Demam Berdarah Pada Anak
Health

Pengalaman Merawat Demam Berdarah Pada Anak

Deg-degan waktu anakku dinyatakan positif demam berdarah (DB) karena ini pertama kalinya aku melihat orang terdekatku terkena DB. Bagaimana pengalamanku merawat demam berdarah pada anak? Baca tulisanku sampai selesai di bawah ini ya.



Awal Mula Terkena Demam Berdarah

Aku ceritain dari awal ya gimana anakku kok bisa kena demam berdarah.

Hari pertama lebaran 24 Mei 2020, kami sekeluarga menjalankan ibadah sholah Ied. Namun karena ada pandemi COVID-19, kami memutuskan untuk sholat Idul Fitri di rumah saja. Meskipun masjid di komplek kami menyelenggarakan ibadah sholat Ied bersama di lapangan masjid, tapi demi kebaikan, akhirnya kami memutuskan sholat saja di rumah sendiri.

Selesai sholat, kami makan opor ayam yang aku bikin dadakan. Semua senang bisa lebaran dengan menu khas opor ayam. Aku gak bikin ketupat. Sebagai gantinya, aku bikin bacang ayam yang dipaksakan jadi teman makan opor ayam wekekek.

Malamnya, sekitar jam 21, anakku yang pertama (Akmal, 7 tahun) tiba-tiba tiduran di sampingku. Kebetulan aku sudah bersiap tidur.

Kaget donk kok tiba-tiba badannya panas. Aku raba tangannya, kepalanya, punggung, sampai kaki semuanya panas. Aku ambil termometer dan boom 38,5 Celcius (hari pertama panas).

Panas Naik Turun

Malam itu, aku masih berusaha tenang. Ah, besok pagi juga turun panasnya, batinku.

Namun, ternyata gak terbukti donk dugaanku. Suhu badannya justru melonjak sampai 40,3 di hari berikutnya. Berarti ini hari kedua panas ya.

Aku usaha turunin panasnya dengan minum paracetamol. Kompres badannya dengan air. Berharap suhu tubuhnya turun.

Memang turun sih. Tapi gak banyak. Suhu badan Akmal masih sekitar 38-39 C.

Di sini aku masih menunggu sehari lagi. Kalau panasnya gak turun, maka aku akan periksain dia ke dokter keesokan harinya.

Curiga Demam Berdarah Pada Anak

Di hari ke 4 demam, suamiku bawa Akmal ke dokter. Oleh dokter, memang kelihatan kalau dari raut fisiknya, Akmal kelihatan lemas. Mukanya agak merah seperti kepiting rebus. Tidak ada batuk atau pilek yang biasanya menyebabkan demam.

Oleh dokter, Akmal diresepin obat sirup penurun panas ibuprofen, antibiotik, dan satu lagi obat apa ya, aku lupa. Nanti dicek lagi obatnya, soalnya obatnya masih di rumah sakit. Ini aku nulis posisi udah di rumah.

Jika setelah minum rangkaian obat ini penurun demam ini, demam tidak kunjung turun, maka disarankan cek darah ke laboratorium dua hari kemudian.

Gejala Demam Berdarah

demam berdarah ditularkan oleh nyamuk
Gejala Demam Berdarah Yang Patut Kita Waspadai

Demam berdarah atau dengue disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pada umumnya, demam berdarah pada anak bisa dikenali dari gejala yang muncul. Gejalanya bisa berbeda-beda di tiap orang. Ini aku tuliskan aja gejala demam berdarah yang dirasakan Akmal ya.

  1. Panas tinggi selama beberapa hari sampai 40,3 Celcius.
  2. Sedirit mencret di awal-awal sakit.
  3. Mual dan muntah.
  4. Lesu dan tidak nafsu makan.
  5. Perut kembung dan agak sakit.
  6. Pusing dan kepala nyut-nyutan.

Tidak ada bintik-bintik merah di awal demam. Tapi waktu demam hari ke-6 terlihat bintik demam berdarah merah tipis dan kecil-kecil di bawah permukaan kulitnya.

Cek Laboratorium untuk Demam Berdarah

Gak sabar nunggu 2 hari, aku langsung putuskan bawa anakku untuk cek. Ini karena sehari setelah minum penurun panas dan antibiotik, demam Akmal gak kunjung turun. Kondisinya malah lemah lesu. Nafsu makan berkurang drastis. Tidak ada semangat.

Melihat kondisi seperti ini, Ibu mana yang tega.

Suami bawa Akmal ke lab terdekat dari rumah dengan berbekal surat rujukan dari dokter. Ada 4 komponen darah yang di cek: leukosit, trombosit, hematrokit dan hemoglobin. Selain itu di cek pula tes WIDAL untuk mendeteksi penyakit tifus. Biasanya, DB kan berbarengan dengan tifus.

Dari hasil tes diketahui bahwa Akmal positif DB. Diketahui dari nilai trombosit yang di bawah normal yaitu sebesar 97.000. Nilai normal trombosit 150.000 – 400.000. Nilai hematrokitnya 38% (normal laki-laki 40 – 54, perempuan 37-47). Leukosit 1.7 (normal 4.0 – 10.00). Hemoglobin normal senilai 13 (normal 12-16).

hasil cek lab demam berdarah
Hasil Cek Laboratorium Akmal Saat Kena Demam Berdarah

Anak Langsung Dirujuk Dirawat di Rumah Sakit

Melihat angka trombosit Akmal yang di bawah 100.000, maka dokter langsung menyarankan Akmal untuk di rawat untuk mendapatkan pengobatan demam berdarah yang optimal. Karena Akmal sudah masuk demam hari ke lima. Dimana biasanya demam hari ke 5-7 adalah titik kritis penderita demam berdarah. Ini adalah fase demam berdarah pada anak yang cukup berbahaya karena jika tidak terkontrol dengan baik bisa menyebabkan kematian.

Pada range waktu tersebut, suhu tubuh akan menurun, namun justru ini yang patut dipantau. Apalagi jika takut ada pendarahan seperti mimisan, keluar darah dari telinga, anus dan bagian tubuh lainnya. Yang gawat adalah apabila ada pendarahan di dalam tubuh. Ini kan gak keliatan mata, makanya perlu dipantau oleh pihak medis di rumah sakit. Kalau dirawat di rumah, takut gak terdeteksi.

Dengan pertimbangan tersebut, kami putuskan untuk merawat Akmal di rumah sakit terdekat dari rumah. Aku dan suami berbagi peran. Suami yang tungguin Akmal di rumah sakit. Sedangkan aku tungguin adik-adiknya Akmal di rumah. Makanya kami pilih rumah sakit yang terdekat saja karena kalau ada apa-apa, aku bisa cepat pergi ke RS.

Baca: Pengalaman Merawat Anak yang Terkena Cacar Air

Perawatan Demam Berdarah Selama di Rumah Sakit

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Armita Fibriyanti |Mom Blogger (@armitafibri) pada

Saat dokter menyarankan agar Akmal di rawat di rumah sakit, aku sudah siap. Apalagi lihat record trombosit Akmal yang sempat drop ke angka 58.000 pada hari ke 6. Untunglah Akmal sudah di rawat di rumah sakit. Jadi kalau ada kejadiaan yang membahayakan seperti kejang, panas tinggi, pendarahan (di kulit, mimisan, telinga, lubang dubur, dll), keringat dingin, Insya Allah anak sudah berada di lokasi yang tepat. Kalau ada apa-apa, aku bisa langsung panggil suster.

Akmal dirawat selama 3 hari. Selama di rawat di rumah sakit, dia selalu diinfus untuk menjaga supaya Akmal gak dehidrasi. Aku gak tau total dia habis berapa infus.

Nafsu makan buruk. Makanan dari rumah sakit cuma dimakan sesendok aja. Snack pun gak dia makan sama sekali. Aku aja yang ngehabisin makanannya. Sayang euy udah dibayar kalau gak dimakan. Ibu juga butuh asupan makanan bergizi kan.

Menu makanan untuk pasien demam berdarah selama di rumah sakit menurutku bagus. Karena ada tipes, Akmal gak boleh makan buah dan sayur dulu. Jadi selama di rumah sakit, menu makannya adalah nasi lembek dan double protein seperti tahu, ayam kecap, rolade daging, tempe bacem dsb.

Apakah Demam Berdarah Ditanggung BPJS?

Keluarga kami ikut asuransi kesehatan yang diselenggarakan BPJS. Kami ambil kelas 1. Kebetulan suami adalah ASN.

Waktu kami mau masukin Akmal ke rumah sakit, aku sempat tanya dulu ke dokter yang merujuk Akmal untuk rawat inap. Apakah rumah sakit yang kami tuju (RS AMC Cileunyi Bandung) menerima BPJS terutama untuk pasien DB?

Untunglah RS rujukan ini menerima pasien BPJS. Karena kami sudah punya hasil lab, kami tidak perlu surat rujukan dari faskes pertama. Cukup surat rujukan dari dokter yang memeriksa Akmal saja. Kami disarankan langsung masuk IGD saja sambil menunjukkan surat rujukan dokter, hasil lab, fotokopi kartu keluarga (KK) dan kartu BPJS.

Biaya perawatan demam berdarah di rumah sakit selama 3 hari ditanggung sepenuhnya oleh BPJS. Kami tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Kecuali biaya periksa dokter di awal (sebelum masuk RS), dan biaya cek lab mandiri sebesar 250 ribu.

Aku sempat hitung-hitungan sama suami, jika tidak dicover BPJS, biaya yang kami keluarkan sekitar Rp 5 jutaan untuk 3 hari rawat inap. Biaya ini meliputi biaya kamar, visit dokter, perawat, dan obat-obatan. Untunglah ada BPJS, jadi beban kami tidak terlalu berat.

Tapi walaupun biaya sakit demam berdarah ditanggung BPJS, kami maunya sehat. Tidak mau sakit.

Baca: Pengalaman Sunat Anak dengan Metode Manual

Perlukah Rapid Test dan Swab Test Untuk Pasien Demam Berdarah?

Punya anak sakit pas lagi pandemi COVID-19 seperti ini ngeri-ngeri sedap ya. Mau berobat ke rumah sakit aja mikirnya seribu kali. Kalau gak kepaksa dan darurat banget, males deh ke RS. Mending pilih dokter praktik swasta atau klinik dekat rumah ya.

Bayangin semua petugas di RS rapih pakai APD, masker, face shield dan segala macamnya. RS yang jauh lebih sepi dari pada hari biasa.

Tapi kalau kondisi darurat seperti saat anak kami kena DB, mau gak mau anak harus di rawat di RS. Demi menghindari hal yang tidak-tidak.

Waktu aku posting di Instagram, kalau Akmal dirawat di RS karena dengue, ada yang nanya, apakah perlu rapid test dan swab test untuk pasies demam berdarah? Pengalaman kami kemarin, tidak. Akmal sudah mengantongi hasil lab bahwa dia positif DB. Selain itu, tidak ada gejala yang mengarah ke tanda-tanda positif kena corona virus. Kami juga tidak kemana-mana selama 3 bulan terakhir. Selalu di rumah saja.

Obat Demam Berdarah untuk Anak

Sucralfate obat apa
Obat saat Akmal dirawat di RS karena demam berdarah dan typus.

Ada banyak rekan dan saudara yang menyarankan berbagai macam obat demam berdarah untuk anak. Dari mulai sari angkak, obat cina, madu anak, sari kurma, sayur dan buah-buahan yang berwarna merah, sampai cacing segala juga ada.

Baca: Review Madu Anak Gizidat

Aku sendiri sebagai Ibu lebih selektif sih memberikan obat buat Akmal. Tidak semua aku turuti. Tapi aku iyakan. Takut menyinggung perasaan mereka yang sudah bersimpati dengan keadaan Akmal.

Pada akhirnya, aku hanya memberikan sari kurma dan madu untuk anak. Sebagai obat sekaligus nutrisi. Belinya juga di minimarket dekat rumah. Yang dekat dan terjangkau saja.

Aku order juga sari angkak di salah satu marketplace. Sari angkak ini mengandung sari jambu merah dan propolis yang dikenal bisa cepat menaikkan trombosit. Tapi sayang ternyata sampai Akmal sembuh, sari angkaknya belum keminum karena kan Akmal juga kena tipes. Akmal dilarang mengonsumsi buah-buahan sampai tipesnya sembuh betul.

Obat cina banyak banget yang nyaranin. Sampai ada yang kasih link toko yang jual obat cina di Bandung. Tapi aku gak beli karena jujur aku masih ragu dengan kandungannya. Tulisannya kan cina semua. Aku gak bisa bacanya. Ragu juga apakah obat cina ini halal atau tidak.

Ditambah dengan obat sirup Sucralfate dan infus yang dikasih dari rumah sakit, di hari ke tujuh, nilai trombosit Akmal mulai naik. Dia akhirnya diperbolehkan pulang setelah 3 hari rawat inap.

Duh leganya. Terlihat raut muka Akmal yang sumringah boleh pulang. Maklumlah, dia bosan banget di RS. Tiap hari tanya kapan boleh pulang ke rumah.

Jika Anak Terkena Demam Berdarah, Harus Bagaimana?

Pertama, tenang. Jangan panik. Kalau kita orang tua tenang, pasti kita bisa berpikir jernih. Orang tua tenang, anak pasti ikut tenang.

Gejala awal demam berdarah adalah panas tinggi yang tidak turun-turun. Pertolongan pertama demam berdarah pada anak yang bisa kita lakukan di rumah adalah menjaga anak agar tidak dehidrasi. Banyak minum air putih. Akmal minum obat penurun panas yang mengandung paracetamol. Setelah minum obat, biasanya panas akan turun. Tapi kemudian panasnya naik lagi.

Jika keadaannya seperti ini, kompres anak dengan menggunakan air hangat di lipatan-lipatan tubuh seperti ketek dan paha. Cara mengompres anak bisa juga dengan membasuh atau menyeka seluruh bagian tubuh anak supaya pori-pori kulitnya terbuka dan hilang panas tubuhnya.

Selain gejala demam berdarah pada anak yang bisa dideteksi dari luar, demam berdarah harus diperiksa juga lewat laboratorium dengan cara cek darah. Segera bawa anak ke lab terdekat ya teman-teman jika anak sudah menunjukkan gejala demam berdarah. Jangan tunggu sampai parah karena bisa membahayakan nyawa anak.

Baca: Pengalaman Merawat Anak yang Mengalami Patah Tulang

Apakah Demam Berdarah Bisa Berulang?

Bisa, tetanggaku mengalaminya. Demam berdarah pertama, dia di rawat 10 hari di rumah sakit karena memang agak parah kondisinya.

Sekitar 4 tahun kemudian, dia kena lagi demam berdarah. Dia udah tau gejala demam berdarah dari pengalaman demam berdarah pertama, makanya sudah lebih waspada. Demam berdarah yang kedua, dia hanya dirawat selama 4 hari saja di rumah sakit.

Jika sudah pernah kena demam berdarah, bukan berarti pasien akan kebal terhadap serangan demam berdarah lagi di waktu yang akan darang. Karena pasien demam berdarah bisa terkena demam berdarah lagi, maka sebaiknya tetap berhati-hati ya.

Pencegahan DBD

demam berdarah pada anak
Yuk, Cegah Demam Berdarah!

Ohya, saat Akmal dirawat di RS karena demam berdarah, tetangga-tetanggaku juga terjangkit penyakit yang sama. Total ada 5 pasien demam berdarah di blok kami. Korban berjatuhan dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

Sudah pernah terkena DBD, tentu saja gak mau terulang lagi donk. Setelah kejadian mewabahnya demam berdarah ditularkan oleh nyamuk di komplek kami, fogging segera dilakukan untuk mematikan nyamuk dewasa sebagai vektor pembawa virus DBD.

Selain dengan fogging, pencegahan DBD juga bisa kita lakukan secara mandiri di rumah. Ini yang bisa kita lakukan ya temans:

  1. Kubur kaleng-kaleng bekas supaya gak jadi tempat genangan air bersih. Soalnya nyamuk Aides demen banget di air bersih.
  2. Kuras bak mandi dan bersihkan dindingnya. Soalnya telur nyamuk suka menempel di bagian dinding bak mandi.
  3. Rajin buang air penampung di dispenser.
  4. Jangan lupa juga buang air di alas pot tanaman.
  5. Tidak menggantung pakaian karena biasanya nyamuk Aides akan istirahat dengan cara bersembunyi di balik baju atau gorden.
  6. Tidak tidur di pagi dan sore hari karena nyamuk Aides pembawa vektor DB ini aktif menggigit di pagi dan sore hari.
  7. Kenakan baju dan celana lengan panjang jika ingin bepergian ke luar rumah.
  8. Pakai obat nyamuk.

Ya udah deh teman itu aja ya cerita pengalamanku merawat anak saat terkena demam berdarah. Gak terasa 2000 kata curhat tentang DB. Hahaha, panjang banget ya kalau nulis curhat mah.

Semoga bermanfaat buat teman-teman yang bingung menghadapi anaknya sakit demam berdarah. Jaga kesehatan dan kebersihan ya teman-temanku. Saat ini kita tidak hanya menghadapi virus corona saja tapi demam berdarah pun merajalela.

Semangat!



8 Komentar

  • Jiah Al Jafara

    Keponakanku kena DB waktu Ramadan. Alhamdulillah gak sampai nginep di RS. Rawat jalan saja. Angka DB juga masih lumayan banyak. Jadi musti hati-hati juga. Jaga kebersihan dan kesehatan

  • Bibi Titi Teliti

    Wah, situasi pandemi kayak gini anak terkena demam berdarah pastinya merasa khawatir banget yah.
    Memang di situasi seperti itu kita gak boleh panik dan harus tetap tenang yah.
    Semoga sehat-sehat terus yah dek Akmal

  • Rani R Tyas

    Aku suka ngeri juga kalau anak panas nggak turun-turun. Udah panik aja hawanya. Padahal kuncinya jadi orang tua itu jangan panik supaya bisa berpikir jenih. Sehat terus ya Kakak Akmal.

  • lianny hendrawati

    Sukurlah ya sudah sehat kembali. Duh pasti cemas anak kena DBD apalagi saat pandemi sekarang ini. Jadi ingat dulu anakku waktu SMP juga kena DBD, baru ketahuan saat trombosit sekitar 28.000 hiks. Syukurlah setelah dirawat bbrp hari di RS, akhirnya sembuh kembali.

  • Suciarti Wahyuningtyas

    Orang dewasa saja kena demam berdarah gak enaknya minta ampun, aku kasihan kalau lihat anak-anak dbd. Soalnya aku pernah dbd bersamaan dengan suami, tapi karena daya tahan tubuh kami berbeda aku lebih bagus dan kuat kalau kata dokter jadi lebih cepat naik trombositnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.