Pengalaman Operasi Mata dengan BPJS

Pengalaman Operasi Mata dengan BPJS

Pengalaman Operasi Mata dengan BPJS. Assalamu’alaikum teman-teman. Yap, di blogpost sekarang saya mau cerita tentang perjuangan bapak saya berdamai dengan penyakit mata glaukoma yang sudah dideritanya selama 3 tahun terakhir ini. Jika ada teman-teman penasaran apa itu glaukoma dan sebelumnya belum pernah dengar glaukoma, ini pengertiannya ya. Saya kutip dari Wikipedia Indonesia.

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati – Wikipedia.

Jadi, mudahnya, glaukoma adalah kerusakan saraf mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Awalnya, Bapak saya tidak sadar kalau glaukoma sedang menyerangnya diam-diam. Perasaan beliau katanya kok sepertinya penglihatannya agak kabur. Oh mungkin kacamatanya sudah tidak cocok lagi, pikir beliau. Lalu pergilah Bapak ke toko kaca mata yang ada dokter matanya sekaligus konsultasi tentang kondisi penglihatannya. Singkat cerita, nah dari hasil ini kemudian diketahui bahwa Bapak ternyata menderita glaukoma di mata kirinya. Sekitar 75% penglihatan mata kirinya sudah tidak berfungsi. Serabut syaraf mata kirinya sudah mati akibatnya mata kiri beliau tidak bisa melihat. 

Sedangkan kondisi mata kanannya, waktu itu (tahun 2014) masih bagus. Kata dokter, tinggal dipertahankan mata kanannya ini agar mata kanannya juga tidak terkena glaukoma.

Oleh dokter, Bapak diresepi obat namanya Timol untuk menjaga tekanan bola mata agar tidak tinggi. Kalau tekanan bola matanya tinggi bisa menyebabkan syaraf matanya rusak dan menyebabkan kebutaan.

Selain berkonsultasi dengan dokter mata di Purworejo, Bapak juga mencoba konsultasi dengan spesialis mata di Rumah Sakit Mata dr. Yap Yogyakarta selama sekitar 1 tahunan. Jadi Bapak bolak balik Purworejo – Yogya setiap bulan untuk cek kondisi matanya.

View this post on Instagram

Seperti janji saya kemarin, ini saya uploadkan bagaimana berkurangnya lapang pandang pada penderita glaukoma. Lihat bagian gambar sebelah kiri. Paling kiri atas pandangan normal. Semakin ke bawah lapang pandang semakin berkurang. Yang bagian hitam adalah pandangan yang hilang, tampak gelap. Waspada glaukoma ya, dia bisa menyerang siapa saja. Bahkan yang masih muda sekalipun. Menyerangnya pun diam-diam. . . . . #glaucoma #glaukoma #sakitmata #rscicendo #rsmatacicendo #cicendo #rsmc #rumahsakitmatacicendo #rumahsakit #rumahsakitmata #rsmcicendo #outstandingmama #like4like #likeforlike #momdaily #daughterdaily #momlife #mommyblogger #family #blogger #katarak #eyes #eyesight #glukoma #operasimata #operasiglaukoma

A post shared by Armita Fibriyanti (@armitafibri) on

Menurut dokter mata di Purworejo dan Yogya, penyakit glaukoma yang menyerang Bapak ini tidak bisa disembuhkan karena yang kena adalah syaraf matanya. Tinggal bagaimana mempertahankan syaraf yang masih bagus agar tidak mati dan menyebabkan kebutaan lebih parah. Dieman-eman katanya.

Saya dan suami kemudian menawari Bapak untuk coba berobat ke Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Karena saya tinggal di Bandung, jadi Bapak lebih gampang kalau mau berobat di Bandung.

Di RS Cicendo ini, Bapak berobat sejak akhir tahun 2014 sampai sekarang. Di RS ini pelayanannya lumayan bagus. Setiap kali periksa, tekanan bola mata Bapak diperiksa. Sampai suatu waktu, tekanan bola mata Bapak sangat tinggi, mencapai 48 mmHg. Sedangkan tekanan normalnya adalah di bawah 20 mmHg.

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan tekanan bola mata ini adalah menggunakan obat tetes mata khusus (Timol dan beberapa obat lain, namanya saya lupa). Ada juga obat yang diminum khusus. Semuanya harus dengan resep dokter, tidak boleh sembarangan karena ini termasuk obat keras.

Namun setelah beberapa minggu mengonsumsi obat minum dan juga rutin meneteskan obat tetes, tekanan bola mata Bapak tidak kunjung turun, masih tinggi. Dokter menyarankan untuk operasi mata glaukoma di mata kirinya sekaligus mengangkat kataraknya. Ohya, setelah diperiksa, Bapak juga ternyata menderita katarak, tapi masih tipis.

Operasi pertama glaukoma di mata kiri Bapak dilangsungkan Desember 2014. Operasi ini tidak bertujuan untuk mengembalikan penglihatan menjadi normal namun untuk menjaga agar tekanan tidak tinggi terus menerus. Tekanan yang terlalu tinggi bisa merusak syaraf mata. Ekspektasi kami agar Bapak bisa melihat normal kembali memang tidak terlalu tinggi karena menurut dokter penyakit glaukoma ini tidak bisa disembuhkan. Kami berikhtiar untuk mencoba menyelamatkan syaraf mata yang masih berfungsi.

Operasi berjalan lancar, sekitar 1,5 jam. Operasi glaukoma sekaligus pengangkatan katarak. Tekanan berangsur-angsur turun dan menurut Bapak pandangan jadi lebih cerah dan terang. Tidak ada bayang-bayang lagi. Tadinya juga ada semacam pasir-pasir menganjal, setelah operasi, rasa semacam ada pasirnya itu hilang.

Satu setengah tahun kemudian, Bapak mengeluh pandangan mata kanannya memburam. Akibatnya aktivitas beliau jadi terbatas. Penglihatan mata kiri sudah buta total sementara yang mata kanan tinggal sedikit. Setelah diperiksakan ke RS Cicendo, ternyata tekanan bola mata kanannya memang tinggi dan dokter menyarankan untuk operasi mata lagi. Tujuannya untuk mengurangi tekanan.

Diakui kami memang sedikit lalai dengan kondisi mata kanan Bapak ini karena kontrol yang kurang teratur pasca operasi pertama. Tahun 2015 saya melahirkan anak kedua sehingga saya tidak sempat membawa Bapak kontrol ke RS Cicendo. Kontrol sementara dilakukan di RSUD Purworejo. Di Purworejo sendiri tidak ada alat yang berguna untuk memeriksa tekanan bola mata.

Baca: Cerita Melahirkan Anak Kedua

Operasi glaukoma kedua untuk mata kanan pun dilakukan bulan Mei 2015, satu setengah tahun setelah operasi pertama. Kondisi mata Bapak setelah operasi kedua tidak lebih baik dari kondisi sebelum operasi. Bahkan beberapa kali beliau mengeluhkan pandangan yang jadi semakin kabur pasca operasi kedua. Akibatnya, aktivitas Bapak sekarang menjadi lebih terbatas.

Operasi mata yang pertama dan kedua kemarin kami memang dibantu pembiayaannya oleh BPJS. Kebetulan Bapak adalah pensiunan PNS sehingga BPJS (Askes)nya menanggung seluruh biayanya dari mulai biaya kontrol sampai pasca operasi. Baik di RSUD Purworejo maupun RS Mata Cicendo, semuanya di cover oleh BPJS.

Baca: Pengalaman Menggunakan BPJS

Untuk bisa mendapatkan bantuan dari BPJS, Bapak mengurus prosedurnya dulu di Purworejo untuk dapat surat rekomendasi agar bisa ditangani di RS Cicendo. Seperti kita tahu ya bahwa BPJS itu menggunakan sistem berjenjang/bertahap. Dokumen yang kemarin kami siapkan agar bisa mendapatkan bantuan BPJS di RS Mata Cicendo adalah sebagai berikut:

  1. Surat rujukan dari RSUD Purworejo. Sebelumnya Bapak sudah minta dulu surat rujukan dari faskes pertama (Puskesmas).
  2. Surat rujukan dari BPJS Purworejo.
  3. Kartu Askes/BPJS
  4. KTP



Saat dulu pertama kali mendaftar di RS Cicendo, Bapak membawa semua dokumen tersebut dan kemudian Bapak mendapat kartu pasien. Nah kartu pasien ini yang selanjutnya akan digunakan untuk berobat.

