbak kosan dan teman baikku, mereka semua menyarankan untuk ambil lamaran dan menikah saja. Saat ada orang baik datang melamarku, jangan ditolak katanya, kecuali dia tidak sholeh.

powerbank xiaomi asli

Awal Kerja dari Rumah

Jadi begitu. Akhirnya aku dengan berat hati melepas calon kerjaanku di US dan jadilah aku menerima lamaran orang yang sekarang jadi Ayah dari 3 anak laki-lakiku.

Tidak mudah melepaskan pekerjaan impian. Karena setelah menikah, bukan hanya pekerjaan yang di US saja yang dilepas, tapi pekerjaan sebagai penerjemah in house di konsultan itu juga turut aku lepas. Suamiku lebih menghendaki aku tinggal di rumah, merawat anak-anak.

Walau berat, tapi aku ikut aja apa kata dia. Walau sebenarnya aku masih ingin berkarir di luar rumah tapi aku takut juga kalau suami gak ridho dengan jalan yang aku pilih.

Sebagai bentuk menjaga kewarasan pikiran dan kesehatan jiwa, aku mulai build pekerjaan yang bisa aku kerjakan dari rumah. Aku bikin usaha konsultasi nama bayi, terima terjemahan dokumen juga, serta ngeblog. Aku cari cara membuat website karena zaman sekarang hampir semua jenis usaha pasti punya website. Beli domain murah indonesia buat modal awal bangun website.

Bekerja dari rumah buat ibu-ibu macam aku ternyata gak sesepi yang aku bayangkan dulu. Justru tren zaman sekarang kerja bisa dari mana aja asal ada laptop, smartphone, dan jaringan internet. Dan gak cuma bapak-bapak aja yang bisa kerja seperti ini, ibu-ibu pun gak kalah cihuy saat kerja dari rumah.

Baca : Perempuan Bekerja dari Rumah, Mengapa Tidak

Sekarang sudah 8 tahun aku kerja dari rumah. Enak juga karena bisa kerja sambil jagain anak 3. Waktu kerjanya memang kepotong-potong. Kadang harus antar anak sekolah dulu. Kemudian nyuapin. Lalu ada yang minta cebok dan sebagainya. Padahal klien sudah minta diburu-buru segera dikirimkan hasil pekerjaanku. Yah begitulah warna-warni kerja dari rumah. Harus dijalani, namanya juga hidup. Kalau lagi bosan ya ngopi dulu biar otak segeran.



Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.