Asuransi Kesehatan Untuk Keluargaku

Asuransi Kesehatan Untuk Keluargaku

Melahirkan anak tiga kali, aku seperti meregang nyawa 3 kali. Mempertaruhkan nyawa di kasur persalinan demi mengeluarkan 3 orok dari dalam perutku. Bukan proses yang gampang karena nyatanya aku sampai kehilangan darah berliter-liter. Darah yang mengocor sampai membanjiri lantai ruang persalinan milik bidan yang aku percayai membantuku melahirkan 3 bayi laki-lakiku.

Meskipun berasal dari rahim yang sama, ternyata proses melahirkan setiap anak memiliki kisah yang berbeda-beda. Waktu aku melahirkan anak pertamaku, Akmal, aku mencoba melahirkan dengan proses water birth. Saat pembukaan sudah masuk ke pembukaan 6, aku diminta masuk ke bath tub yang sudah diisi dengan air hangat. Bidan dan asistennya kemudian membantuku relaksasi supaya proses pembukaan lebih cepat. Seluruh badanku dipijat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Temaram lilin menambah suasana syahdu. Pun dengan aroma terapi yang diletakkan di ujung ruangan. Bidan juga sambil mengaji melantunkan ayat suci Al Quran sambil mendoakan proses persalinanku dengan water birth ini lebih lancar.



Pembukaan 10 sudah terlihat, Mahkota persalinan sudah terbuka sempurna. Rambut bayi sudah terlihat. Dengan instruksi bidan, aku diminta mengejan.

Sayang nafasku pendek-pendek. Bayi terlalu besar untuk sebuah persalinan pertama.

Melihat aku yang sudah hampir kehabisan nafas, bidan dan suami segera mengangkatku naik dari bath tub ke kasur persalinan. Segera bidan melakukan gunting perineum untuk membantuku melahirkan bayi pertamaku yang kemudian diketahui beratnya 3.620 gram. Bayi yang tidak jadi lahir dengan metode persalinan di air. Tapi dia lebih memilih lahir di kasur.

Nyawa Hampir Melayang Karena 3x Pendarahan Pasca Melahirkan

Setelah lahir, bukannya masalah selesai. Tapi timbul lagi masalah baru. Aku pendarahan banyak banget. Persisnya aku tidak tahu kenapa. Telat tindakan, nyawa bisa melayang.

Akibat pendarahan ini, aku sempat disuntikkan cairan melalui kedua pahaku. Masih lagi ditambah entah apa namanya, cairan yang dimasukkan melalui infus.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Armita Fibriyanti (@armitafibri) on

Di sini aku merasa “Ya Allah melahirkan kok gini-gini amat ya. Luar biasa. Pantas saja Engkau menganjarnya dengan surga jika seorang Ibu meninggal karena melahirkan”.

Tapi aku sempat berdoa, aku jangan mati dulu ya Allah. Kalau aku mati sekarang, nanti anakku siapa yang pelihara. Siapa yang kasih dia ASI, dsb.

Kejadian kehilangan darah karena bleeding terulang lagi di persalinan kedua dan ketiga. Pendarahan kedua karena setelah melahirkan, masih ada serpihan plasenta yang masih ketinggalan di dalam rahim. Jadi kalau rahim gak bersih, masih akan bleeding terus.

Baca: Melahirkan Anak Kedua

Sedangkan di persalinan anak ketiga, aku bleeding karena rahim gak mau menguncup/menutup/menyusut setelah plasenta lahir. Rahim tidak kontraksi setelah melahirkan (Atonia Uteri atau dikenal dengan istilah rahim tidur). Kejadian ini menyebabkan darahku mengocor dalam jumlah yang sangat banyak dan tidak terkontrol.

Cara Mengatasi Blog WordPress Yang Kena Hack

Perlunya Proteksi terhadap Kesehatan

Memiliki riwayat pasca melahirkan yang kurang menyenangkan seperti ini membuatku berfikir sepertinya aku butuh proteksi dengan kehidupanku. Sesuatu yang melindungiku atau mengalihkan risiko jika aku meninggal. Aku sih kepikiran anak-anak. Nanti siapa yang akan merawat mereka kalau aku tiada. Suami? Dia kan harus kerja. Hiks. Auto mewek deh kalau inget momen-momen pasca melahirkan seperti ini. Selalu melow.

Keluargaku saat ini memang hanya baru di cover BPJS saja. Tapi memang BPJS ini terbatas. Ada beberapa penyakit yang tidak di cover. Kayak gigi dsb. Sementara kami butuh juga proteksi/asuransi kesehatan.

Sebenarnya, aku sudah lama memikirkan hal ini. Tapi aku bingung mau pilih asuransi yang mana. Jujur aku sendiri belum terlalu melek asuransi. Butuh duduk lama untuk belajar tentang ini. Ngublek-ublek ilmu perasuransian.

Dengan memiliki asuransi kesehatan, keluarga jadi bisa terjamin kalau sakit. Perusahaan asuransi nanti bisa membantu mengcover biayanya. Tidak harus gabrak gubruk cari utangan, nguras tabungan, atau jual aset.

Memilih Asuransi Kesehatan untuk Keluarga

Dari tulisan yang aku baca, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan saat memilih asuransi. Misalnya berapa jumlah anggota keluarga yang ditanggung, berapa anggaran keluarga untuk asuransi, berapa tanggungan maksimal, proses pengambilan klaim yang mudah, jaringan rumah sakit yang luas.

Fyuh, aku mesti belajar lagi nih. Cari mana asuransi kesehatan yang cocok buat keluargaku. Gak mau lagi kejadian deg-degan terulang seperti pasca melahirkan kemarin.

Ada yang mau share tentang kepemilikan asuransi kesehatan kalian? Kutunggu di kolom komentar yoo…



2 thoughts on “Asuransi Kesehatan Untuk Keluargaku”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.