Kisaran biaya  operasi glaukoma dan katarak di RS Cicendo jika tanpa BPJS adalah sekitar 11 juta. Alhamdulillah kemarin dua kali operasi glaukoma dan katarak dibantu oleh BPJS jadi biaya terasa lebih ringan. Sedangkan untuk kontrol bulanan biasanya habis sekitar 300 – 500 ribu, tergantung jumlah obat yang harus ditebus.

Pesan saya untuk para pasien yang ingin memanfaatkan BPJS baik untuk operasi mata maupun kebutuhan lainnya, harus bersabar karena antreannya lumayan panjang. Pasiennya banyak sementara petugas BPJSnya terbatas. Kalau untuk masalah pelayanan bagus sih, cuma kadang antrenya panjang banget. Ohya, untuk operasi mata ini Bapak saya harus antre selama kurang lebih dua minggu karena ruangan pasien BPJSnya terbatas.

Sedangkan untuk obat-obatan sebetulnya sama dengan pasien glaukoma yang lewat jalur umum atau pribadi. Tapi ukurannya saja yang diperkecil. Jadi pasien BPJS mendapatkan jatah obat yang lebih sedikit, kalau kurang beli sendiri. Hehehe. Ohya, ada juga beberapa obat yang tidak tersedia di apotek BPJS RS Cicendo sehingga kita harus beli di apotek luar.

Sementara segitu dulu ya cerita saya tentang pengalaman operasi mata dengan BPJS terutama untuk glaukoma dan katarak. Semoga bermanfaat. Jika ada yang kurang jelas atau mungkin ada yang perlu ditanyakan, bisa di kolom komentar ya.



42 thoughts on “Pengalaman Operasi Mata dengan BPJS”

  1. kedua adik saya juga pernah merasakan manfaat menggunakan BPJS. Adik pertama melahirkan caesar pake BPJS, adik kedua dirawat karena penyakit GBS pake BPJS juga. Memang harus sabar karena antriannya panjang

  2. wahhh cerita positif BPJS ya mbak, selama ini yang saya terima cuma negatif nya saja, saya juga pakai BPJS sebagai PNS, menunjang dihari kemudian,

    Semoga bapak cepet sembuh ya mbak, amiin

  3. assalamualaikum mbak Armita…sy tinggal di lampung..bapak sy dpt rujukan dr RS di lampung utk berobat ke RS Cicendo…sy mau tny..apakah sy hrs buat rujukan dr bpjs lampung dlu y mbak..?tdk cukup hanya rujukan dr RS?

  4. Udhrekan2 disini. Saya mau nanya klo bpjs kntor itu klo kita operasi mata itu ditanggung seluruhnya ato setengah2. Thx

  5. Assalamu’alaikum mba, mhon maaf.. sy smpat email k mba.. Sy punya bbrp prtnyaan di email.. Mhon bantuannya.. 🙁

  6. Assalamualaikum wr wb mbak,suami sy orang Bandung pgn operasi katarak di cicendo dan tugasnya di timur tengah dan klu operasi sm kontrol bisa berapa lama ya krna harus kembali bekerja terima kasih

  7. assalamualaikum mbak, saya mau menanyakan perihal daftar operasi di cicendo. kan katanya cara mendaftar untuk pasien operasi itu melaui sms. tadi malam dan pagi ini saya sudah sms beberapa kali tapi status sms nya gagal terus, ‘unable to send’, bukan terkirim tapi belum di balas. tapi pulsa nya berkurang :’) mohon pencerahannya mbak. terimakasih 🙂

  8. Saya ingin bertanya , sejak pensiun tahun 2007 orang tua saya belum pernah mengurus bpjs, bagaimana cara mengurus bpjsnya skrg dan apa syarat”nya .

  9. mbak klu mau operasi mata juling bisa ga y….soal ud dr lahir..pengen punya mata normal…soal y dr kecil aq ga pede mbak…dgn mata ku…

  10. Mb saya mau tanya, saya orang Jabung, kalo mau berobat di RS YAP apakah harus membawa rujukan dari RS tempat tinggal saya dan rujukan dari BPJS tempat saya? Trimakasih

  11. Jadi untuk biaya operasi semua ditanggung bpjs atau masih bayar mba untuk katarak? Terus sekarang bisa liat normal gak ya

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.