Tip Mudik Lebaran Bersama Bayi dan Balita Menggunakan Kereta Api

Mudik Naik Kereta Membawa Anak

Tip Mudik Lebaran Bersama Bayi dan Balita Menggunakan Kereta Api. Hai teman-teman, sebentar lagi hari kemenangan tiba. Sebagian besar umat muslim akan pulang ke kampung halamannya untuk mudik, bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara. Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil, mudik dengan membawa serta mereka adalah hal yang gampang-gampang susah. Bagaimana caranya agar selama perjalanan mudik anak-anak tidak rewel dan bisa bekerja sama dengan orang tuanya? Saya punya tip yang biasa saya praktekan. Ini dia tip tentang membawa bayi dan balita mudik dengan menggunakan kereta.

Blogpost ini memenuhi janji saya sebelumnya dimana sebelumnya saya pernah menuliskan tip-tip mudik lebaran bersama balita menggunakan mobil. Di blogpost tersebut, saya berjanji akan menuliskan tip mudik lebaran menggunakan kereta api. Dan sesuai janji saya, ini tip ala saya untuk mudik ke kampung halaman menggunakan moda transportasi kereta api.

Baca: Tip Mudik Bersama Bayi Balita Menggunakan Mobil

Cerita sedikit dulu ya. Dulu, sebelum kami sekeluarga punya mobil, kalau mudik Lebaran ke kampung saya di Purworejo, mau gak mau kami harus pakai kereta. Kami sekarang tinggal di Bandung. Jarak Bandung – Purworejo itu sekitar 300 km. Jarak sejauh itu, tidak mungkin ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Mungkin sih, tapi pegel bok. Alternatif transportasi yang paling mungkin adalah kereta, bis, dan travel.

Kereta adalah yang paling mungkin karena waktu tempuhnya singkat (7-8 jam perjalanan), tidak macet, tidak berdesak-desakan, dan nyaman. Tinggal duduk, ngobrol, dan tau-tau sampai di stasiun tujuan di Kutoarjo (stasiun terdekat dari rumah kami).

Bis mungkin juga. Kami beberapa kali mudik pakai bis. Tapi gak enaknya pakai bis itu, waktu tempuhnya jadi lebih lama. Kira-kira 10 jam baru sampai rumah. Kalau macet bisa lebih lama lagi. Terus, jalan di jalur selatan Jawa Barat itu kan kelak-kelok ya. Kalau gak kuat dengan tipe jalan yang naik turun dan kelak-kelok seperti ini itu rawan banget mabok. Untungnya, jalan di Jawa Barat itu sudah halus, tidak seperti tipe jalan raya di Jawa Tengah yang tidak rata, kurang halus, dan banyak lubangnya. Kerasa beda banget kalau sudah beralih jalan masuk ke Provinsi Jawa Tengah. Yang sering lintas Jawa Barat-Jawa Tengah pasti mengerti apa yang saya rasakan.

Gak enaknya lagi kalau pakai bis adalah, badan terasa capek banget/rontok setelah sampai rumah. Saya bisa seharian cuma tidur doank di rumah untuk menghilangkan rasa capek. Jet lag (atau bus lag?)

So, saya gak ngebayangin bawa bayi dan balita dengan menggunakan bis di situati macet macam mudik Lebaran seperti ini. Orang dewasa saja bisa mabuk perjalanan apalagi anak-anak dan bayi. Pada kasus saya sekarang ini, bis tidak akan menjadi pilihan. Sudah dicoret jauh-jauh hari. Bisa jadi situasi berlaku lain di keluarga lain ya. Kan beda keluarga, beda keadaannya ya.

Sekarang travel ya. Selama lima tahun terakhir hidup di Bandung, kami (saya dan suami), waktu itu belum ada anak-anak, hanya sekali mudik menggunakan travel. Itu pun karena sudah kehabisan tiket kereta dan bis. Mau gak mau naik travel. Cukup nyaman tapi harganya memang lebih mahal dari kereta dan bis. Ohya, plus kena macet pula. Kami gak kebagian sholat Ied, karena kami sampai rumah pas jam 07.00 pagi dan sholat Id sudah bubar. Sedih kan.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, moda transportasi sahabat mudik kami sekeluarga adalah mobil dan kereta. Bukannya bis dan travel tidak menjadi favorit, tapi alternatif saja jika mobil dan kereta sudah tidak ada lagi.  😀

Cerita tip mudik dengan bayi dan balita menggunakan mobil sudah saya bahas ya. Sekarang giliran menggunakan kereta. Ini tip mudik Lebaran bersama bayi dan balita menggunakan kereta ala saya:

Naik Kereta

  1. Pesan tiket jauh-jauh hari.

Sekarang kan tiket kereta sudah bisa dipesan 3 bulan sebelum hari H keberangkatan. Bahkan bisa booking khusus lewat aplikasi macam Padi Citi. Saya dulu sudah nongkrongin komputer dan buka beberapa HP tiga bulan sebelum keberangkatan demi dapat tiket pulang naik kereta api untuk sekeluarga. Saya sudah stand by dari jam 11 malam dan begitu jam 00.00 langsung pesan tiket. Memang sih rebutan sama yang lain. Tau-tau sold out padahal masih jam 00.05. Kok bisa ya itu tiket habis ludes dalam 5 menit. Saya coba terus walau jam 05.00 pagi baru dapat. 😀

Enaknya pesan tiket jauh-jauh hari itu, kita bisa pastikan bahwa kita kebagian kursi plus bisa milih kursi yang sesuai keinginan. Favorit saya kursi nomor 6-9 (A, B, C, D). Kalau pas kebagian yang kereta ekonomi AC yang satu baris isi lima kursi ya saya pilih yang kursinya dua-dua. Pesan empat kursi yang hadap-hadapan. Misalnya 5C-5D dan 6C-6D.

Kalau masih gak dapat tiket kereta, jangan khawatir. Sekarang ada beberapa kereta tambahan. Kalau masih rezeki, Insya Allah dapat kok.

2. Sounding. 

Saya percaya banget kekuatan sounding/hipnotis untuk anak-anak. Sama seperti perjalanan jauh dengan mobil, perjalanan mudik dengan kereta pun tetap perlu sounding ke anak-anak. Bahkan sudah bisa dimulai 3 bulan sebelum keberangkatan. Intensitas soundingnya bisa ditingkatkan saat bulan Ramadhan sampai menjelang keberangkatan.

Sounding  itu berguna untuk menyiapkan mental anak-anak bahwa perjalanan jauh akan dimulai dan semoga anak-anak tetap manis dan tidak rewel selama perjalanan.

3. Jangan sampai ketinggalan kereta.

Periksa lagi tanggal dan waktu keberangkatan dengan baik-baik, jangan sampai salah tanggal dan jam. Karena suami saya pernah ketinggalan kereta, gara-gara doi ketiduran. Mau beli tiket lagi untuk keberangkatan selanjutnya sudah habis. Hasilnya dia naik bis dan mabuk sampai rumah. Kasian kan.

Apalagi kalau sampai ketinggalan dengan posisi kita bawa anak-anak. Udahlah gak jadi mudik, tiket hangus, gak jadi Lebaran di kampung. Sedihnya tiada tara.

4. Bawa stok mainan, makanan, minuman secukupnya.

Di kereta itu pas musim Ramadhan kayak gini gak ada lagi mbak-mbak dan mas-mas yang jualan pakai kereta di dorong-dorong. Makanya kita perlu bawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Secukupnya saja karena kita kan sudah tau kegemaran dan kapasitas makan anak-anak kita sendiri. Dia sukanya apa, bawain! Anak-anak saya suka Ubi Cilembu. Saya pasti bawain. Bikin kenyang, enak, dan bergizi.

Makanan, minuman, dan mainan tidak perlu banyak karena bikin berat. Sudah ribet bawa anak-anak dan perlengkapan mudik, gak usahlah ditambahin ribet dengan bawaan makanan, minuman dan mainan segambreng. Ini mudik ya, bukan pindahan rumah 😀

5. Bawa pakaian secukupnya.

Hitung berapa hari akan di kampung. Misalnya seminggu ya bawa pakaian cukup untuk dipakai 2/3 hari. Kalau habis kan bisa cuci-kering-pakai. Praktis. Apalagi kalau di kampung ada stok pakaian, bawa buat yang dipakai untuk di jalan saja.

Saya sering cuma bawa baju ganti anak-anak buat di jalan doang karena saya sengaja ninggalin stok baju saya dan anak-anak di kampung. Saya memang sering mudik ke Purworejo, paling gak 2 bulan sekali. Daripada ribet gotong-gotong pakaian, mendingan bajunya ditinggal aja di rumah orang tua.

6. Makan kenyang dari rumah.

Anak yang sudah kenyang itu bakalan menimimalkan resiko rewel. Jadi, suapilah anak sebelum berangkat.

7. Do wefie

Tips Liburan Naik Kereta Membawa Anak

Foto-foto adalah obat mujarab buat anak-anak dan orang dewasa kalau bosan di perjalanan. Di kereta itu kan gak bisa naik turun sembarang, fotolah lingkungan sekitar tempat duduk atau foto keluarga dengan ponsel untuk menghilangkan kebosanan. Sekaligus juga sebagai kenang-kenangan. Setuju?

8. Berangkat malam.

Ini favorit saya. Berangkat malam hari. Kenapa? Karena kalau malam hari anak tidur. Sudahlah kenyang ia dari rumah, masuk kereta tinggal tidur. Gak perlu ngajak jalan-jalan keliling gerbong untuk menghibur.

Ohya, jangan lupa bawa selimut, jaket, dan kos kaki untuk anak ya. Di dalam kereta kalau malam hari itu dingin banget.

Jadi gimana, sudah siap-siap mudik teman-teman? Mudik pakai kereta juga atau pakai moda transportasi lain?

Tetap hati-hati di perjalanan ya, nikmati proses mudiknya. Ada macet, ramai, desak-desakan, itu semua bagian dari mudik. Ada orang tua dan keluarga yang menunggu di kampung halaman. Senyum cerita dan kehangatan mereka adalah obat dari perjalanan jauh kita. Salam untuk keluarga di kampung ya!

Thank you sudah membaca blogpost saya yang panjang ini. Semoga bermanfaat 🙂

Comments

  1. witriprasetyoaji says:

    aku mudiknya dekat sih, enggak naik kereta… hehe
    tapi makasihlah infonya, bermanfaat

    1. Ke mana Mbak mudiknya?

      1. witriprasetyoaji says:

        cuma satu kabupaten… hihihihihi… aku enggak mudik mbak, eh mudik enggak ya, soalnya jarang tuh pulang ke rumah suami, tapi kalau lebaran beberapa hari di sana…

        1. Satu kabupaten tapi jarang pulang ke rumah suami ya Mbak?

          1. witriprasetyoaji says:

            ceritanya panjang… hehehe

  2. Nathalia DP says:

    Asyik ya mudik… Saya mah kampung halamannya di bandung 😀

    1. Deket ya Mbak 🙂

  3. […] 22 Juni 2016: Tip mudik membawa bayi dan balita dengan kereta sudah di publish, bisa dibaca juga di sini ya. Thank […]

  4. ulu says:

    Kereta api moda transportasi favorit saya. Enaknya lagi kereta udah bagus pelayannya yak, betah lah hehehe. Pake Padi Citi juga bookingnya. Cuma berburu tiketnya yg malesin klo lg musim liburan. Wkwkwkw. Kalo saya senengnya terang hari, Mit. Bisa lihat pemandangan. Cuma Nabil berisik heuheu gak bisa diem. Idealnya emang malem ya.

    1. Yup, makanya bookingnya aku suka jauh-jauh hari supaya dapat kursi dan bisa milih nomor kursi yang paling pe-we

  5. Dee Rahma says:

    Mau mudik atau liburan. Naik kereta memang menyenangkan yaaa, apalagi bersama keluarga 🙂

    1. Iya Mbak. Anak anak juga seneng banget dibawa naik kereta ^^

      1. Dee Rahma says:

        Nanti kalo udah gedean (seumuran SD), bisa naik kereta di siang hari supaya anak-anak bisa menikmati pemandangan sekitar selama perjalanan naik kereta 😀

        1. Iyaaa bener ^^

  6. nh18 says:

    Membawa anak saat bepergian memang memerlukan seni tersendiri …
    sedikit repot … tapi justru ini yang membahagiakan

    salam saya Mbak

    1. Repot repot sedap ya Om..

  7. Iyap, loveeee banget lah sama kereta ya 🙂

  8. handdriati says:

    dulu pas jaman masih merantau aku juga pengguna setia kereta, pkoknya kl mau mudik uda jauh2 hari nyari tiket hihihi… tapi belum pernah bawa bayi, secara baru hamil ini hehehe…

  9. […] Baca: Tip Mudik Lebaran Bersama Bayi dan Balita Menggunakan Kereta Api […]

  10. alarahmawati says:

    halo salam kenal mbak, lebaran tahun ini pertama kalinya bawa anak yg masih 11m. mudik naik kereta juga ke semarang. btw, itu anaknya yg kecil dibeliin kursi juga mbak? tidurnya gimana ya? saya masih bingung besok kalo anak tidur saya pangku atau di kursi sendiri karena saya pesennya 3 kursi buat saya suami sama pengasuh.

    1. Mudiknya dari mana ke mana Mbak? Sebaiknya sih dibelikan kursi sendiri ya. Biar lega. Karena gendong bayi selama di perjalanan itu pegel banget.

      1. alarahmawati says:

        dari jakarta-semarang mbak, oh gitu ya? yah kursinya udah sold out semua lagi. yah, semoga anaknya gak rewel deh 🙂

        1. Iya. Semoga anaknya anteng ya Mbak…

  11. Dwi Satya says:

    Pesan tiket jauh-jauh hari, penting sekali dan perlu dipehatikan. Karena pengalaman pribadi yang pesan tiket ndadak, sehingga gagal berangkat naik kereta. Ada, tapi untuk kereta eksekutif. Salam hangat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *