Perjalanan Memiliki Rumah Pertama

Gambar Rumah Minimalis Etnik Moderen

4 September 2011

“Saya terima nikahnya Armita Fibriyanti Binti Ngadiman dengan mas kawin berupa cincin emas 4.1 gram dibayar tunai”

Saat itulah hari pertama perjalanan panjang kami dimulai. Saya (Armita Fibriyanti) 25 tahun resmi sudah menjadi istri dari Pupung P. Hasan (28 tahun). Tugas baru menanti, menjadi istri, merawat suami, membesarkan anak, menjaga harta suami, serta berbagai tugas mulia yang jika di lakukan dengan ikhlas dan benar maka bayarannya adalah surga.

Oktober 2011

Setelah menikah, kami harus hidup mandiri terpisah dari orang tua. Saya berasal dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah sedangkan suami dari Jawa Barat. Suami sudah bekerja di Bandung sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Statusnya sebagai PNS membuat kami berencana untuk tinggal di Bandung, jauh dari orang tua. Pertama-tama memang susah, apalagi kami waktu itu benar-benar tidak punya apa-apa. Selesai nikah kami belum memiliki rumah, terpaksa kami menyewa kamar di hotel setiap Sabtu dan Minggu selama sebulan pertama. Saya saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Bogor sehingga pada hari Senin-Jumat saya tinggal di sebuah rumah kost di Bogor, sementara suami masih tinggal di asrama kantornya. Sabtu – minggu kami baru bisa bertemu, kalau sudah bertemu kami sibuk mencari hotel. Seminggu pertama, kami masih bisa tinggal di hotel yang enak, segar, dan aduhai, apalagi itu saat-saat bulan madu. Jadi kami sangat menikmati setiap detik pertemuan ini. Minggu-minggu berikutnya berakhir dengan hotel yang ala kadarnya dan lumayan buat tidur dikarenakan kantong mulai menipis.

Sebulan kemudian, akhirnya kami menemukan sebuah rumah kontrakan kecil di Bandung Timur terdiri dari satu kamar tidur, dapur, ruang tamu, garasi, gudang, dan taman. Tinggal di kontrakan baru, kami belum memiliki kasur dan segala perabotan rumah tangga. Terpaksa malam pertama di kontrakan ini kami harus meminjam kasur lipat milik tetangga. Kami juga belum memiliki karpet maupun tikar, sehingga kami terpaksa duduk diatas karton/kardus bekas.

Sebenarnya rumah kontrakan tersebut sudah di pesan 1 bulan sebelum kami menikah. Tapi berhubung saya dan suami belum boleh menempati rumah itu, jadi rumah kontrakan tersebut di pakai oleh salah satu teman suami saya. Menurut teman suami saya, rumah kontrakan tersebut akan dipinjam selama sebulan saja karena keluarganya memerlukannya untuk tempat tinggal sementara karena mereka sedang merenovasi rumah. Ternyata 1 bulan tidaklah cukup bagi mereka, sehingga mereka minta perpanjangan waktu menjadi dua bulan. Yah.. bagaimana lagi, akhirnya kami [terpaksa] tinggal di hotel. Kami percaya bahwa jika kami membantu orang lain, maka pada saat yang lain kami juga akan dibantu oleh orang lain pula.

Januari 2012

Bulan-bulan selanjutnya masih merupakan masa yang indah tinggal di rumah kontrakan, apalagi masih menyandang status sebagai pengantin baru. Segalanya terasa indah. Sampai pada awal tahun 2012 (4 bulan pernikahan), kami mulai merasakan sebuah kejenuhan. Awal tahun, kami perlu melakukan sebuah resolusi baru sehingga bisa membuat hidup kami lebih baik. Rumah kontrakan kami yang terletak jauh dari jalan raya membuat kami harus menghabiskan banyak waktu untuk sampai ke tempat kerja. Pada situasi yang normal, suami saya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di kantor. Namun pada hari yang macet, suami harus menghabiskan waktu 1 jam. Belum lagi urusan banjir, air jelek, dan lokasi yang tidak strategis yang semakin membuat kami tidak betah menempati rumah kontrakan tersebut.

Awal tahun 2012, kami memutuskan untuk segera membeli sebuah rumah baru yang letaknya lebih dekat dengan kantor suami dan lebih strategis. Sebulan kami berburu mencari sebuah rumah tinggal yang cocok dengan selera dan kebutuhan kami berdua. Proses mendapatkan rumah itu tidak mudah. Seperti layaknya mendapatkan jodoh, maka keduanya harus cocok. Ada yang suami saya suka, tapi saya kurang menyukainya. Begitu pula ketika saya memilih suatu rumah, tapi suami tidak suka. Ada yang bagus, lokasi strategis, tapi mahal. Uang kami tidak cukup. Ada yang sesuai anggaran kami, tapi lokasinya di puncak bukit dan kurang strategis.

Sampai pada akhirnya kami menemukan rumah sejuk tipe 36/90 di kaki Gunung Manglayang, Bandung yang dekat dengan kantor suami, dekat dengan pintu tol Cileunyi Bandung, air yang bersih, dan kondisi lingkungan yang aman dan nyaman. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi cukup menampung segala impian kami yang besar.

7 Maret 2012

Selama kurang lebih dua bulan sejak menemukan lokasi calon rumah baru kami, kami disibukkan dengan segala urusan administrasi untuk membeli rumah baru. Ketika seluruh persyaratan sudah kami temui, maka pada 7 Maret 2012 kami melakukan akad jual-beli rumah di sebuah bank di Bandung. Rumah ini kami beli dengan cara kredit, karena memang kami belum mampu untuk membeli rumah dengan cara tunai.

Kami memang memaksakan diri untuk membeli rumah tersebut. Banyak orang yang bertanya, masih muda kok sudah membeli rumah. Apalagi status suami saya yang baru sekitar satu tahun kerja dan status saya yang masih mahasiswa rasa-rasanya mustahil bagi kami memiliki sebuah rumah pertama. Namun kami memiliki sebuah prinsip bahwa membeli rumah impian dengan lokasi yang strategis itu tidak akan pernah rugi. Jika sudah niat, maka urusan akan menjadi mudah. Dengan bantuan uang pinjaman dari bank dan orang tua kami, akhirnya kami bisa memiliki rumah atas nama kami sendiri. Apalagi niat kami juga sebagai ladang untuk berinvestasi. Nilai rumah makin lama makin naik. Benar saja dugaan kami, bahwa ternyata harga rumah di komplek yang kami tinggali saat ini harganya terus naik. Kami bersyukur bahwa keputusan membeli rumah mungil minimalis ini sudah benar.


13 April 2012                                                                                                                               

Kurang lebih sebulan sejak akad jual-beli rumah, akhirnya kami memutuskan untuk pindah dari rumah kontrakan ke rumah baru kami. Dengan dibantu beberapa rekan, kami memindahkan barang-barang kami yang tidak banyak dari rumah kontrakan menuju rumah baru kami. Setelah selesai membereskan barang-barang tersebut, kami pun mengadakan sebuah syukuran kecil agar rumah yang kami tempati menjadi rumah yang penuh berkah, dan mendatangkan kebahagiaan bagi penghuninya.

Rumah ini adalah tempat kami berkumpul disaat sedih maupun bahagia, saat susah maupun sukses. Rumah idaman yang sesuai dengan harapan kami karena proses mendapatkannya harus disesuaikan dengan kebutuhan kami berdua yaitu rumah yang lokasinya strategis, dekat dengan kantor suami (5 km), dekat dengan rumah sakit (2 km), pusat sarana pendidikan (4 km), pintu tol (2 km), dan pasar (2 km) serta sarana hiburan (4 km). Rumah ini pun bebas dari banjir dan airnya pun sangat jernih dan layak konsumsi. Keamanan terjamin karena ada satpam 24 jam yang siap membantu apabila ada hal yang tidak diinginkan. Rumah ini pun harganya terjangkau oleh kami. Benar-benar rumah yang menjadi awal harapan kami.

25 Mei 2012

Sudah seminggu saya belum mendapatkan tamu bulanan. Karena curiga, jam tiga pagi saya mencoba untuk menggunakan test pack. Berdasarkan hasil test pack tersebut, saya positif. Untuk lebih meyakinkan lagi, periksa ke klinik terdekat dan menurut bidan jaga umur bayi saya sudah 4 minggu 4 hari. Kami bersyukur karena dipercaya sebagai calon orang tua, sebuah nikmat yang kami tunggu setelah 7 bulan menikah. Menikmati rumah baru ternyata membawa berkah ya. Bagaimana tidak jadi, kondisi rumah yang kami tempati masih sejuk dan belum ramai sehingga kondusif bagi kami. Tepat 1 bulan setelah pindah ke rumah baru, kami dipercaya untuk meneruskan keturunan. Terimakasih atas segala kemudahan yang kami peroleh dari sejak menikah, proses mendapatkan rumah, sampai akhirnya kami saat ini akan menjadi calon orang tua baru. Semoga perjalanan ini penuh dengan keberkahan yang terus berlanjut.

This is it… Our First Home.. Karena yang pertama pasti istimewa..

***

 

Comments

  1. evrinasp says:

    senangnya, moga menang ya. doakan, kami baru mo pasang pondasi hehe

    1. hehhee.. iya kak, makasih yaa..
      kak ev juga lebih sering ikutan kuis nih.. kuis2nya berat-berat pula.. hehe.. semoga menang juga ya kak

      pokoknya nanti tetep update di blog + pake foto ya tiap tahapan rumahnya..

      1. evrinasp says:

        haha iya ikutan lomba soalnya seru, bikin tulisan yg hrs sesuai tema kynya menantang bgt, menang kalah belakangan, udah bisa nulis sesuai tema udah puas bgt, pasti ntar tiap tahapan mau di foto, narsis gt lho

        1. iya nih kak, aku juga pengen ikutan lagi.. alhamdulillah tesis udah boleh diperbanyak nih, jadi rada-rada lowong.. paling nyela-nyela sambil ngerjain kerjaan..

  2. evrinasp says:

    alhamdulillah tinggal d wisuda ne, ayo ikutan lg, yg KPK ikut yu, kepedulian buat memerangi korupsi n ngedukung KPK, tp aku yo durung beres2 dr kmrn, hehe keliatan ga nguasai materi

    1. iya kak, tinggal nyebarin tesis, nunggu SKL, dan wisuda. kemarin ke Bogor buat daftar wisuda..

      yg KPK rada berat jeh… aku tak berguru dulu sama suamiku ya.. hhehee.. soalnya dia ngajar korupsi di kampus..paling gak bisa dicuri ilmunya.. hihii

  3. semoga rumahnya terus membawa berkah ya 🙂

    1. amin.. makasih mba myra 🙂

  4. ariff says:

    Semoga kehidupan anda diberkati Allah. Ada ‘home stay’ ? kerana ingin ke bandung Dis. 2012

    1. Dear Arif,
      Thankyou so much for the do’a.
      Untuk informasi homestay please visit these following sites.. mungkin bisa membantu:

      http://rumahtawa.wordpress.com/ atau
      http://retanatahomestay.wordpress.com/

      Welcome to Bandung!

  5. […] udah di bawah nama sendiri, rasanya plong. Saya pernah cerita kisah di balik pembelian rumah ini disini dan […]

  6. NinG says:

    teh boleh tau nama perumahannya apa? saya lagi cari rumah sekitar cileunyi,sekarang tinggal di tanjungsari…salam kenal ya…

    1. Villa Pajajaran Permai.

  7. Ahmad says:

    salut dech mbak … diusia dini udah punya rumah sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *