Kondisi Pasca Operasi Glaukoma

Kondisi Pasca Operasi Glaukoma

Sejak menuliskan pengalaman operasi glaukoma Bapak beberapa tahun lalu di blog ini, saya sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana keadaan Bapak atau kondisi pasca operasi glaukoma. Sebagai informasi, Bapak di diagnosa sakit mata glaukoma kurang lebih 6 tahun lalu. Saat itu, baru satu matanya saja yang kena glaukoma. Yaitu mata kirinya. Tiga tahun kemudian, glaukoma juga menyerang mata kanannya. Saya sendiri gak tau kenapa kondisi Bapak bisa tiba-tiba ngedrop. Padahal Bapak gak punya riwayat keturunan glaukoma dan diabetes melitus yang sering diduga sebagai penyebab penyakit mata glaukoma. 

Operasi pertama dilakukan sekitar tahun 2014. Menyusul operasi mata kedua tahun 2017. Kedua operasi tersebut dilakukan di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, Jawa Barat.

Baca: Pengalaman Operasi Mata dengan BPJS



Operasi kedua perlu dilakukan karena saat itu tekanan bola mata kanan Bapak sangat tinggi. Mencapai angka 52. Sementara tekanan mata yang normal harusnya sekitar 12.

Salah satu langkah cepat untuk mengurangi tekanan bola mata selain mengonsumsi obat dan tindakan laser mata adalah operasi. Tentu kami sebelumnya sudah berkonsultasi dulu dengan para dokter mata di Rumah Sakit Cicendo. Mereka menyarankan untuk operasi mata kanan Bapak karena ternyata tindakan pengobatan melalui obat tetes mata dan obat yang dikonsumsi, serta laser mata, tidak mampu mengurangi tekanan bola matanya.

Bismillah, operasi mata yang kedua dilaksanakan bulan Mei 2017. Sebelum operasi memang pihak dokter sudah menjelaskan bahwa secara medis tindakan operasi tidak akan dapat menyelamatkan syaraf mata Bapak yang telah rusak. Namun tindakan operasi ini bisa menyelamatkan syaraf mata kanan Bapak yang masih bagus. Waktu itu, mata kanan Bapak masih bisa melihat sekitar 50%. Sedangkan mata kiri sudah total buta.

Kondisi Pasca Operasi Glaukoma

Setelah operasi glaukoma yang kedua ini, kondisi Bapak tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya. Hanya tekanan bola mata saja yang turun ke nilai sekitar 20an. Namun matanya tetap tidak bisa kembali melihat normal.

Kondisi Pasca Operasi Glaukoma
Ilustrasi Pemeriksaan Mata

Walaupun matanya sudah dioperasi, Bapak tetap mengonsumsi obat vitamin mata dan juga beberapa obat tetes mata khusus glaukoma yang telah diresepkan oleh dokter spesialis mata. Pasca operasi glaukoma, Bapak juga suka mengeluhkan pandangan yang seperti ada kabut-kabut putih berbayang. Saya suka sedih sebenarnya kalau dengar cerita Bapak ini. Kebayang gimana kalau Bapak penglihatannya benar-benar hilang dan tidak bisa melihat lagi.

Usaha minum obat sudah dilakukan. Begitupun dengan operasi mata sudah ditempuh. Manusia hanya berupaya, Allah yang menentukan.

Melihat kondisi Bapak yang menurun, saya berinisiatif mengajak Bapak umroh. Mumpung Bapak masih sehat. Penglihatannya masih agak normal. Alhamdulillah, beliau mau. Januari 2018, Bapak berangkat umroh.

Saya gak bisa menemani Bapak ibadah ke tanah suci karena saya punya anak-anak yang masih kecil. Bapak berangkat umroh ditemani oleh Mama dan adik laki-laki saya. Alhamdulillah ada mahrom yang bisa mengawal Bapak selama di tanah suci.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Armita Fibriyanti (@armitafibri) on

Umroh ini begitu penting buat Bapak. Setidaknya untuk memberikan pandangan bagaimana kondisi tanah suci di Mekkah, Madinah dan Jeddah (kondisi mata kanan Bapak masih bisa melihat 50%). Bapak punya rencana berangkat haji tahun 2019 ini, jadi umroh tahun 2018 kemarin punya andil penting meningkatkan rasa percaya diri Bapak mengingat kondisi Bapak yang sudah menurun.

Apalagi sejak kejadian awal November 2018 yang tiba-tiba di pagi hari Bapak mengeluh mata kanannya sudah gak bisa apapun. Padahal subuh beliau masih pergi ke mushola untuk sholah subuh berjamaah. Itulah kejadian titik terendah psikologis Bapak. Bapak buta :((

Saya dengar kejadian ini sedih banget. Diam-diam nangis di kamar mandi. Melow semelow-melownya. Apalagi saya sedang hamil anak ketiga dan sebentar lagi mau melahirkan.

Secara fisik, Bapak itu kuat. Namun beliau sudah tidak bisa melihat. Jadi segala aktivitas sekarang dibantu oleh Mama. Kalau mau mandi, baju disiapin dulu. Makan juga diambilin menunya. Sering salah memanggil cucunya. Nonton TV sudah gak bisa, hanya dengar suaranya saja. Radio adalah teman Bapak sehari-hari sekarang. 🙁

 

View this post on Instagram

 

Sejak terkena #glaukoma 3 tahun lalu, penglihatan Bapak jadi berkurang banyak. Aktivitas jadi lebih terbatas. Sekarang sudah tidak pernah ke sawah lagi. Paling ke ladang atau pekarangan dekat rumah. . Menonton TV juga kadang-kadang, tidak sesering dulu. Sekarang lebih sering mendengarkan radio. Radio seperti jadi teman akrab beliau sehari-hari saat ini. . Untuk menghubungi Bapak, dan mengetahui kabarnya, biasanya saya telpon biasa pakai jaringan XL atau video call melalui WhatsApp. Doakan semoga Bapak sehat selalu ya. . . . #outstandingmama #glukoma #glaucoma #radio #XL #myXL #operasiglaukoma #operasikatarak #katarak #likeforlike #purworejo #indonesia #wonderfulindonesia #family #lifestyle #penyakitmata

A post shared by Armita Fibriyanti (@armitafibri) on

Awal kejadian saat Bapak gak bisa melihat total, kata Mama, Bapak sering sedih. Sering melamun. Seperti kosong pikirannya.

Sekarang, 7 bulan pasca kejadian hilangnya pandangan, Bapak saya lihat sudah lebih nrimo. Mungkin ini memang sudah jalan takdir yang Allah pilihkan untuk kehidupan Bapak.

Mohon doanya ya temans, semoga Bapak dan kami semua bisa ikhlas dan legowo dengan kondisi ini. Doakan juga ibadah haji Bapak tahun 2019 ini bisa berjalan lancar, bisa kembali lagi ke rumah dengan kondisi yang selamat tanpa kurang suatu apapun. Aamiin.



Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.