Family

Menikah Lagi

Menikah Lagi. Obrolan tentang menikah lagi beberapa kali muncul dalam perbincangan antara saya dan suami. Entah itu dalam konteks obrolan ringan maupun serius.

Ya, kami berdua pernah membayangkan bagaimana jika salah satu dari kami meninggal duluan. Apakah pasangan yang ditinggal nanti akan menikah lagi atau tidak.

Tentu kami sangat berharap bahwa pernikahan kami akan selamanya. Sampai maut memisahkan. Insya Allah tidak akan ada kata perceraian. Hanya kematian yang memisahkan kami.

Saya sendiri pernah berucap kepada suami, jika kelak saya meninggal duluan dan anak-anak masih kecil, ia boleh menikah lagi. Asalkan anak-anak dan suami ada yang merawat dengan penuh kasih sayang.

Namun, jika saya masih hidup, saya tidak rela jika ia menikah lagi. Hati kecil saya tetap tidak rela saya dimadu.

Membicarakan tentang kematian dan rencana untuk menikah lagi bukan sesuatu yang tabu bagi saya. Kematian itu pasti nyata, tinggal menunggu saja. Mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kematian sangat perlu termasuk rencana pernikahan kembali.



Saya sangat memahami bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh belahan hati selama-lamanya. Ia yang telah menemani berpuluh-puluh tahun harus menghadap Illahi. Siap tidak siap, kami yang ditinggalkan harus tabah menghadapi cobaan ini.

Tiga setengah tahun lalu, Ibu mertua saya meninggal mendadak karena serangan jantung. Kepergiannya yang sangat mendadak mengagetkan kami semua. Apalagi Bapak mertua yang begitu mencintainya. Kepergian Ibu mertua meninggalkan kesedihan yang mendalam sampai-sampai Bapak sempat mengalami depresi beberapa bulan karena belum siap menerima berita ini.

Dalam setahun pertama, kami berjuang menghibur Bapak untuk merelakan kepergian Ibu mertua. Mengunjunginya setiap bulan di kampung, mengajaknya bercerita, dan kadang bernostalgia. Tidak lupa doa juga selalu kami kirimkan untuk keduanya.

Memasuki tahun kedua sejak Ibu mertua meninggal, suami saya mulai membuka wacana agar Bapak bisa menikah lagi. Supaya tidak terus-terusan ingat kepada Ibu mertua. Yang paling penting, ada teman yang bisa diajak bercengkerama dan mengurusnya ketika ia menikah kelak.

Awalnya Bapak menolak untuk menikah lagi. Bapak sudah tua, biarlah sendiri saja, katanya. Namun keluarga terus membujuknya supaya beliau mau menikah lagi. Bahkan sampai ada kerabat yang rela mencarikan jodoh untuknya.

Rabu 20 April 2016 akan menjadi hari bahagia untuk Bapak dan Ibu mertua baru. Ya, akhirnya Bapak setuju untuk menikah lagi. Alhamdulillah proses pertemuan menuju pernikahan sangat mudah dan sebentar lagi pintu kebahagiaan akan segera terbuka.

Baca: Tips Agar Mudah Menikah

Pernikahan Bapak besok hari Rabu tidak akan diselenggarakan besar-besaran atau megah seperti lumrahnya pernikahan gadis dan jaka. Hanya syukuran keluarga dekat saja. Tidak ada gaun pesta mewah yang dikenakan. Cukuplah gaun yang bersih, rapi, dan menutup aurat tanpa menghilangkan makna utamanya.

Saya sendiri nanti berencana akan menggunakan busana pesta muslim. Sehari-hari saya memang sudah terbiasa mengenakan pakaian muslimah jadi ketika pernikahan Bapak besok saya tetap akan mengenakan busana muslimah.

Saya sudah ada koleksi beberapa baju pesta muslimah di rumah. Namun tidak ada salahnya saya melihat-lihat koleksi busana muslim pesta terbaru [sponsored]. Lumayan sebagai referensi.

Mohon doanya ya teman-teman agar pernikahan orang tua saya lancar, tidak ada suatu halangan apapun. Semoga keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Bahagia selamanya.

Menikah lagi bukannya hal yang buruk. Jika pernikahan kembali adalah jalan menuju kebahagiaan, mengapa tidak?



18 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.