Belajar Mengelola Keuangan Anak Melalui Digital Financial Literacy for Children

Melek Keuangan

Inget banget, waktu saya kecil, sekitar seumuran anak SD lah ya, punya uang sendiri itu kebanggaan banget. Dulu, saya bisa dapat uang sendiri itu dari hasil dikasih sama saudara yang datang dari Jakarta, atau dapat angpao pas lebaran, atau tiba-tiba suka dikasih uang sama Mama/Bapak. Uangnya dikumpulin sedikit-sedikit dan dimasukin ke celengan. Celengannya masih yang terbuat dari tanah liat gitu. Bentuknya celengan kendi (tau kendi gak?), bentuk ayam atau kucing. Hihihi masih inget banget. Terus, saya juga pernah punya celengan yang terbuat dari bambu. Bapak yang bikinin.

Tiap hari celengannya ditengok udah keisi atau belum, hihi, padahal ya jarang-jarang ngisinya. Tapi tiap hari tetep ditengokin. Eh tau-tau celengannya penuh dan berat karena isinya kebanyakan uang koin. Pas sudah dewasa, saya baru tau kenapa celengan itu kok bisa penuh, padahal saya jarang ngisi. Oh ternyata, ada Bapak/Mama yang bantuin ngisi. wkwk 😀

Saya sih seneng-seneng aja, celengan saya penuh sama uang. Soalnya kalau sudah penuh, bisa dibuka/bongkar sih. Terus dibeliin barang. Paling berkesan pas naik ke SMP, pernah beli sepeda sendiri pakai uang celengan. Tapi masih kurang sih uangnya, soalnya lumayan juga harga sepedanya. Jadi uang kekurangannya ditalangin Bapak, itung-itung sebagai hadiah naik ke SMP. Asyiiik!

Sederhana banget ya cara saya dulu mengelola uangnya 🙂

Ngomong-ngomong tentang mengelola keuangan untuk anak-anak, mendidik anak untuk mengerti gimana mengelola keuangan zaman sekarang tentu beda dengan zaman saya dulu. 20 tahun yang lalu, saya belum kenal dengan HP, komputer, apalagi tab. Dulu, cara saya simpan uang ya masih manual pakai celengan. Atau pakai sistem menabung yang dititip ke ibu guru wali kelas. Buku tabungannya masih yang sederhana banget gitu dan uangnya nanti diambil pas kenaikan kelas.

Di era sekarang ini, anak SD pegang HP/komputer/tab itu sudah biasa ya, terlebih di kota besar. Sebenarnya, gawai/gadget ini semacam pisau bermata dua. Yang kalau digunakan dengan baik, bisa membantu anak-anak. Tapi kalau anak-anak terlalu berlebihan menggunakan gadget dan tidak diarahkan, takutnya malah bikin ketagihan dan malah menjadi keburukan buat anak-anak.

Anak-anak biasanya pakai gadget buat apa sih? Ya kalau gak dipakai buat ngegames, ya biasanya buat nonton video. Entah itu video yang di download atau via YouTube. Seberapa sering anak-anak terpapar gadget? Kayaknya tiap hari ya. Iya gak sih?

Dekatnya anak-anak dengan gadget ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Misalnya belajar mengenai bagaimana mengelola keuangan yang sederhana. Tentunya berdasarkan kemampuan dan level setiap anak. Hal inilah yang mendorong Citi Indonesia bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) untuk memperkenalkan program “Digital Financial Literacy for Children“. Citi Indonesia melalui payung kegiatan kemasyarakatannya yaitu Citi Peka (Peduli dan Berkarya) membidik siswa SD kelas 3, 4, dan 5 di Indonesia terutama di 4 kota besar (Tangerang, Jakarta, Bandung, dan Surabaya) agar mereka mengerti akan literasi digital terkait dengan industri keuangan, terutama perbankan. PJI diwakili oleh Mr. Robert Gardiner sebagai Management Advisor. 

Program CSR Perusahaan
Citi Indonesia bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI)

Di Bandung, acaranya sendiri sudah dilaksanakan hari Selasa kemarin tanggal 18 April 2017 di SDPN Sabang Cihapit, Kota Bandung. Di kegiataan Digital Financial Literacy for Children ini, anak-anak diberikan pengetahuan mengenai bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan, mengenali metode pembayaran yang ada di pasar (tunai, kredit, atau debit), serta belajar juga tentang kewirausahaan tingkat dasar. Satu anak mendapatkan satu gadget jadi mereka bisa belajar langsung. Kebayang ya serunya anak-anak dikasih gadget sendiri-sendiri. Pasti sumringah! Coba zaman saya SD dulu begini, pasti saya juga suka 🙂

SDPN Sabang Cihapit ini dipilih sebagai lokasi pelaksanaan edukasi keuangan karena SD ini merupakan salah satu SD percobaan yang ada di Kota Bandung. Dinas Pendidikan Kota Bandung merekomendasikan SD ini kepada Citi Indonesia dan PJI. Setiap ada yang baru dalam bidang pendidikan, misalnya kurikulum baru dan lain-lain, SDPN (Sekolah Dasar Percobaan Nasional) menjadi tempat percobaan di mana program-program baru tersebut dijajal, termasuk tentang edukasi keuangan ini.

Sekolah Negeri yang Bagus di Bandung

Belajar Keuangan
Satu Anak, Satu Gawai. Belajar Mengelola Keuangan secara Sederhana

Program Digital Financial Literacy for Children ini memang memanfaatkan gadget tapi lebih ke arah yang positif. Modul-modul edukasi keuangan dimasukkan ke dalam gadget jadi anak-anak bisa belajar dengan interaktif, aman, komprehensif, dan juga menyenangkan. Ada 3 modul yang digunakan dalam kegiatan ini dengan tema “keluarga kami”, “daerah kami”, dan “kota kami”. Pada masing-masing modul ini, pelajarannya sudah diselaraskan dengan Kurikulum Pendidikan Nasional Indonesia, misalnya konten dan kegiatan yang berkaitan dengan perbankan, bisnis, karir, komunikasi, pembangunan ekonomi, uang, produsen dan konsumen, sumber daya, pasokan dan pemintaan. Jika anak-anak bingung dalam menggunakan modul ini, ada kakak-kakak volunteer dari Citi Indonesia yang siap membantu mereka.

Baca: Cerdas Berjamaah Mengelola Keuangan

Saat berbincang dengan Mr. Rob dan juga perwakilan dari Citi Indonesia, ada banyak harapan yang tersirat dari pelaksanaan program Digital Financial Literacy for Children ini. Salah satunya harapan bahwa kelak anak-anak SD ini lebih melek bagaimana mengelola keuangannya dan bisa menjadi generasi yang mampu menggerakkan industri keuangan Indonesia sehingga Indonesia bisa lebih maju. Syukur-syukur anak-anak ini kelak bisa menjadi duta keuangan keluarganya.

Direncanakan kegiatan Digital Financial Literacy for Children ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun sehingga bisa dilihat tingkat kemajuannya. Yeay, tahun depan ada lagi donk ya.

Digital Financial Literacy for Children

Anak-Anak Belajar Menabung

Setelah dilaksanakan di Jakarta dan Bandung, kegiatan Digital Financial Literacy for Children ini akan dilanjutkan ke Surabaya. Siap-siap ya Surabaya, nanti akan bertambah banyak anak-anak yang semakin kenal dengan digitalisasi keuangan. Yang di kota lain mau juga gak? Mau kan ya… Semoga nanti Citi Indonesia dan PJI juga ngadain di kota lain ya supaya lebih banyak yang pinter dan sukses memasuki ekonomi global. 🙂

Comments

  1. Nadella says:

    Wah semoga Digital Financial Literacy for Children semakin berkembang dan bermanfaat

  2. Keke Naima says:

    Ini programnya bagus. Mengarahkan anak untuk memanfaatkan gadget ke arah yang positif 🙂

  3. evrinasp says:

    anak-anak sudah diajarkan sejak dini ya, daripada makai gadget buat yang aneh-aneh, mending dimanfaatkan

  4. yelli says:

    Nah, ini baru betul caranya. Sekarang pemakaian gedget gx bisa dibendung lagi, bahkan anak2 pun sudah menggunakan gedget, jika ada hal menarik kekgini, penggunaannya kan lebih terarah ya mbak!

  5. Handdriati says:

    Kok ini keren bgt program digital financial buat anak2nya mba… Aaah tambah hebat2 aja nih anak jaman sekarang… 🙂

  6. inspiring id says:

    Wah bagus nih untuk mendidik anak-anak 🙂

  7. Rinny says:

    bagus share nya, ngajarin ngelola keuangan sejak kecil dan mmanfaatkan gadget untuk hal positif, izin share makasih

  8. Pulsa Online says:

    Wahh jaman saya kecil dulu untuk mengelola keuangan itu dicelengan, ke bank aja saya takut. Beruntung ya sekarang anak2 bisa memanfaatkan gadget tidak hanya sekedar untuk main game saja tapi juga untuk mengelola uang jajan mereka

  9. abid abdullah says:

    Wah bagus nih buat nagajarin anak biar nggak alergi sama bank, soalnya terkadang masih ada aja yang phobia sama bank 🙂

  10. Imagologi says:

    Masyarakat harus sadar keuangan

  11. Semoga programnya menjangkau semakin banyak sekolah ^_^

  12. grosir murah says:

    Program yang bagus Kak.

  13. […] Baca: Belajar Mengelola Keuangan Anak Bersama Digital Financial Literacy for Children […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *