Menyambut Kelahiran Akmal (2)

sehari sebelum melahirkan

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai proses kelahiran Akmal.

17 Januari 2013 18.30 (39w1d)

Ini sudah masuk trimester akhir dimana jadwal periksa mingguan diperlukan setelah kehamilan masuk 37 minggu. Sore-sore saya dan suami meluncur ke RS langganan untuk memeriksakan kondisi janin. Berdasarkan hasil pemeriksaan CTG & USG:

  • janin dalam kondisi sejahtera,
  • detak jantung normal,
  • indeks ketuban masih di atas 5,
  • bbj perkiraan 2.9 kg,
  • posisi baik, tidak ada lilitan tali pusat
  • sudah masuk panggul,
  • bahkan sudah pembukaan 2 dengan kondisi mulut rahim sudah melunak.

Pas tau udah pembukaan 2, saya tiba-tiba langsung deg-degan. Waduh kok cepet amat sudah pembukaan 2. Kalau lancar sehari berikutnya bayi sudah bisa dilahirkan.

Menurut prediksi, si janin lahirnya 24 Januari 2013, pas 40w. Itu artinya 12 Robiul Awal, bulan lahir Rosul. Kalau lahir esok hari, gak jadi donk ya punya tanggal lahir yang sama dengan Rosul?

*Masih shock sambing bengong liatin suami*

Dokternya juga bingung, kok bisa pembukaan 2 gak kerasa apa-apa. Malah masih bisa senyum-senyum.

“Saya juga heran dok, mungkin gara-gara alam bawah sadar saya ya dok”

“Emang kenapa alam bawah sadarnya?” tanya si Bu Dokter cantik

“Hehehe.. kata alam bawah sadar saya.. melahirkan itu nikmat, nagih, dan gak sakit dok. Setiap pembukaan berasa seperti makan es krim yang sedikit lumer. Enak dan cepet berlalunya” kata saya masih sambil cengar-cengir.

Melihat saya masih cengar-cengir, dokter suruh saya pulang dulu. Kalau nanti ada tanda-tanda ketuban pecah, flek darah, pinggang panas dan pegal berasa mau melahirkan, dan kontraksi sudah intens, segera telpon dokter cantik ini. Jangan SMS, takut dokternya tidur dan gak bisa langsung cepat tanggap.

Ohya, sebelum pulang, saya masih sempet nanyain ke dokternya tentang rasanya kontraksi. Doenggg..udah pembukaan 2 belum tau kontraksi? Kamana wae neng geulis??

Jadi, kontraksi itu, ketika perut terasa mengencang seperti punggung tangan dan pinggang rasanya panas pegel.

Hoow, gitu ya dok, oke dok. Saya pulang dengan bekal pikiran pembukaan 2 dan PR dari dokter supaya suami berpartisipasi aktif melancarkan pembukaan jalan lahir buat si janin.

18 Januari 2013. Tengah malam (39w2d)

“Mas, bangun mas…”

Yang disuruh bangun, masih tidur..

“Maass.. banguun.. aku gak bisa tidur. Pinggang panas pegel. Tolong pijetin” sambil goyang-goyang badan suami..

Yang disuruh mijetin, sudah bangun. Pencet-pencet pinggang sambil merem.

18 Januari 2013. 07.15

Nganter suami berangkat kerja ke depan rumah. Suami pesan kalau kontraksi sudah intens 10 menit sekali atau sudah ada tanda melahirkan yang lain, harus secepatnya telpon.

Suami berangkat, saya sibuk cari bolpen, kertas, dan HP. Bolpen dan kertas buat mencatat intensitas kontraksi, HP buat dijadikan stopwatch. Rasanya kok gak praktis, ya terus saya cari-cari aplikasi di android yang bisa ngitung intensitas kontraksi. Saya nemu ini dan ini. Good! Pekerjaan menghitung kontraksi jadi mudah.

Kemudian setiap jam suami telpon nanyain gimana udah berapa menit sekali kontraksinya. Saya tenang dan menjawab bahwa janin masih aman terkendali dan masih betah di dalam. Sedang cari jalan lahir.

18 Januari 2013. 17.00

Suami pulang kerja, khawatir liat saya yang sudah nungging-nungging macam kuda lumping. Saya masih tenang dengan posisi nungging sambil terus berusaha goyang pinggul. Membantu janin mencari jalan lahirnya.

“Mau di bawa kemana mas tas-tas itu?”

“Ya di bawa ke bidan, kan kamu udah mau melahirkan?!”

Secepat itukah?

Saya masih coba bertahan selama mungkin dirumah. Bahkan saya juga belum menghubungi orang tua saya.

18 Januari 2013 18.00

Sudah 9 bulan tidak melihat ada bercak darah, begitu lihat ada tetesan darah di pentiliner saya yakin bahwa itu adalah darah tanda cinta dari si janin. Saya masih diam dan tidak langsung memberitahu suami. Saya justru menelpon adik saya, meminta bantuannya untuk mengabari orang tua.

Begitu selesai mandi sore dan sudah cantik, saya baru kasih tau suami kalau sudah ada bercak darah.

“Ayoo cepat dek, bergegas ambil tasnya kita ke Bidan Siti sekarang”

“Tapi kita belum sholat magrib Mas”. Saya masih beralasan untuk menunda keberangkatan

“Sudahlah, kita sholat magrib di sana saja. Ini darurat!” Suami makin panik

Tas sudah di cangklong. Hati sudah bulat. Mama sudah di telpon. Suami sudah siap dengan motornya. Bidan Siti sudah di SMS.

“Tante Mita mau kemana kok bawa-bawa tas magrib-magrib?” Tetangga rumah menyapa

“Saya mau melahirkan, ini sudah keluar darahnya”

“Haghh.. naik motor????” pasang muka heran

“Iya” sambil nyengir kuda.

Dua puluh menit perjalanan dari rumah di Cileunyi ke BPS Cinta Bunda di daerah Cibiru. Magrib rada macet plus jalan yang bukan rusak lagi, tapi hancur, membuat perut saya yang sudah peyang menjadi lebih peyang. Gak papa, ini salah satu cara membantu janin membukakan jalan lahir. Semakin banyak goncangan semakin mudah turun si bayi ke jalan lahir.

Tips ini jangan di tiru ya. Kalau punya dana lebih mendingan naik taksi saja. Kalau punya mobil ya pakailah mobil itu. Saya pakai motor karena adanya cuma motor. Ada sepeda gunung, tapi gak  mungkin kan naik sepeda gunung berdua.

19.30

Sampai BPS-CB, Bidan Siti belum ada. Beliau masih otw menuju ke klinik. Sambil nunggu, saya dan suami sholat berjamaah, minta dimudahkan proses bertemu anak pertama.

Bidan Siti datang, langsung di periksa. Ternyata sudah pembukaan 4.

Disuruh untuk tetap tinggal di klinik, kalau lancar 4-5 jam lagi sudah lahiran. Perkiraan jam 01 dini hari kami sudah bisa bertemu dengan si kecil.

Untuk melancarkan pembukaan, saya jalan bolak-balik muterin klinik. Sesekali keluar liat kegelapan malam, gugusan bintang, lampu-lampu di Gunung Manglayang, dan Stadion Gedebage juga bisa terlihat.

23.00

Masih pembukaan 6. Saya masih bolak-balik muterin klinik. Nungging, duduk, tiduran miring, tiduran terlentang. Sudah segala posisi di coba. Cuma kayang dan tengkurep yang belum di coba.  Tidur gak bisa. Pinggang rasanya panas pegel. Selangkangan rasanya nyut-nyuttan.

Ya Allah.. saya cuma tidur. Ijinkan saya tidur barang sejenak. Saya ngantuukk sekali. Apadaya si janin ngajak kencan, saya pun menahan kantuk dengan memaksa mata untuk tetap terbuka.

Suami gimana?

Masih setia nemenin saya. Masih juga telaten mijitin pinggang saya sambil terus ngasih sugesti positif. Dia pun ngikutin kemana pun saya pergi. Saya minta gantian tidur gak mau. Saya juga heran, ngapain dia ngintilin saya kemana-mana. Panik? Mungkin iya.

Asisten bidan nyiapin air panas dan kolam karena saya berencana waterbirth. CD murotal, Quran, lilin, wewangian juga sudah rapih siap digunakan.

Mama baru saja berangkat dari rumah rencana naik kereta Malabar jam 00.00 dari Stasiun Kutoarjo. Kalau jam segini Mama baru berangkat dari rumah, ada kemungkinan saya melahirkan hanya di temani suami dan bidan. Diperkirakan Mama sampai Bandung pukul 07.00

19 Januari 2013 – 01.00

“Bu Bidan, saya sudah boleh nyemplung ke bak belum? Saya kok rasanya pengen segera di hipnotis biar agak enakan Bu..”

“Sebentar ya.. sedang kita siapin”

Saya ngebanyangin kalau sudah di dalam bak air hangat pasti enak sekali. Nyaman.

Dan betul, begitu saya masuk ke dalam bak, rasa pegal dan panas di pinggang rasanya berkurang. Keinginan saya untuk tidur bisa terlaksana. Tidur di air hangat yang nyaman sambil di peluk suami. Kapan lagi.

Saya masih tertidur. Terdengar Bidan Siti menghipnotis saya dengan suaranya yang lembut, meminta saya untuk membayangkan bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan bayi mungil yang mengagumkan. Proses kehamilan yang menyenangkan dan proses melahirkan yang mudah.

Suasana di kamar bersalin remang-remang dengan 4 lilin sebagai sumber cahaya. Alunan murotal berselang seling dengan suara indah Bidan Siti membacakan ayat suci Al Quran. Suami pun mengiringi doa dari Bidan Siti. Air kolam yang terjaga kehangatannya dan kamar bersalin yang bersih jauh dari wangi karbol.

Saya merasakan pijatan lembut Bidan Siti di pundak dan pinggang saya. Bergantian dengan tangan kekar suami.  Proses penghipnotisan ini berhasil meredam sakit selama proses pembukaan jalan lahir.

02.00

Bu, sudah pembukaan 10 belum? Saya sudah boleh mengejan belum?”

“Belum Bu, masih 9. Sebentar lagi ya. Kalau sekarang mengejan, takutnya nanti ada pembengkakan”

“Tapi saya pengen ngejan Bu.. saya rasanya mau ee*..”

Gulang sana, guling sini. Jongkok, nungging, setengah duduk, berbaring. Segala macam posisi.

“Bu Bidaaan… saya maaauuu ee*”

“Iya bu.. boleh.. ini sudah pembukaan 10. Ibu boleh ngeden ya kalau pas lagi kontraksi. Insya Allah 3-4 kali ngeden adik bayinya sudah keluar”

“Eeeggghhhh…Eeeghhhh…Egghhh…” Masih berada di dalam bathtub, saya mengejan, berusaha sekuat tenaga membantu si janin keluar dari rahim

“Yang kuat Bu nafasnya..tarik nafas panjang dari hidung.. keluarkan seperti sudah lama gak ee* yaa..”

“Eeeegggrrhhhrrhhh…”

02.10

“Kepala adik bayi sudah keliatan Bu..ayo mengejan lagi ya Bu, yang kuat. Ni Pak lihat ya, kepala adik bayi sudah keliatan sekitar 3 cm”

Suami langsung bersemangat lihat calon anaknya. Sambil terus memotivasi saya untuk mengejan lebih kuat.

02.20

“Bu, udah berapa cm kepala adiknya?”

“Sudah 4 cm, sudah nambah sedikit. Ayo Bu.. dorong lagi adiknya yang kuat ya”

“Bu, sudah kelihatan rambutnya belum?”

“Sedikit. Sepertinya adiknya gedhe Bu. Tambah lagi ya tenaganya”

Suami saya langsung gerak cepat ambil teh manis buat penambah tenaga.

03.00

Saya masih mengejan sekuat tenaga. Sayang nafas saya pendek-pendek jadi si adik bayi gak maju-maju. Kadang saya juga mengejan tidak berbarengan dengan kontraksi sehingga tenaga saya terkuras. Hilang harapan melahirkan tanpa mengejan. Hilang juga harapan melahirkan dengan bayi masih terbungkus selaput ketuban.

Hampir sejam saya berjuang mengeluarkan adik bayi. Saya masih kuat mengejan. Suami juga masih di dalam ruang bersalin memegang pundak saya, menghujani saya dengan sejuta kecupan, memeluk saya. Jika tenaga bisa ditransfer, mungkin saat itu suami akan segera mengtransfer tenaganya melalui pelukan, karena dia melihat saya sudah semakin lelah.

03.15

Mendengar Bu Bidan mengatakan bahwa kepala adik bayi masih 5 cm saya semakin lemas. Ini sudah lebih dari satu jam dari sejak pembukaan 10. Adik bayi masih betah di dalam.

Ada apa?

Pikiran saya berkecamuk.

Saya sudah lebih dari 30 kali mengejan, bayi belum keluar juga. Apa karena nafas saya pendek-pendek? Kata Bidan, 3-4 kali mengejan bayi sudah keluar.

Baiklah, saya akan mencoba memperbaiki teknik mengejan saya.

03.30

“Bu, masih 5 cm. Belum ada kemajuan. Adik bayi sepertinya besar, sudah kita upayakan tapi tidak mau maju. Bapak mungkin bisa keluar sebentar ya, Bapak berdoa untuk keselamatan Ibu..”

“Mas, tolong telponin Mama. Tolong minta doanya ya dan tolong bilang ke Mama untuk maafin semua kesalahanku ya Mas..”

Saya berada di titik terendah. Lemas dan mengantuk.

“Bu Bidan, saya capek sekali.. saya mau tidur saja Bu..”

“Ayo Bu, semangat lagi, kasian adik bayinya. Ibu tahan sebentar ya kantuknya. Ayo sekarang kita mulai lagi ya..”

“Eeerrggghhhh……………..” Saya kembali mengejan entah yang ke berapa puluh kali.

04.00

Suami datang kembali dan saya masih berada di dalam bathtub. Masih dengan adik bayi yang terperangkap di jalan lahir.

Saya minta di peluk suami. Saya pasrah sama Gusti Allah apapun yang terjadi saat itu. Saya minta maaf atas semua perilaku yang mungkin kurang berkenan di hati suami. Sempat terpikir bahkan ini mungkin akhir hidup saya.  Saya minta diikhlaskan.

“Mas.. aku udah gak kuat lagi Masss..”

Nak, semoga kamu tetap memilih kami sebagai orang tuamu. Percayakan masa depanmu kepada kami..Ayo bantu Ibu Nak, bantu Ibu dengan mendorong dirimu sendiri sehingga kita bisa bertemu..

04.10

“Bu, kita coba naik ke kasur ya? Mungkin lebih mudah jika kita melakukannya di kasur.” Kata Bidan Siti sambil memeriksa detak jantung janin.

What?! Di kasur? Berarti saya harus melangkah dari bathtub ke kasur persalinan dengan kepala bayi sudah menyembul keluar kontal-kantil?

Sebentar-sebentar..

“Kita coba sebentar di dalam air ya Bu Bidan. Saya mau mengejan kuat-kuat sekarang” Saya masih bersikukuh melahirkan di dalam air karena tidak bisa membayangkan membawa bayi dengan kepala yang sudah sedikit keluar dari jalan lahir.

04.25

Lima belas menit di coba bertahan di dalam air. Belum ada kemajuan.

Saya menerima tawaran Bidan Siti untuk naik ke kasur. Dengan bantuan suami, Bidan Siti, dan satu asisten bidan, saya pindah dari bathtub ke kasur.

Bisa dibayangkan kan, saya harus mengatur nafas, menunggu saat tidak kontraksi, mengatur langkah sambil mengangkat badan membawa diri dan adik bayi ke kasur persalinan.

04.35

Di kasur, saya kembali mengatur nafas dan mengejan. Suami sibuk memeluk saya dan terus memberi semangat.

“Dorong yang kuat Bu, lingkaran kepala adik sudah terlihat penuh”

“Eeeggggrrggghhh……eeegrrggggghhh…”

“Ayoo Bu, sedikit lagi..sedikit lagi kita bisa bertemu.. nafas panjang ya Bu”

04.45

“Bu Bidan, saya lapar, saya haus, saya ngantuk sekali”

Segelas teh hangat kembali membasahi tenggorakanku. Tiba-tiba melalui segelas teh hangat, saya kembali memiliki tenaga untuk mendorong adik bayi keluar.

“Aarrggghhhh……..” Entah kekuatan dari mana, saya berhasil menarik nafas panjang dan meluncurlah jagoan kecil kami.

“Pak Bu, ternyata adiknya besar, ada beberapa lilitan tali pusat dileher dan punggungnya. Tangannya juga terlilit tali pusat dengan posisi tangan kanan seperti memegang telinga kanan dan di lilit tali pusat. Seperti membawa ransel. Mungkin ini yang menyebabkan adik bayi susah lahirnya. Tapi kita berhasil melewatinya. Selamat ya Pak, Bu..”

Dan kecupan-kecupan hangat terus mendarat di dahi. Kecupan hangat dari suami tercinta.

Nak, Ibu berjuang 3 jam sejak pembukaan 10 untuk bertemu denganmu. 35 jam sejak pembukaan 2. Semuanya terbayar lunas begitu kamu diletakkan di dada Ibu untuk IMD.

Ternyata dirimu memilih untuk lahir sesaat setelah adzan subuh di hari Sabtu, 19 Januari 2013/7 Robiul Awal. Kamu juga tidak suka dengan pilihan Ibu untuk melahirkan di air. Ternyata kasur lebih nikmat untukmu.

Ibu bahagia sekali begitu Ayahmu mengatakan bahwa semua organmu lengkap, tidak ada kurang suatu apapun. Terimakasih sudah memilih kami menjadi orang tuamu.

05.00

Baru sekitar 15 menit IMD, nafasmu terengah-engah, kamu terus menangis di dada Ibu padahal Ibu sudah memelukmu. Tubuhmu pun membiru tidak seperti bayi lain yang warnanya merah. Bu Bidan bilang, kamu kesulitan bernafas dan harus segera di beri bantuan oksigen. Kamu pun diangkat dari dada Ibu.

Ya Allah..saya belum puas IMD.

Ada apa pula dengan bayi mungil saya?

[Bersambung]

Comments

  1. Etha says:

    baca nya smp pd dleweran say…

    1. hihihi.. aku nulisnya juga deg-degan tha 😀

  2. Tyas says:

    terharu mba bacanya..

  3. Dattu Ifah says:

    Subhanallah mita..bacanya kebayang situasinya..jd trharu..pake nangis pulak,hehe

    1. Hai Ifah. apa kabar?
      hehee… sedia tissue atuh 🙂
      lagi sibuk apa nih fah?

  4. Fascha says:

    pengen merasakan perjuangan itu suatu hari nanti, semua perjuangan yang terbayar dengan sangat berharga yah 🙂
    salam kenal 🙂

    1. insya allah suatu saat nanti ada jalannya ya mba
      salam kenal juga

      1. Fascha says:

        amin 🙂

  5. Amy says:

    Subhannallah perjuangannya…selamat ya bun..
    Boleh minta alamat lengkap Bidan Siti?saya lagi cari tempat lahiran yg dkt rumah juga..salam kenal bun 🙂

    1. Terimakasih Bunda Amy… Alamat tempat praktek Bidan Siti ada di dekat UPI Cibiru, Bandung…
      Tempat tinggal di mana Bunda?
      Salam kenal balik ya

  6. keri says:

    Selamat ya bun, terharu bacanya..:)
    btw tempat praktek bidan siti ada nomer teleponya? tertarik untuk melahirkan di sana juga jadinya
    tx 🙂

    1. terimakasih.. ada telponnya.. nanti saya email ya. skrg HPnya lagi mati batre, nanti insya alllah sy emailkan.

  7. Vera says:

    mbak waktu itu biaya persalinan waterbrith di BPS Cinta Bunda berapa yah mbak?

  8. […] proses melahirkan anak pertama saya, Akmal Albyaksa Hasan (baca Menyambut Kelahiran Akmal 1 dan Menyambut Kelahiran Akmal 2). Saya sempat mengalami pendarahan sehingga saya kehilangan banyak darah. Menurut Ibu Bidan yang […]

  9. Ini inspiring banget huhuhuuu…
    terharuuu biruu aku bacanya

    1. Hehehe… semangat ah Gusti.. Btw aku blm selesai nulis cerita kelahiran Akmal eh udah lahir lagi adiknya..

  10. […] Menyambut Kelahiran Akmal (2) […]

  11. nufazee says:

    Mak, saya bacanya jadi ikut tarik nafas buang nafas nih haha

    Doakan ya Mak persalinan pertamaku lancar, Aamiin ^o^

    1. Aamiin… udah brp week mak kandungannya?

      1. nufazee says:

        31 weeks Maks ^o^ Alhamdulillah

  12. icha says:

    Perjuangan seorang ibu luar biasa.. Saya terinspirasi dari tulisan ini..
    Salam kenal 🙂

    1. Salam kenal kembali Mba Icha.

  13. Aamiin..semoga dimudahkan ya Bu.

  14. […] saya, bagaimana proses melahirkan anak pertama saya, Akmal (baca Menyambut Kelahiran Akmal 1 dan Menyambut Kelahiran Akmal 2). Saya sempat mengalami pendarahan sehingga saya kehilangan banyak darah. Menurut Ibu Bidan yang […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *