Restoran Cepat Saji Favorit Keluarga

Sekali dalam seminggu, keluarga saya selalu menyempatkan diri untuk makan bersama di luar rumah. Maksud saya makan di luar rumah ini adalah makan di restoran atau warung makanan/food court. Biasanya pas weekend, entah itu hari Sabtu atau Minggu.

Kami selalu menikmati sesi makan di luar rumah ini karena ternyata makan bersama di luar rumah itu menyenangkan. Selain bisa refreshing sambil cuci mata, enaknya makan di luar rumah itu saya gak perlu cuci piring. Wehehe, mayan kan jadi mengurangi tugas saya untuk umbah-umbah piring kotor 😀

Enaknya lagi makan di restoran itu, kita tinggal tunjuk aja dan pilih mau makan apa. Tinggal pilih menu yang sudah disediakan restoran tersebut. Biasanya, menu-menu makanan ini sudah matang atau setengah matang. Jadi penyajiannya bisa cepat. Lumayan menghemat waktu, gak perlu menyiapkan bahan makanan mentah seperti ketika kita masak di rumah.

Ohya, makan di luar rumah itu juga bisa menambah pengetahuan kita. Misalnya kita jadi tau jenis-jenis makanan, menambah referensi restoran, dan bisa juga sambil mempelajari beragam menu makanan.

Mengajak Anak Makan di HokBen Dekat Rumah

Tapiii.. ada gak enaknya juga kalau makan di luar rumah/restoran. Kalau dihitung-hitung, makan di restoran itu harganya lebih mahal daripada kita masak sendiri di rumah. Asal gak tiap hari, sesekali makan di restoran gak papa lah ya.

Jika ditanya restoran cepat saji apa yang menjadi favorit kami sekeluarga, saya bisa jawab dengan semangat: HokBen! (lebih…)

Review Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold

Agar Anak Selalu Ceria Selama Perjalanan Liburan

Si bungsu tiba-tiba demam dan hari itu adalah dua hari menjelang keberangkatan kami pulang ke kampung halaman. Suami masih dinas di luar kota dan baru akan pulang esok harinya.

Terus terang saat itu saya panik. Di rumah sendirian, maksudnya sedang tidak ada orang dewasa selain saya di rumah. Sulung menemani, tapi ia pun masih balita yang sedang dalam masa aktifnya.

Saya belum terlalu bisa mengandalkan sulung karena ia juga belum mandiri dan masih butuh bantuan dari saya. Sedangkan bungsu yang masih berumur 16 bulan sedang rewel karena demam. Maunya nempel minta ASI terus dan kemana-mana digendong. Saya packing sambil gendong, makan sambil gendong, bahkan ke kamar mandi pun harus gendong si bungsu.

Bagaimana ini si bungsu masih demam, padahal kami sebentar lagi mau mudik ke kampung suami di Subang yang berjarak sekitar 150 km dari tempat tinggal kami saat ini. Perjalanan rencana akan menggunakan mobil dan waktu tempuhnya sekitar 3 – 4 jam.

Mudik kali ini memang bukan mudik tahunan seperti lebaran tapi mudik bulanan yang biasa kami lakukan untuk menengok orang tua di kampung. Kami usahakan setiap bulan bisa pulang ke rumah mertua sambil silaturahmi sekaligus liburan keluarga.

Beberapa pesan lengkap dengan foto-foto saya kirimkan ke suami melalui WhatsApp mengabarkan bahwa si bungsu panas. Saya tidak bermaksud membuat suami ikut panik juga dan mengganggu konsentrasi bekerjanya. Tapi berharap dengan berbagi informasi tentang keadaan anak bungsu kami saat itu bisa sedikit mengurangi beban dan kepanikan saya.

Ditunggu beberapa menit, belum ada respon dari suami. Bahkan pesannya belum dibaca, tapi sudah sampai. Mungkin dia masih sibuk, pikir saya. Saya balik lagi menyusui dan mengelus-elus punggung si kecil, menciumi keningnya, dan berdoa agar ia cepat sembuh.

Dalam kondisi sendirian seperti ini, saya tau sebenarnya saya gak boleh panik. Akal sehat harus tetap bekerja dan berusaha semuanya ada dalam kendali. Tapi mungkin namanya anak lagi sakit, perasaan panik itu wajar.

Demam Jadi Mukanya Kuyu

Saya tarik nafas dalam-dalam, melepaskannya pelan-pelan dan berusaha menenangkan pikiran. Mengambil alih pikiran negatif, membuangnya jauh-jauh and turns it into positive thought. 

(lebih…)

Sepatu Baru Untuk Suami

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Hai semua.

Sudah beberapa minggu ini, suami saya mengeluh kalau sepatu kantornya sudah usang, lecet di sana sini. Dia memang punya beberapa sepatu, tidak hanya satu. Tiga sepatu formal (warna hitam, khaki, dan coklat), satu sepatu olahraga, dan satu sepatu buat jalan.

Sepatu formal kesayangan dia itu yang warna coklat. Pas di kaki, berbahan kulit, tidak berat, lentur, dan keren. Saking cintanya sama sepatu coklat itu, hampir tiap hari dia pakai sepatu itu di kantor. Kalau berangkat kerja, dia lebih nyaman pakai sandal atau kadang sepatu. Ohya, dia naik motor untuk berangkat ke kantornya. Jadi, seringkali sepatu-sepatunya itu ditinggal di kantor, termasuk sepatu yang warna coklat itu.

Saya ingat banget, beli sepatu coklat itu tanggal 28 Juni 2013. Iya, saya sampai hafal tanggalnya. Soalnya sepatu itu dibeli sehari sebelum adik saya nikahan. Ceritanya, sepatu coklat itu dibeli mendadak di toko sepatu di samping tempat resepsi nikahan adik saya. (lebih…)

senam yuk

Senam Yuk!

“Ayo Ibu-Ibu mana suaranyaaaaa….”

Lengkingan suara itu datang dari seorang nenek yang terus menyemangati kami para peserta senam sehat tadi pagi. Tidak berapa lama gemuruh suara Ibu-Ibu terdengar membalas semangat.

Pagi tadi adalah kali pertama kami Ibu-Ibu komplek perumahan mengikuti senam pagi sehat setelah kurang lebih vakum selama 2 tahun. Dulu kami memang sempat mengadakan kegiatan senam aerobik setiap Minggu pagi. Tapi karena keterbatasan instruktur senam, jadi untuk sementara senam aerobik di komplek ditiadakan.

Alhamdulillah mulai Minggu ini ada beberapa warga komplek kami yang bersedia menjadi instruktur senam jadi kami udah gak perlu pusing-pusing lagi nyari instruktur senam yang mau datang ke komplek kami tiap Minggu. Selain itu, kalau instruktur senam berasal dari warga komplek sendiri, kami lumayan bisa menghemat biaya pengeluaran untuk bayar jasa instruktur. Intinya, dari kami, oleh kami, untuk kami. Kira-kira, begitu prinsipnya.

Pagi tadi, lumayan banyak juga warga komplek yang datang untuk ikut senam sehat. Beberapa diantaranya saya lihat bahkan sudah lansia. Sudah pensiun. Saya tebak umur mereka di atas 65 tahun. Tapi Subhanallah, semangat mereka untuk sehat itu luar biasa. Bahkan, mereka yang tua-tua ini yang justru menyemangati kami yang masih muda-muda agar bangun pagi dan siap-siap ke lapangan untuk ikut senam pagi.

Malu sama sesepuh yang semangatnya melangit, masa saya yang masih muda gini kalah sih. Hihihi, yah walaupun tadi saya datang senam udah dimulai, setidaknya saya tadi pagi bisa mengalahkan ego saya untuk bangun lebih bagi, gak gogoleran seperti hari Minggu biasanya, dan yak ikut gerak badan angkat tangan angkat kaki.  (lebih…)