Masalah yang Sering Dihadapi oleh Perempuan yang Masuk Usia 30

Masalah yang Sering Dihadapi oleh Perempuan yang Masuk Usia 30

Masalah yang Sering Dihadapi oleh Perempuan yang Masuk Usia 30. Februari kemarin, saya memasuki usia 30 plus-plus. Hahaha, plusnya berapa ya? kasih tau gak ya? Pokoknya plus plus lah. Sudah mendekati usia cantik, kalau kata teman-teman blogger, wekekek.

Di usia 30 something ini, ada beberapa permasalahan kulit yang mulai saya hadapi. Dari mulai kerut-kerut di wajah yang mulai tampak, kulit yang sudah tidak kenyal dan kurang lentur lagi, gelambir di perut yang mulai melambai-lambai meski sudah olahraga ketat dan atur pola makan, pasukan uban yang mulai menunjukkan diri, plus ada juga deretan tahi lalat, komedo putih, dan juga kutil yang bermunculan seperti jamur di musim penghujan. Hahaha, nanti saya jabarin satu per satu ya.

Ohya, jangan-jangan saya aja nih yang ngerasain tanda-tanda penuaan ini doang ya. Sebenarnya, teman-teman yang masuk usia 30an, merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan gak sih? Baca dulu ya, nanti bantuin komen di kolom komentar.



1. Kerut-Kerut di Wajah

Wajah kalau gak senyum kok ya dikira galak, tapi kalau senyum mulai kelihatan kerut-kerutnya. Gimana donk? Pernah sekali lihat di acara TV seseorang yang gak pernah mau senyum karena dia takut punya kerut di wajahnya, duh sampai segitunya ya.

Kalau di saya, kerut-kerut ini paling kentara ya di daerah sekitar mulut (garis senyum) dan pinggir mata. Teman-teman lain yang mulai masuk usia 30an mungkin beberapa menemui kerutan juga di sekitar jidatnya.

Katanya, pas usia 30an ini kekenyalan kulit kita itu tidak seperti dulu lagi. Duh envy banget ya kalau pas saya lihat kulit anak saya yang masih bayi, halus banget gitu. Hihihi, kapan ya, kulit saya bisa halus lagi seperti mereka. Nah, mulai deh menghayal. Kedua, saat usia 30an ini, kita juga menghadapi masalah dengan pigmen kulit sehingga kulit tampak lebih kusam, lalu timbullah kerutan-kerutan halus di wajah kita.

2. Gelambir Melambai-Lambai di Perut

Oke, ini masalah banget buat saya sekarang yang sudah 30an plus plus ini. Waktu hamil pertama dulu, saya masih usia 26 tahun, melahirkan usia 27 tahun. Tidak lama setelah melahirkan, dengan dibantu menyusui eksklusif dan olah raga minimal, perut saya bisa langsung kembali kempes pes, tanpa gelambir. Perut tipis banget. Pakai celana/rok waktu sebelum hamil masih bisa. Nah masalah mulai timbul pas saya hamil dan melahirkan anak kedua. Yang mana saya hamil dan melahirkan di usia sekitar 29 tahun, setahun lagi masuk usia 30 tahun.

Baca: Cerita Hamil Anak Kedua

Saya kira, dengan modal menyusui eksklusif dan olahraga rumahan (baca: olahraga sambil mengerjakan pekerjaan domestik), berat badan saya bisa kembali normal seperti saat sebelum hamil. Eh, ternyata saya salah. Dua modal itu enggak cukup sekarang. Bukannya menjadi langsing lagi, eh malah gelambir dan gajih-gajih terus saja setia nempel di perut dan paha. Saya perlu usaha ekstra sekarang untuk membuang lemak-lemak yang doyan banget ngendon di dua tempat itu saja. Masih mending ya kalau lemak-lemak ini tersebar merata di seluruh tubuh saya, masalahnya mereka cuma ada di perut dan paha saja. Oh God!

Baca: Yuk Mulai Senam, Yuk!

Donut
Kebiasaan Ngemil Ginian Nih yang Bikin Lemak Menumpuk

PR buat saya adalah jaga pola makan. Selama ini, pola makan saya masih tidak sehat. Misalnya, makan roti untuk penganjal perut sementara. Belum sempat makan karena kesibukan, jadi untuk menganjal perut saya makan roti (atau gorengan). Nah, ini yang enggak betul karena roti atau gorengan ini terbuat dari tepung yang justru tidak baik kalau saya konsumsi. Kata dr. David dari DF Clinic, kalau pola makan saya seimbang dan bagus, makan protein yang baik (daging merah, telur, dsb), saya gak akan kebanyakan ngemil dan makan yang kurang sehat terus menerus.

3. Pasukan Uban Mulai Bergerilya

Sebenarnya, saya mulai punya uban pas waktu kuliah dulu. Hihihi, iya, semuda itu saya sudah mulai beruban. Saat teman yang lain rambutnya masih mulus hitam semua, saya malah sudah mulai muncul putih-putih di rambut. Memang jumlahnya belum terlalu banyak, tapi kalau rambut disibak, mulai deh kelihatan satu per satu rambut putihnya.

Sekarang, saat usia sudah 30++ ini, tanpa disibak pun, rambut putih sudah bisa kelihatan. Untungnya saya pakai jilbab, yang bisa menutupi kalau saya punya rambut putih banyak. Hahaha, hanya orang-orang terdekat saja yang bisa melihat “cahaya surga” ini. wekekekek.

Munculnya uban terlalu dini ini bisa saja disebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh kita. Tidak seimbang waktu kerja dan istirahat, pola makan yang buruk dan stres bisa memacu timbulkan uban di usia muda seperti saya. Ada juga faktor genetik yang bisa diturunkan dari orang tua.

4. Masalah Lain di Wajah (Tahi Lalat, Kutil, dan Komedo Putih)

Dulu, saya cuma punya satu tahi lalat kecil di ujung mata. Nah pas memasuki usia 30an ini, kok saya perhatikan mulai banyak muncul tahi lalat-tahi lalat yang lain di sekitarnya. Memang masih kecil-kecil dan tidak tumbuh. Tapi jumlahnya lumayan banyak dan mulai menganggu karena titik-titik hitam ini membuat wajah saya jadi enggak mulus lagi. Wajah berasa ada kotorannya gitu.

Terus, ada lagi masalah selain tahi lalat. Yaitu kutil dan komedo putih yang jumlahnya tidak kalah sedikit dibandingkan tahi lalat-tahi lalat ini. Paling banyak jumlahnya yaitu kutil. Karena pasukan tahi lalat, kutil, dan komedo putih kehadirannya di wajah saya sudah mulai menganggu, saya berkonsultasi dengan dr. David untuk menghilangkannya. Alhamdulillah, bulan lalu pasukan tahi lalat, kutil, dan komedo putih ini sudah berhasil saya hilangkan dengan cara dilaser dibantu oleh dr. David dari DF Clinic.

Baca: Menghilangkan Tahi Lalat, Kutil, dan Komedo Putih dengan Laser

Kalau di wajah saya yang cenderung kering, masalahnya memang kulit cepat mengeriput dan tumbuh tahi lalat, kutil, dan komedo putih. Tapi mungkin untuk kulit jenis lain, permasalahannya tentu akan berbeda. Bisa saja mungkin mulai timbul jerawat yang membandel, muncul flek-flek hitam, atau bisa saja mulai mengusam. Nah untuk itu, ada baiknya kalau teman-teman yang punya masalah kulit seperti ini coba dikomunikasikan saja dengan dokter kulit atau praktisi kesehatan yang kredibel dan terpercaya. Cari solusi atas permasalahan kulit teman-teman ya.

Menjadi tua itu memang akan tiba pada waktunya. Begitupun pada saya yang mulai terlihat tanda-tanda penuaannya saat masuk usia 30 tahun ini. Tapi saya gak mau donk terlihat cepat tua. Kenapa? Soalnya anak-anak masih kecil-kecil euy. Saya masih pengen terlihat segar dan muda, bisa menemani anak-anak tumbuh dan berkembang, bisa mengantar mereka sampai dewasa dan bisa mandiri. Dibayangan saya, nanti saya masih cocok lah jalan sama anak kalau mereka sudah remaja/dewasa. Lah kalau saya sekarang saja sudah menua, nanti kalau anak-anak SMP, saya bisa jadi kelihatan seperti nenek-nenek donk, wkwkwk. No way!

Ada beberapa hal yang mulai saya lakukan untuk menekan percepatan penuaan ini, supaya tanda-tanda penuaan dini bisa direm lajunya. Misalnya:

  1. Mulai rajin olahraga, paling gak seminggu sekali ikut senam aerobik di komplek. Akan lebih baik jika bisa 2-3 kali dalam seminggu, misal dengan zumba sendiri di rumah.
  2. Stop konsumsi susu, gorengan, dan roti (tepung-tepungan), yah walaupun ini menggoda sekali tapi setidaknya mulai sadar akan bahayanya.
  3. Memperbanyak konsumsi air putih dan mengurangi kopi. Kopi sehari secangkir masih boleh kok 🙂 Perlu memperbanyak konsumsi air putih ini maksudnya untuk menghindari dehidrasi, menjaga kekenyalan dan elastitas kulit karena ketika masuk usia 30an, elastisitas kulit perempuan mulai menurun.
  4. Tidak bergadang. Sejauh ini sudah bisa dikurangi kecuali kalau ada deadline dokumen terjemahan. Tapi kalau saya bisa atur ritme kerja dan mengefektifkan waktu kerja di siang hari, sebenarnya saya tidak perlu bergadang.
  5. Rajin menggunakan krim resep dari dokter. Dulu, saya paling mentok cuma pakai sabun cuci muka sebagai kosmetik sehari-hari dan pelembab wajah. Sekarang, krimnya sudah macam-macam mulai dari nutri cream, daily whitening, sun screen, dan juga krim malam. Harus rajin mengoleskannya kalau gak mau kerut-kerut itu tambah parah.

Semoga terus istiqomah ya, doakan teman-teman, supaya saya rajin melakukan PR saya di atas. Godaan banyak, tapi saya mau coba pakai kacamata kuda ah supaya gak melirik. Hihihii. Kalau teman-teman perempuan, apa aja nih permasalahan saat mulai masuk usia 30an? Sharing yuk, kita diskusi bareng. Saya bukan ahlinya, sekedar sharing aja. Jadi kalau nanti ada yang enggak bisa saya jawab, nanti kita coba tanyakan pada ahlinya ya. Siapa donk? DF Clinic!


DF CLINIC

Jl. Leumah Neundeut No.10 Bandung 40164
Telp. (62-22) 2010593 Hunting
Telegram +62 812 2190 6850
Telegram Channel @DFclinic
Pin BB. D025129F | e-mail. dfclinic@yahoo.com

Sponsored post. Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya.



15 thoughts on “Masalah yang Sering Dihadapi oleh Perempuan yang Masuk Usia 30”

  1. Iya bener memasuki 30an keluhanku bintik2 hitam (kokoloteun) dan kerutan. Tapi ya syudah nerimo aja hahaha..

    Waah apalagi aku udah 40an mitaa, kerutan makin banyak, flek juga, dan itu kutil2 putih juga pernah ngalami. Terutama uban, abis semua deh rambutku. Iya aku ubanan dari SMA (katanya turunan)

    Untungnya ketemu DF ya, ternyata kulit bagus berawal dari makanan, hayu atuh ngegorengan dulu mit *eehh (sebiji aja gpp) *ngomporin

    • Kulit Teh Nchie mah masih bagus walau di usia cantik 🙂
      Hahaha, hayu Teh makan gorengan, eh tapi awas jangan kebanyakan, nanti kena semprit 😀

    • Nah itu saya kurang tau juga persisnya gimana, tapi kalau saya lihat gejalanya di suami, kayaknya kurang lebih sama deh Kang 🙂

    • Karena ternyata saya ada alergi susu, plus sebenarnya susu tidak disarankan buat saya yang sudah mulai tua ini. Susu sumber lemak dan membuat berkembang menjadi ke samping.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.