Menara Petronas Menara Kembar di Kuala Lumpur

Perjuangan Ibu Mertua sampai ke Tanah Sebrang

Saya dan suami baru menikah selama 3.5 tahun. Sejak kami menikah, saya baru sekali ketemu dengan Ibu Mertua, itu pun pas di Hari H pernikahan kami. Setelah itu sampai sekarang, saya belum punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

Seminggu setelah menikah, Ibu Mertua saya harus kembali ke Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan, Ibu Mertua saya bukan orang Melayu sana. Tapi beliau kembali ke sana untuk melanjutkan usahanya. Ya, Ibu Mertua memang sudah 12 tahun tinggal di negeri sebrang, berbisnis di sana untuk membantu keuangan keluarga Bapak Mertua. Di Malaysia, Ibu Mertua saya tinggal sendiri, hanya ditemani beberapa asisten untuk membantunya bekerja di sana.

Baca: Rencana ke Malaysia dan Beli Tiket Pesawat di Toko Online

Walaupun beresiko karena harus tinggal di beda negara (keluarga suami tetap di Indonesia dan Ibu Mertua di Malaysia), kenyataan ini harus mereka jalani dengan berat hati. Mereka saling bertemu hanya setahun sekali. Komunikasi pun hanya lewat SMS atau telepon.

Ibu Mertua saya punya cita-cita tinggi untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Dimana untuk bersekolah, butuh biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya, beliau rela banting tulang di negeri Jiran. Kepala dijadikan kaki, kaki dijadikannya kepala, untuk memperoleh seringgit dua ringgit, demi biaya sekolah anak-anaknya. Rela pulang ke Indonesia hanya setahun sekali demi menggumpulkan uang sekolah. Ketika penduduk di kampung suami saya sudah cukup bersekolah sampai SMP atau SMA, Ibu Mertua saya justru menghendaki suami saya bersekolah sampai S2. Semangat inilah yang terus membakarnya untuk tetap bekerja di sana.

Suami saya pernah bercerita bahwa Ibunya tidak bisa memberinya harta warisan berupa tanah, rumah, sawah, ataupun uang yang berlimpah. Namun Ibunya hanya bisa menyekolahkannya saja. Harta bisa habis, tapi pendidikan tidak akan pernah habis. Ada kemungkinan bahwa bisa saja suami tidak akan sukses melalui pendidikan tapi pendidikan memberikannya harapan. Dan harapan itulah yang akan membuatnya tidak pernah berhenti berjuang.

Jumat, 30 November 2012, setahun setelah kami menikah, Ibu Mertua saya meninggal di Kuala Lumpur karena serangan jantung. Berita yang sangat mengagetkan keluarga besar kami. Padahal malam sebelumnya, Ibu Mertua saya sempat berbincang dengan Bapak Mertua. Padahal sebulan lagi beliau berencana akan pulang ke Indonesia untuk beristirahat dari kesibukannya bekerja. Padahal dua bulan lagi, beliau akan memiliki cucu pertamanya. Padahal beliau juga sudah berencana untuk menjual bisnisnya dan tidak akan berjualan lagi di Kuala Lumpur. Tapi ternyata, aah… Allah berkehendak lain. Allah sayang beliau. Allah mengijinkannya  beliau untuk pulang, tapi tidak pulang ke Indonesia melainkan pulang kembali ke Sang Pencipta.

Biarlah apa yang selama ini beliau perjuangkan di negeri orang menjadi penerang kuburnya dan sebagai salah satu jalan menuju Jannah. Semangatnya untuk memelihara pendidikan dan bersekolah sampai tinggi akan terus kami kenang dan terus kami lanjutkan. Sekarang tinggal bagaimana kami sebagai anak-anaknya mendoakannya karena salah satu amal yang tidak terputus, adalah amalan anak sholeh sehingga cucuran rahmat selalu terlimpah untuknya. In Sha Allah ini sudah menjadi jalan yang terbaik untuk Ibu Mertua sang pejuang pendidikan, Mamah Emi. Al Fatihah.

Alhamdulillah, suami saya berhasil menyelesaikan studi pasca sarjananya tahun 2010, salah satunya berkat semangat dan pengorbanan Ibu Mertua.

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” – Nelson Mandela



33 thoughts on “Perjuangan Ibu Mertua sampai ke Tanah Sebrang”

  1. Subhanallah, Ibu mertuanya pejuang pendidikan. Insya Allah Ibu mertuanya bahagia karena usahanya tidak sia-sia, anaknya sudah berhasil meraih pendidikan tinggi. Al Fatihah juga utk Ibu mertuanya ya Mak.

    Reply
  2. Subhanallah, merinding membacanya, Al fatihah buat ibu mertua mak Armita.
    Ibu memang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anaknya 🙂

    Reply
  3. Seperti bapak saya, Mak.. beliau juga pernah mengatakan hal yang serupa, bahwa beliau tak akan meninggalkan warisan berupa harta, tapi “hanya” bisa menyekolahkan anak-anaknya, hanya pendidikan yang bisa beliau perjuangkan untuk diwariskan 🙂
    Btw, semoga ibunda mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin..

    Reply
  4. duhhh saya sedih dengernya mit, juga terharu karena kerja kerasnya, merasa malu juga karena saya yng kerjanya dekat dengan keluarga masih banyak mengeluh, sungguh ibu yang hebat. salam untuk Pak Pupung ya, bilangin begini: Ibu pak Pupung ibu yang hebat, saya kagum

    Reply
  5. kok aku mewek bacanya yaaa
    udah jarang ketemu, saat terakhirnya pun tidak bisa melihat dan mengurus jasadnya
    al fatihah buat neneknya akmal

    Reply
    • Iyo As, pas suamiku datang ke Malaysia, jasadnya baru aja dikubur :(( padahal dia pingin banget yang gendong Ibunya sampai ke kubur. Suamiku telat datang, gara-gara pas beli tiket dadakan di bandara tiba-tiba sistemnya offline :((

      Reply
  6. aku juga ikut2an komen kayak yg lain ah, cuman versiku gak nanggung, alias lebih komplit.

    subhaanalloooh walhamdulillaah walaa ilaahaillallooh.. walloohuakbar!

    Sudah! Hahahaha belum ding..

    Btw suka sama design mantennya, warnanya alami banget. Coklat2 plus marron yang enak dipandang mata..

    Reply
  7. Pingback: Liburan ke Legoland Malaysia – Armita Fibriyanti

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.